Chapter Text
Mau dipikirkan bagaimanapun juga, Youngjae tetap tak memahami ini semua. Jika hanya Junghwan yang terlibat dalam panggung sandiwara ini, mungkin sedikit lebihnya Youngjae memahaminya, tetapi dari semua orang yang Youngjae kenal, Dohoon, orang yang paling tidak Youngjae harapkan muncul di tempat ini. Bahkan disebut sandiwara pun Youngjae tak yakin, Junghwan tidak pernah berpura-pura—itulah yang dia katakan. Youngjae justru menganggap ini sebagai kesalahannya sebab ia keliru mengenali Junghwan lebih jauh. Ah, tapi Junghwan pernah membohonginya soal ia yang memburu satanisme. Sungguh, Youngjae tak tahu lagi kemana ia harus berpikir dan mana yang harus ia percayai.
Lalu Dohoon, jelas sekali ia telah dibohongi oleh teman dekatnya itu. Dibohongi? Ataukah ini semua karena ketidaktahuanku tentang dia yang berhubungan dengan Noctis? Dia tidak pernah menutupi pengetahuannya tentang ini semua, aku yang tidak mencaritahu darimana datangnya pengetahuan yang dia miliki. Aku... lengah.
Bagi Youngjae, mengakui bahwa ia telah ditipu adalah suatu ketidakmungkinan yang membuat harga dirinya sebagai orang kepercayaan raja jatuh. Ia tidak sudi mengakui bahwa ia kalah dan dua orang di depannya ini satu langkah lebih maju dibanding dirinya. Selama ini, raja selalu memanggilnya anak yang terampil, selama ini Youngjae tak pernah menurunkan kewaspadaannya, selama ini—
Apa ini?
Aku...
kalah.
Sejak awal.
"Ku ulangi, aku tak ingin bermusuhan denganmu dan sejak awal, aku tidak pernah menganggapmu bodoh karena tertipu." Seperti yang Dohoon katakan soal Youngjae, Junghwan akhirnya menemukan sendiri bagaimana bentuk Youngjae ketika ia tersandung kala sedang gencar-gencarnya mengejar puncak. Pemuda itu larut bertengkar dengan pikirannya sendiri. Ia tampak terpukul dan bisa jadi apa yang sejak tadi Junghwan katakan tak didengar olehnya.
"Youngjae, maaf karena aku tidak pernah memberitahumu, tapi aku sungguh tak bermaksud untuk menipumu. Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Bukankah aku membantumu dalam pencarianmu? Aku bahkan tidak memberitahu Shin apa-apa tentang ini."
Diamlah, Kim Dohoon. Aku tidak akan pernah mengampunimu.
Mereka membuatnya tampak macam orang bodoh yang pergi kesana-kemari sambil tersenyum dan berpikir dirinya berada di langkah yang tepat, tanpa tahu kaki dan tangannya telah dikendalikan oleh benang tipis yang dimainkan oleh seorang dalang. Mereka membuatnya merasa seolah ia adalah marionette yang sedang dipentaskan dalam sebuah panggung pertunjukkan berbentuk akuarium dan orang-orang yang menontonnya tertawa karena ia sangatlah bodoh sebab mudah sekali diperdaya. Youngjae benci berpikir bahwa dirinya adalah marionette dan Junghwan adalah marionettist.
Berpikirlah rasional.
Meskipun saat ini emosi lebih mendominasi, Youngjae menolak untuk menjadi dirinya yang berpikir segalanya adalah benda mati, termasuk dirinya yang selama ini dianggap sebatas benda yang dapat dimanfaatkan sesuka hati.
Aku bukanlah benda.
Memang sulit menerima kejatuhannya saat ini, tetapi Youngjae sendiri enggan menarik kesimpulan yang bersifat sumbu pendek. Ia telah belajar untuk mempertimbangkan banyak hal agar keputusan yang diambilnya tak akan disesali di kemudian hari. Apalagi ini tentang Junghwan, Youngjae pun tak ingin bersikap subjektif yang didasarkan pada perasaannya dan berakhir memupuk kekecewaan yang dalam. Junghwan telah mengatakannya berulang kali, ia tak berniat memusuhi Youngjae.
Mungkin ada alasan tersendiri.
Mulut Youngjae terbuka samar, akhirnya ia berani menatap langsung netra Junghwan. "Katakan padaku, semuanya. Kemudian, aku yang akan memutuskan apakah kau membohongiku lagi, atau tidak."
Junghwan menatap dalam pupil Youngjae. "Aku akan mengatakannya secara objektif."
Youngjae diminta untuk duduk mendengarkan Junghwan di atas sofa panjang yang menghadap ke Hutan Velmora, sementara ia, Junghwan, pindah ke meja kerjanya untuk mengambil beberapa kertas yang ia simpan di dalam laci mejanya. Ia berniat berbicara empat mata dengan Youngjae sehingga Dohoon diminta untuk keluar sejenak dan setelah itu dibebaskan memperbaiki hubungannya dan Youngjae—bagaimanapun, mereka adalah teman.
"Seperti yang diharapkan darimu, Youngjae, kau bukanlah orang yang berpikiran pendek, kau memikirkan sesuatu dari sudut pandang yang jauh ke depan. Aku menghargainya dan akan menjelaskan semuanya yang ingin kau ketahui."
"Pertama, tentang diriku." Junghwan mengambil kertas yang tadi (lingkaran sihir pentagram), ditunjukkannya sekali lagi pada Youngjae. "Ini adalah bentuk sihir yang menyegelku. Katalis, dia yang menghubungkan antara dunia saat ini dan dunia bawah. Aku dibatasi oleh sihir ini dan aku tidak tahu bagaimana cara membuka segelnya."
"Pertama-tama, katakanlah, apa sebenarnya dirimu?" sela Youngjae.
"Iblis, tapi aku juga manusia. Ceritanya agak panjang, kau cukup menganggapku sebagai iblis."
"Ceritakanlah."
Junghwan lantas menghela napas panjang. "Saat ini, yang akan aku katakan adalah kebenarannya, bukan sudut pandangku sendiri. Cerita tentangku berasal dari sudut pandangku dan aku tidak ingin mengatakannya padamu, lagipula cerita itu tidak ada hubungannya dengan rencanaku saat ini."
Akhirnya Youngjae menyerah. "Baiklah, terserah padamu."
"Jujur saja, aku membutuhkanmu, lebih tepatnya hubungan diplomatik kita. Tujuanku adalah ruang bawah tanah istana Aureus. Aku sudah mencaritahu dan dugaanku ternyata benar, ruang bawah tanah itu menyimpan manuskrip kuno tentangku dan segel ini."
"Kalau kau tanya mengapa aku tidak langsung pergi ke ruang bawah tanah saat berada di istana Aureus, maka jawabanku adalah tidak bisa, hari itu bukanlah waktu yang tepat untuk membuka ruang bawah tanah. Ada waktu-waktu tertentu dimana batas antara dunia tempat kita tinggal dan dunia bawah menjadi tipis, yaitu saat malam ketika bulan berwarna merah. Batas itulah yang mengunci ruang bawah tanah. Jika batasnya tipis, aku bisa dengan mudah menghancurkannya dan pergi mengambil manuskrip itu."
"Dan waktu ketika bulan merah itu muncul adalah malam di hari pernikahan kita."
"Apa tujuanmu yang sebenarnya setelah mendapat manuskrip itu?"
Junghwan tak langsung menjawab, terdapat jeda dua detik selepas pertanyaan dilontarkan Youngjae.
"Ayahku memiliki impian untuk menjadikan Noctis sebagai kerajaan militer paling kuat di seluruh benua. Dengan segelku yang telah dibuka, maka Noctis otomatis menjadi yang tak terkalahkan sebab kau tahu, hingga saat ini belum ada penyihir manapun yang mampu menandingi kekuatan iblis yang tidak dibatasi."
Junghwan lalu tertawa pelan. "Ini akan menguntungkan Aureus juga, bukan? Aku hanya mengambil manuskrip itu dari istanamu, kemudian Aureus mendapatkan perlindungan di bawah Noctis setelah kita menikah."
"Bagaimana kau tahu pasti bahwa ada ruang bawah tanah di istanaku dan di ruang bawah tanah itu terdapat manuskrip kuno tentang iblis?" Pertanyaan Youngjae semakin tajam, tetapi Junghwan tak memiliki niat untuk menutupi kebenarannya.
Sarung tangan yang menyelimuti tangan Junghwan dilepas. Junghwan menyentuh tangannya sendiri. Setiap jari jemari yang panjang itu tak lewat dari sentuhannya. Gerak-gerik tersebut tentu terlihat aneh di mata Youngjae. Junghwan sungguh tak biasa.
"Aku ini tetaplah manusia, aku memiliki kesadaran akan spiritualku yang tinggi. Karena itu, aku berhasil membangkitkan sihir turun-temurun keluarga ibuku, yaitu sihir kenangan. Dengan menyentuh sesuatu menggunakan tanganku langsung, aku bisa melihat kenangan yang ada di baliknya. Contohnya seperti saat aku menyentuhmu tadi pagi, aku bisa melihat apa yang tadi malam kau lakukan sehingga membuatmu pingsan di dekat kamarku."
Senyum tipis Junghwan terukir manis. "Kau mengabaikan laranganku dan tetap berkeliaran saat malam hari. Aku tak tahu pasti apa yang ada di pikiranmu, tetapi aku bisa melihatmu berjalan keluar dari kamarmu."
"Dibantu oleh informasi dari Dohoon, aku menemukan ruang bawah tanah tersembunyi dengan menyentuh dinding yang ada di istanamu. Dinding yang menunjukkan kenangan saat batas dunia itu dipasang, itu berarti pintu menuju ruang bawah tanah."
Jawaban Junghwan sukses buat Youngjae tertegun. Serta ada satu hal lagi yang menjadi perhatiannya dari semua cerita Junghwan.
"Artinya, Aureus memiliki kaitan erat dengan iblis?"
"Iya, Aureus 'lah yang memiliki hubungan paling dekat dengan iblis dan dewa."
-000-
Setidaknya, saat ini pikiran Youngjae telah terbentuk sebagian berkat penjelasan Junghwan, meski yang dia jelaskan tidak sepenuhnya. Setidaknya, Youngjae jadi tahu tujuan Junghwan dan bagaimana pandangannya tentang pernikahan politik mereka. Dan hal-hal tersebut mengganggu pikirannya lagi malam ini hingga membuatnya kesulitan tidur. Youngjae butuh angin segar untuk menyapu tumpukan persepsi di kepalanya dan membuat kepalanya bersih dari macam-macam pikiran soal Junghwan. Haruskah ia mempercayai Junghwan? Itulah yang terus membuat Youngjae bimbang sehingga sekarang ia berdiri di balkon kamarnya, memperhatikan hamparan salju di sekitar tebing yang menyokong Palatium Boreal berdiri dengan gagah dan kokoh.
Youngjae biarkan angin kencang ini membuat bulu kuduknya meremang dan tubuhnya menggigil. Di tempat dingin ini, pemandangan aurora tampak cantik menggantung di langit berhiaskan kerlap-kerlip bintang. Bintang yang sangat banyak bertaburan di langit yang sangat luas. Boreas betul-betul gambaran negeri dongeng yang selalu diceritakan oleh ibu pengasuh sejak Youngjae kecil. Negeri yang cantik dengan medan mana terkuat yang membuat sebagian orang di sini bisa menggunakan sihir untuk membantu pekerjaan sehari-hari. Di balik tertutupnya negeri ini selama lebih dari 100 tahun, ada cerita yang tak pernah terungkap oleh orang-orang di luar Noctis; berdasarkan cerita Junghwan di surat-surat yang rutin dia kirimkan untuk Youngjae, katanya di Boreas merupakan tempatnya makhluk mitologi tinggal, seperti suku elf, suku duyung yang tinggal di kedalaman Laut Boreas, bahkan tempatnya pohon kehidupan yang kabarnya hanya mitos belaka itu tumbuh. Semua ini karena medan mana yang kuat, lingkungan Boreas menjadi tempat tinggal yang cocok bagi makhluk-makhluk yang mengandalkan mana untuk hidup.
"Kau belum tidur rupanya, Youngjae." Langkah kakinya terdengar makin lama makin mendekati Youngjae dari belakang. Orang yang saat ini paling tak ingin Youngjae temui justru muncul tanpa diminta. Dia pasti merasa bersalah.
Dohoon menghentikan dirinya di sebelah Youngjae, ikut menikmati arus angin di atas sini. Ia mengatur napasnya beberapa kali sambil memikirkan kalimat yang akan dikeluarkannya pada Youngjae dan memperbaiki hubungannya dengan Youngjae.
"Maaf, Youngjae."
Pupil Youngjae bergulir ke kanan.
"Untuk perkataanku tadi siang. Apa yang menurutku benar, belum tentu benar bagimu. Aku justru mencari pembenaran untuk tindakan kekanak-kanakanku."
Kini pandangan Youngjae kembali pada hamparan salju di ujung tebing. Ia tak punya niat membalas pernyataan Dohoon. Rasa kecewa masih menggeluti hatinya meski ia ingin menghapusnya karena Dohoon adalah teman terbaik yang selalu mendengar keluh kesahnya. Youngjae tak mau membenci Dohoon, ia tak mau kehilangan Dohoon.
"Kau tahu? Aku dulu sangat membenci diriku karena aku pikir aku telah dikutuk. Aku membunuh ayahku menggunakan tanganku sendiri. Aku terjebak ditenggelamkan oleh bayangan yang menghantuiku. Bayanganku adalah kutukan bagiku. Lalu, ibuku membawaku kabur ke Noctis melewati badai yang kencang. Sayangnya, ibuku mati kedinginan di tengah badai, tetapi dia menyuruhku lari sejauh mungkin untuk menemui Keluarga Shin karena bagi kami, orang-orang yang hidup dengan kutukan, Keluarga Shin adalah harapan kami terbebas dari kutukan tersebut. Tercatat dalam catatan yang ditinggalkan dari generasi ke generasi, terdapat keluarga di Boreas yang memiliki keahlian mengendalikan kutukan iblis dan ilmu sihir, keluarga itu adalah Keluarga Shin."
"Aku selalu percaya apa yang aku miliki ini sebuah kutukan, hingga akhirnya Shin memberitahuku bahwa ini bukanlah kutukan, melainkan sihir yang disalahartikan oleh keluargaku sebagai kutukan sebab sihir ini bersifat destruktif. Dari aku kecil, Shin melatihku untuk mengendalikan sihir bayanganku. Aku sangat berhutang budi padanya. Kemudian, aku bertemu denganmu, seorang teman yang memang murni menganggapku teman walaupun kelasnya berbeda. Aku tumbuh bersamamu."
"Aku menyayangimu, Youngjae, dan tidak ingin kau terluka. Karena itu, aku secara khusus meminta Shin agar seminimal mungkin membuat kerugian padamu dalam rencananya."
Kedua sudut bibir Junghwan makin naik ke atas sebab ia baru saja menerima berita bagus setelah setengah bulan ini menunggu surat balasannya tiba. Dan satu hal lagi yang membuatnya senyumnya tambah lebar, "Kenapa aku harus menjadi yang pertama tahu kabar ini?"
Sorot mata Dohoon tatap laki-laki itu dalam. "Ada satu permintaan yang aku ingin kau penuhi."
"Katakan."
Dohoon menarik napasnya panjang sebelum berkata, "dalam rencanamu, tolong jangan sampai menyakiti Youngjae. Dia mungkin akan kecewa saat tahu yang sebenarnya, tapi aku mohon, Shin... jangan membuatnya terluka lebih jauh."
Mendengar ucapan putus asa Dohoon, sontak Junghwan tertawa geli. "Memangnya sehebat apa Choi Youngjae?"
Tak ada jawaban yang dilempar Dohoon, melainkan sorot mata yang semakin memaksa Junghwan.
"Baiklah, baiklah, aku akan mengusahakannya."
"Maaf, Youngjae."
"Dohoon."
Netra mereka bertemu ketika keduanya sama-sama menolehkan kepala untuk satu sama lain.
"Biarkan aku memukulmu sekali, dengan begitu aku merasa lega."
"Ah, ya? Silakan...."
Begitulah wajah tampan Dohoon mendapat memar setelah satu tinju keras dilayangkan oleh Youngjae di pipinya hingga ia tersungkur ke lantai. Beberapa kali Dohoon mengusap-usap pipinya akibat rasa kebas serta panas yang menjalar di bagian yang ditonjok Youngjae. Tak disangka, selain mahir menggunakan busur pula anak panah, Youngjae juga mahir menggunakan tangan kosong. Dasar anak berbakat.
Tetapi Dohoon merasa lega, pukulan Youngjae berarti maaf darinya.
"Jangan kecewakan aku yang kedua kalinya, kalau tidak, aku benar-benar akan menguburmu hidup-hidup."
Perhatian Dohoon kembali pada pemandangan apik Boreas. Udara makin dingin, saat ini rasanya seperti tertusuk oleh angin yang berlalu-lalang.
"Tidak akan, untuk itulah ada yang ingin aku sampaikan lagi padamu, tentang Shin."
Kedua alis Youngjae sontak bertaut, keningnya mengernyit. Bukan tentang hubungan mereka, malah tentang Junghwan yang Youngjae tak tahu mau disampaikan bagaimana lagi.
"Langsung saja, Youngjae, Shin akan mati."
Mulut Youngjae terbuka samar. "Mati... maksudmu?"
"Tujuan Shin yang sebenarnya adalah menghancurkan dirinya sendiri. Dia tidak mengatakan ini pada siapapun, aku juga mencaritahunya diam-diam. Shin berbohong padamu soal ruang bawah tanah—ah, maaf, aku tadi menguping. Ruang bawah tanah itu merupakan altar yang akan menjadi tempatnya mengaktifkan sihir iblis kuno. Lingkaran itu membutuhkan setengah mantra dan setengahnya lagi bagian tubuh yang dikorbankan. Dan Shin berencana mengorbankan jantungnya. Dengan itu dia dapat membuka segel dan berubah menjadi iblis sepenuhnya."
"Dia hanya akan bertahan beberapa hari menggunakan mana sebelum tubuhnya hancur karena tidak mampu menjadi wadah iblis. Shin tahu soal ini dan itulah tujuannya; untuk mati."
Youngjae mengulum bibirnya ke dalam. Apa yang barusan Dohoon bocorkan bukanlah informasi sepele dan Youngjae butuh waktu beberapa saat demi mencerna kalimat perkalimat, butuh waktu memahami yang lain selain kalimat, Junghwan akan mati.
"Tapi... kenapa? Kenapa dia berniat mati? Apakah dia tidak ada pilihan lain karena ayahnya ingin dia menjadi senjata Noctis?"
Dohoon menggelengkan kepalanya pelan jawab pertanyaan Youngjae.
"Itulah pilihannya Shin, bukan karena dia tidak punya pilihan lain. Sejak awal, dialah yang menggerakkan rencana ini, bukan ayahnya. Ayahnya...,"
"telah menjadi mayat hidup yang saat ini hanya terbaring di kamar. Shin yang membuatnya seperti itu. Tidak ada yang tahu, Shin membuatnya tampak seperti orang yang sedang sakit keras."
Sukses Youngjae kehilangan kata-katanya.
"Aku selalu bertanya, bagaimana dia bisa begitu kuat dan hebat di usianya masih muda? Lalu, saat membuntutinya diam-diam dalam sebuah bayangan, aku mengetahui fakta bahwa selama ini dia menyimpan dendam terhadap keluarganya. Dia hidup untuk membalas dendam itu suatu saat."
"Dari sebelum Shin dilahirkan, dia telah ditetapkan untuk menjadi wadah bagi iblis kuno. Karena itu, berbagai uji coba dilakukan padanya untuk membuatnya mampu menerima seluruh kekuatan iblis. Raja, atau ayahnya, adalah seorang ilmuwan—aku rasa ilmuwan gila." Dohoon tertawa di kalimat akhirnya.
"Dia berhasil menggabungkan penelitiannya dan kutukan iblis yang membuat Shin terlahir dengan kelainan setengah iblis, setengah manusia. Itulah hasil kutukan yang sebenarnya. Shin pernah bilang padaku, kutukan itu membuatnya melihat dirinya dalam wujud mengerikan saat dia bercermin. Shin tidak pernah tahu bagaimana wajahnya yang asli. Bahkan, dalam lukisannya pun, sosok mengerikan itulah yang dilihatnya."
"Uji coba itu membuatnya menderita seumur hidupnya. Dia dipaksa untuk menjadi yang terkuat. Aku rasa, Shin sendiripun tidak berpikir bahwa hidupnya berarti, makanya dia dengan mudah memutuskan akan membunuh dirinya dalam rencana ini setelah membalaskan dendamnya kepada keluarga ini. Kematiannya juga akan menjadi pukulan telak bagi ayahnya."
"Aku mengatakan ini karena aku memikirkanmu, Youngjae. Aku melihatmu begitu menantikan pernikahanmu dan Shin. Kau tampak sangat bahagia saat bersama Shin. Aku membayangkan apa yang akan kau alami nanti saat Shin melenyapkan dirinya sendiri tanpa tahu apa-apa tentang ini, kau pasti akan sangat terluka."
Yang Dohoon katakan sepenuhnya benar, tak ada yang perlu Youngjae elak kebenarannya. Ia pasti terluka, bakal amat terluka menemukan Junghwan hancurkan dirinya sendiri tanpa bisa melakukan apapun, itu bahkan macam kejutan hadiah pernikahan mereka. Mendengar cerita Dohoon saja cukup buat rongga dada Youngjae terasa sesak.
Tak ada solusi yang bisa Youngjae pikirkan selain,
"Apakah ada cara untuk menghentikannya?"
Lalu, untungnya Dohoon menjawab, "Ada."
Jawaban Dohoon selanjutnya membuat Youngjae seketika berandai-andai mengenai masa depan.
Akhir kisah mana dari akhir Odette dan Siegfried yang akan menjadi bagian penutup kisah ini?
Akhir yang tragis?
Ataukah akhir yang bahagia?
