Work Text:
一
Malam pertama, Jiaoqiu belum merasa kedinginan. Lantai batu di bawahnya lembap dan berbau basah, tetapi tubuhnya masih panas karena luka yang dideritanya di bahunya, yang melintang ke dada dan hampir saja mengenai jantung. Dia hanya sempat membuat ramuan seadanya untuk ditempelkan pada luka tersebut di tengah-tengah perang, dan sekarang ramu-ramuan itu sudah mengering, meninggalkan serpihan yang telah berjuang semampu mereka. Dia meringkuk di sudut yang paling dekat dengan pintu di bagian atas. Menunggu cahaya, menunggu kabar baik.
Di sisinya, Feixiao memeluk lututnya semalam penuh. Jiaoqiu tidak bisa membaca wajahnya, terlalu gelap.
二
Malam kedua, Jiaqiou membuka matanya dan merasakan keringat mengucur dari keningnya. Tubuhnya tidak sepanas kemarin, tetapi dia merasakan sakit di seluruh bagian. Bahunya seperti mati rasa, dadanya ngilu, jari-jemari di tangan kanannya gemetaran. Ketika dia mulai bisa membiasakan pandangannya di kegelapan, dia melihat Feixiao sedang menatapnya. Wanita itu mengulurkan tangannya ke wajah Jiaoqiu, ujung jari-jemarinya menyentuh kulit yang dingin.
Hidup, masih hidup. Dia masih merasakan Feixiao, kontur wajahnya, napasnya. Tangan Jiaoqiu berhenti di leher Feixiao, meraba denyut di sana. Terasa konstan, seperti kesunyian yang menyergap mereka, tetapi ada.
Malam ini, mereka masih bernyawa. Bagaimana dengan besok?
三
Malam ketiga, tidak ada makanan. Bahkan seekor tikus sekalipun. Barangkali musuh memang telah menghabisi semua yang hidup di kota ini. Barangkali setelah ini, mereka yang akan dimangsa, sengaja dibiarkan di bawah tanah selama beberapa lama sebagai pemenuhan dendam yang paripurna. Jiaoqiu mengikat perutnya dengan sobekan jubahnya yang menjuntai karena sabetan pedang, dan Feixiao diam seribu bahasa. Satu-satunya kata yang dia dengar dari sang jenderal seharian ini hanyalah saat ia memanggil Jiaoqiu, dan Jiaoqiu pun beringsut mendekat untuk membiarkan Feixiao menyandarkan kepala di bahunya yang tidak terluka.
Mungkin besok penjara ini akan berubah menjadi kuburan. Mungkin mereka memang ditakdirkan untuk mati demi kota yang mereka perjuangkan, menyatu bersamanya, selesai dalam waktu.
四
Akhirnya, purnama.
Cahayanya menembus jeruji berkarat di atas kepala mereka, Jiaoqiu bisa melihat wajah Feixiao lebih jelas kali ini. Pipinya berjelaga, bayang-bayang hitam di bawah matanya, dan bekas luka pada rahangnya yang mengering dengan payah. Ia tidak ingin menanyakan bagaimana wajahnya di mata Feixiao. Feixiao mengusap pipinya, membersihkannya dari sisa-sisa kotoran dan darah yang entah milik siapa.
Cahaya itu begitu hangat, simbol harapan. Jiaoqiu ingin memeluknya lebih lama lagi.
五
Beberapa bongkah ubi yang kisut dan beraroma tanah dijatuhkan dari balik jeruji. Mereka berdua berbagi dan mengunyah setiap potongannya begitu lama, tidak tahu kapan mereka bisa melakukannya lagi.
六
Cahaya purnama menyelusup masuk lagi, Jiaoqiu menduga mungkin ini masih hari kelima belas siklus bulan tersebut. Dia bergeser agar ketika kepalanya mendongak, dia bisa secara langsung menatap ke dunia luar. Mencari bulan, menginginkan sumber cahaya. Kakinya menekuk karena bagian sudut yang dekat dengan jeruji menyempit, dinding batu yang berlumut mendesak bahunya. Feixiao mengikutinya, turut menengok, mencari sinar yang serupa.
“Kau melihatnya?” bisik Jiaoqiu pelan, memberikan ruang agar Feixiao bisa melihat arah dia menunjuk.
Feixiao mengangguk, seulas senyum tipis membuat Jiaoqiu lega. Dia masih bisa melihatnya, tepat di bawah sinar rembulan. “Bulannya cantik, Jiaoqiu.”
Jiaoqiu menatap mata Feixiao. “Ya. Cantik.”
七
Luoyang dibangun di antara Sungai Luo dan Sungai Kuning yang agung. Bertahan dalam sejarah, Luoyang adalah kota yang akan Jiaoqiu bela sampai mati—meskipun itu artinya mati menyedihkan di penjara yang terlupakan bersama dengan jenderalnya. Meskipun kerajaannya kalah dan tidak menyisakan sedikit pun lagi harga diri, dia tidak keberatan mati mempertahankannya. Kota itu mungkin akan hidup lagi dan bangkit dari abunya dengan nama yang lain, orang-orang yang sekarang mendudukinya mungkin akan memberinya kuil-kuil baru dan mereka akan menatanya kembali dengan cara mereka sendiri, dan Jiaoqiu tidak keberatan jika dia mati dengan kenangan lama kota itu. Kenangan di mana dia membelikan Feixiao mántou favoritnya di pasar, memetik tanaman obat jauh di sekitar Pegunungan Baiyun dan mengolahnya di rumahnya demi sang jenderal yang terluka lagi karena latihannya.
Dirinya mungkin mati. Kota itu tidak.
Mati karena membelanya adalah kehormatan, begitu ucap Feixiao di hari pertama pertahanan mereka terhadap kedatangan musuh, saat mereka sibuk mengevakuasi warga dan membangun barikade tiga lapis petarung di gerbang utama.
Maka, malam itu Jiaoqiu menutup mata dengan lebih banyak keringanan hati.
八
Malam kedelapan, seseorang mengirimkan lagi makanan melalui jeruji. Jiaoqiu tidak bisa melihat siapa dia karena tidak ada sinar bulan, tetapi ubi itu hangat dan manis, seperti yang sering dia dapatkan di jalan menuju Pegunungan Laojun atau yang dijual di pasar malam dekat Gerbang Naga. Dia memberi lebih banyak untuk Feixiao, karena perempuan itu tak lagi bersuara seharian ini dan hanya menyandarkan dirinya di dinding gua—tidak ingin membebani bahu Jiaoqiu yang salah satunya pun belum sembuh benar.
Di tengah alam antara kesadaran dan lelapnya, Jiaoqiu mengingat suatu malam saat mereka makan bersama; dia memasak kerang pedas, mi dengan kuah kaldu daging, dan ubi manis bakar untuk Feixiao, wanita itu memujinya masakannya dan mengatakan bahwa malam itu mungkin rekor dia makan paling banyak dalam sekali waktu selama hidupnya. Mereka menutup malam dengan minum sake bersama di loteng rumah Jiaoqiu, mengamati bulan dan lampion-lampion yang berpendar hangat di seantero kota karena perayaan tahun baru baru saja berlalu beberapa hari. Kota menjadi merah keemasan, menyamarkan warna merah di pipi mereka karena sake, tetapi kehangatan di antara mereka berdua sama sekali tidak bisa disembunyikan.
九
Malam kesembilan, dia mulai melihat dunia yang aneh di kegelapan dinding gua. Yang tersisa di pandangannya hanyalah kenangan di malam itu, kemudian pertumpahan darah, terkadang semua adegan itu bergumul menjadi satu, menciptakan pemandangan seperti ombak darah yang menyerang pemandangan indah lampion yang mengaliri setiap sudut kota seperti naga emas. Sekarang, semua terlihat seperti naga bersimbah darah.
Feixiao membangunkannya, menyadarkannya dengan aroma ubi hangat. Dia meraba-rabanya, meragukan seberapa nyata benda itu. Feixiao pun pelan-pelan menyuapinya, sejumput demi sejumput, dan dia akhirnya bisa mengenali rasa. Ubi itu nyata, tetapi tidak ada sinar bulan. Penjara itu gelap lagi.
十
Malam kesepuluh, seseorang menyeret mereka keluar. Begitu jeruji dibuka, penjaga berseragam asing menahan tangan mereka dan mengikatnya di belakang punggung mereka dengan tambang yang besar. Mereka digiring di dalam kegelapan, angin dingin menyergap, dan komplek istana gelap gulita. Hanya ada beberapa titik cahaya dari obor yang redup di kejauhan, Jiaoqiu berulang kali melirik Feixiao.
Ikuti saja, Feixiao berisyarat.
Seluruh bagian komplek masih berdiri tegak, utuh, kalaupun ada kerusakan barangkali kegelapan masih lebih pintar menyembunyikannya. Suasana jauh lebih sepi daripada biasanya. Siapa yang masih tersisa dari pemerintahan lama? Jiaoqiu memikirkan lampion di sekeliling kota dan ilusi naga emas yang dibuatnya. Sudah mati terkuburkah naga emas itu?
Para pengawal itu membawa mereka ke salah satu bangunan di komplek, yang diingatnya sebagai tempat pertemuan para menteri. Mereka digiring menuju lantai kedua, ke ruangan di sebelah kanan yang kini kosong melompong. Tidak ada cahaya pada ruangan tersebut, dan seluruh jendela, kemudian juga pintu, dipalang ganda. Semua pengawal kemudian meninggalkan mereka.
十一
Malam kesebelas, penjara itu hanya berganti tempat. Namun setidaknya di sini dia bisa berbaring, bernapas dengan lega, dan tidak ada bau lumut dan lembap yang menyesakkan dadanya. Makanan datang satu kali saat siang, dan Jiaoqiu hanya mengetahui pergantian siang dan malam dari seberkas sinar yang menyelinap di antara jendela mati dan palang gandanya.
“Menurutmu, apakah mereka akan menggantung atau memenggal leher kita?” Feixiao bertanya setelah makan, mengenyangkan korban adalah salah satu cara eksekusi paling murah hati yang bisa ia pikirkan.
“Yang manapun caranya, kenapa mereka tidak melakukannya sejak awal?” Jiaoqiu menumpuk-numpuk mangkuk yang disuguhkan kepada mereka. Dia menyesali rasanya yang begitu banyak kurangnya dari segi bumbu dan tingkat kematangan, tetapi dia tidak bisa lebih bersyukur lagi karena akhirnya ada makanan layak yang masuk ke perutnya. “Cukup lama jeda antara mereka mengeluarkan kita dan menunggu. Bahkan seharusnya mereka bisa melakukannya di penjara sana.”
Feixiao bergerak ke arah jendela, mencoba menggeser palang, menarik papan yang melintang di sana, tetapi kekurangan makanan beberapa hari belakangan membuat tenaganya berkurang drastis. Ia menggeleng-geleng. “Mereka ingin menggunakan kita.”
十二
Tiga orang datang pada malam kedua belas, seseorang yang memimpin berpakaian lebih rapi dan rumit dibandingkan kedua pengawalnya. Berbeda dengan orang-orang di kerajaan sebelumnya yang memakai warna merah dan emas sebagai warna keagungan, mereka lebih dominan memakai kuning gelap dan hitam. Sungai Kuning dan tanah yang hitam, pikir Jiaoqiu. Mereka datang dari sisi lain sungai, bagian hulu yang begitu jauh, dan barangkali menganggap Sungai Kuning jauh lebih suci daripada yang kerajaan sebelumnya anggap.
Ketiga orang itu membungkuk di depan Jiaoqiu dan Feixiao sebelum duduk di hadapan mereka. Jiaoqiu hanya melirik Feixiao, dan mata Feixiao menatap ketiganya waspada.
“Anda berdua adalah aset yang sangat berharga dari kerajaan. Kami memahaminya. Seorang praktisi medis yang mempunyai pengetahuan obat-obatan lebih dari seisi hutan, dan jenderal wanita sekaligus penyusun strategi yang tidak pernah ada sebelumnya. Talenta seperti Anda berdua tidak boleh hilang begitu saja.” Dia melirik kepada kedua pengawalnya. Mereka memberikan dua pasang kotak, sepasang gulungan, dan mereka menyodorkannya dengan hati-hati di atas lantai. “Kami tidak punya banyak pilihan sebagai pasukan yang baru saja memulihkan diri dari kemenangan yang rumit dan melelahkan. Jika Anda berdua setuju dengan penawaran kami, pakailah pakaian yang kami berikan di kedatangan kami esok hari. Namun jika tidak, kami tidak bisa memberikan pilihan lain lagi selain pembebasan dengan cara kematian.”
Tidak ada yang menyentuh barang-barang itu sampai ketiganya pergi dan meninggalkan sebatang lilin yang mereka bawa sebagai penerangan pertama di kamar tersebut. Setelah mereka memalang pintu, Jiaoqiu pun meraih gulungan tersebut dan membacanya di dekat lilin. Stempel kerajaan yang baru berada di bagian bawah, dengan nama pemimpin yang asing untuk mereka. Dalam informasi yang beredar selama peperangan dari mata-mata, tidak pernah terdengar nama ini. Mungkin dia menggunakan gelar baru, atau hanya pemain yang selama ini bersembunyi. Dia membacanya sekilas, sementara itu Feixiao mengamati pakaian yang diberikan kepadanya mereka; detailnya serupa dengan yang mereka pakai.
“Tahanan kota,” bisik Jiaoqiu. “Mereka menawarkan posisi penasihat untuk kita.” Dia mengerjap, api pada lilin menari lemah. “Tetapi dengan status tahanan kota.”
Feixiao menelan ludahnya, matanya menjadi sendu di tengah keremangan. “Apa pilihanmu?”
永
Tidak ada yang Jiaoqiu rindukan selain lampion-lampion emas dan ruang-ruang yang hidup di antara gang-gang sempit, jalan-jalan yang mengular di sekeliling kota, dan kedamaian yang bisa membuatnya tenang meramu obat atau memasak apapun yang menjadi favoritnya. Memasakkan kerang pedas yang akan membuat seluruh wajah dan leher Feixiao memerah, membuat sup ikan yang akan membuat Feixiao lupa pulang, membuat mántou yang hangat untuk dinikmati di malam yang dingin sebelum musim semi tiba.
Kota akan dihidupkan kembali setelah matinya oleh orang-orang yang baru, tetapi dia tidak ingin mati sebelum melihat naga emas itu menyala kembali, meskipun hanya dari jendela ruangan yang tak setinggi bangunan yang lama. Pakaian kuning gelap itu terasa lebih berat daripada jubah-jubah yang pernah dia pakai, pun dengan tugas baru untuk mengobati orang-orang yang menang tetapi menghabiskan waktu berhari-hari di tempat tidur karena luka-luka mereka. Feixiao lebih sering dikurung di ruangan bersama orang-orang baru yang belum bersedia memberikannya pedang atau waktu untuk berlatih kembali.
Jiaoqiu melihat diri mereka berdua sebagai bagian dari reruntuhan yang menyaksikan bagaimana sebuah kota bangun kembali. Merekalah serpihan itu, yang membangun diri mereka lagi dari abu yang berserakan.
Feixiao bertanya padanya pada suatu pagi yang berembun, Luoyang belum terbangun pagi itu. “Apakah kita sepasang pengkhianat?”
Jiaoqiu mencari-cari jejak cahaya yang belum terlihat di cakrawala. Hanya ada kicau burung yang menyela keheningan. Lampion-lampion sudah digantung meskipun tahun baru yang menandakan bermulanya musim tanam baru masih cukup lama. “Aku mengabdi pada kota ini. Tempat kelahiranku, tempatku mencari makan, bernapas dari udaranya. Aku tetap bertahan sampai akhir.”
Feixiao melempar pandangan ke kejauhan. “Pengabdian kita berada pada kota ini.”
“Kita mengabdi pada kota.” Jiaoqiu menggeleng. “Bukan yang lain.”
