Work Text:
Sungguh sebuah pemandangan yang biasa, ketika filsuf itu keluar dari hutan pertapaannya di Utara, kemudian memasuki Athena dan membuka kelas umumnya di area dekat Kuil Suci, untuk melihat orang-orang berkerumun di sana menyimak ceramahnya tentang ilmu pengetahuan, perbintangan, pengobatan, kebijaksanaan, dan cara kehidupan berjalan secara umum. Tua dan muda, bahkan wanita, juga turut bergabung untuk mendengarkan. Anaxagoras, orang-orang memanggilnya. Dia telah ditawari posisi yang bagus di akademi, tetapi dia menolaknya. Jauh dari hutanku, dia berkata, dan pada akhirnya memang sulit untuk menahan seseorang yang begitu bebas baik secara pemikiran maupun secara fisik.
Dia bisa diajak berdialektika, berdebat, atau diminta berorasi mengenai banyak topik. Tempo hari, seorang penjelajah dari dataran tinggi di utara mengajaknya berdialog tentang perputaran bintang-bintang di langit, dan dia membuat sebuah penilaian ekstrem yang membuat para tetua Kota bersyukur tidak memintanya menjadi bagian dari Akademi: dia menganggap bahwa ada satu benda besar di alam raya ini yang menjadi titik pusat perputaran benda-benda langit, yaitu bola cahaya besar yang setiap hari terbit dan tenggelam. Perdebatan itu begitu panjang sampai senja tiba, dan tidak ada kata sepakat.
Pada hari lainnya, seorang filsuf Kourita datang dan mendiskusikan kehidupan dengannya. Anaxagoras mengutip salah satu guru yang tidak mau disebutkannya, yang dicurigai orang-orang bahwa itu hanyalah pendapatnya sendiri yang ingin dibuatnya anonim: bahwa hidup hanya dapat dimaknai melalui ‘berpikir’. Seseorang bisa mencapai makna tertinggi hidup ketika dia tahu bahwa dia memikirkan cara berpikir. Filsuf Kourita itu mendebatnya, hidup bisa dimaknai melalui hal-hal sesepele kebahagiaan. Anaxagoras berkeras hati dengan pendapatnya, kebahagiaan hanyalah hal dangkal yang menyentuh sebatas permukaan pikiran, dan tidak dapat menggali dalamnya jiwa, dan pada akhirnya hanya ada kesepakatan bahwa mereka sepakat untuk menempuh jalan masing-masing. Sepakat untuk tidak sepakat.
Setiap orang yang mencintai ilmu pasti mengenal Anaxagoras, dan dia punya banyak pengikut setia yang selalu hadir di manapun dia membuka kelas bebasnya. Perdebatan atau dialektika yang dia adakan selalu menjadi pembicaraan hingga dua atau tiga hari setelahnya. Banyak murid-muridnya, yang mengikuti kelasnya sejak kecil, sekarang sudah beranjak remaja dan dewasa, kemudian menjadi seorang cendekia dan belajar ke berbagai tempat di luar Athena. Membuat lebih banyak orang yang datang karena mendengar namanya dan ingin menyaksikan bagaimana pria itu mempertahankan pemikirannya.
Lebih-lebih belakangan ini, desas-desus mengatakan bahwa dia berulang kali hampir kalah berdebat dengan seseorang, dan konon perdebatan itu bisa berlanjut sampai ke hari berikutnya. Mendengar Anaxagoras yang tersohor sebagai pemikir ulung dan pemenang berbagai perdebatan bisa kalah karena seseorang, semakin ramai peminat debat tersebut. Apalagi sekarang Anaxagoras selalu mengadakan kelas di sekitar Parthenon, pemandangan yang bagus terutama bagi orang-orang di luar Athena, untuk menyaksikan keagungan kuil, keindahan kota, hingga waktu sungguh tidak terasa jika berada di sana. Tidak semua orang bisa mengadakan kelas di dekat Kuil Suci, karena perlu izin khusus dari tetua kota yang keluarganya bertugas melindungi kuil.
Nah, lihatlah hari ini. Permulaan musim gugur, ketika matahari masih berada di atas kepala yang untungnya tidak terlalu panas, kelas itu dimulai. Sinar mentari mewarnai kota di bawah bukit, membuatnya menjadi keemasan, senada dengan pepohonan yang mulai meranggas. Betapa sebuah pemandangan yang memuaskan mata dan hati, jiwa dan pikiran penuh akan keindahan dan rasa kagum akan yang agung, belum lagi perdebatan hangat di atas Cecropia yang menggugah pikiran itu.
Awalnya hanya Anaxagoras yang menguraikan pemikirannya tentang alam pikiran dan alasan yang saling berkelindan. Alasan adalah cara alam pikiran menemukan dirinya sendiri melalui perantara manusia. Alasan adalah perantara bagi alam pikiran untuk memahami eros, agape, berbagai konsep cinta yang lain, berikut pula kebencian, kesedihan, dan ketakutan. Kemudian, Nona Aglaea, yang entah sejak kapan berada di sana (ia adalah putri dari tetua Kuil, sebenarnya tidak mengherankan jika ia selalu terlihat di sekitar sana), menantangnya dengan sebuah pertanyaan,
“Dari manakah eros berasal? Jika Alasan adalah cara alam pikiran untuk memahami eros, maka apakah kau mengisyaratkan bahwa berarti eros itu datang dari luar, bukan dari jiwa ataupun alam pikiran manusia?”
“Tentu saja tidak.” Anaxagoras mengedikkan bahunya dengan enteng. “Eros adalah bentuk kehendak liar yang muncul karena jiwa manusia yang terlalu haus dan tidak bisa mencukupi dirinya sendiri.”
“Bukankah eros datang dari theia mania? Kegilaan para dewa. Dia datang dari luar, sehingga banyak manusia tidak bisa memahami romansa dan bentuk-bentuk cinta kasih yang layak, karena alam pikirannya tidak bisa mencerna sesuatu yang datang dari entitas yang lebih tinggi.”
Kening Anaxagoras berkerut-kerut, “Tidak ada theia mania.” Dia melirik ke arah kuil, untuk sesaat bagi orang-orang yang teliti, pasti dapat melihat perubahan air mukanya, “tidak perlu mendefinisikan sesuatu yang datang dari dalam diri sendiri berasal dari entitas yang terlalu jauh.”
“Eros adalah bentuk cinta yang penuh gairah, berapi-api, seringkali buta logika. Logika mati ketika mania datang mengambil alih. Hal itu pasti berasal dari entitas yang lebih tinggi dan lebih menguasai cara mematikan logika dan alam pikiran manusia.”
“Tidak perlu menyalahkan sesuatu yang lebih tinggi untuk sesuatu yang ditimbulkan oleh diri sendiri. Logika adalah cara alam pikiran menemukan alasan, dan alasan akan memahami eros dan saudara-saudaranya. Semua berhubungan dengan alam pikiran dan jiwa yang berada di dalam dirimu, Nona.”
“Oh.” Aglaea menyilangkan tangannya di depan dada. “Kalau begitu jelaskan alasan mengapa seseorang bisa kehilangan logikanya saat bercinta? Jika mereka berasal dari sumber yang sama, maka jika hanya eros yang mengambil alih jiwa, tentu saja logika, alasan, dan alam pikiran bisa membuatnya mati dan kembali ke keseimbangan di antara semuanya—bukankah begitu?”
Anaxagoras menggeleng-geleng. “Pada saat normal, alam pikiran mengendalikan seluruh tindakan manusia, dan tidak membiarkan eros membuatnya buta, berkawan dengan logika dan alasan. Bukankah hanya masalah keadilan jika sewaktu-waktu eros mengambil alih?”
“Terakhir kali aku menggunakan logika, seseorang beralasan bahwa eros adalah kehendak ragawi yang selalu ingin menang, dan perlu logika atau alasan untuk menekannya.”
Kasak-kusuk di antara para penyimak mulai terdengar. Beberapa orang melirik Anaxagoras dengan curiga, sementara yang lain mengamat-amati Nona Aglaea sembunyi-sembunyi, karena jika melakukannya terang-terangan di tempat terbuka akan ada seseorang yang mengadili.
“Mungkin ada bagian dari dialektika ini yang harus diselesaikan secara lebih mendalam di lain waktu.” Aglaea menurunkan tangannya. “Kutunggu kau di kesempatan berikutnya.”
Anaxagoras berusaha untuk terlihat tidak peduli, tetapi dia mengamati Aglaea yang menjauh kemudian menghilang di balik gerbang kuil dari sudut matanya. Dia kemudian mendeham, melanjutkan ceramah tentang Alasan. Wanita itu sudah pergi, tetapi pertanyaan masih menggantung di kepala para penyimak. Matahari sudah beringsut ke cakrawala, menyisakan sedikit cahaya yang menerangi Athena menjadi bak lautan emas untuk waktu yang singkat. Pemandangan yang melegakan hati, memberikan ruang yang lebih banyak bagi pikiran yang telah tenang karena diisi oleh pemikiran mendalam dan keindahan. Orang-orang pulang dengan langkah ringan, para filsuf yang datang dari jauh membuat janji untuk pembicaraan lebih lanjut dengan Anaxagoras.
Pria itu pun juga beranjak pulang ketika bintang paling terang mulai terbit. Menyelinap di antara jalur-jalur mendaki dan berundak-undak, menenggelamkan diri di dalam ketenangan kota yang mulai mengantuk. Beberapa orang yang mengenalnya menyapa, menyaksikan dia memasuki sebuah rumah yang indah di atas sebuah bukit rendah, bunga-bunga kuning keemasan menggantung di puncak pilar rumah.
Pertanyaan mengenai Alasan mengapa dia memasuki rumah itu disimpan untuk lain kali. Mungkin besok akan ada satu atau dua dari para pengikutnya yang berani mempertanyakan Alasan mengapa dia tidak pulang ke hutannya. Mungkin pula dia besok akan menjelaskan bagaimana cara dia mengendalikan eros, atau logika siapa yang berhasil menekan eros-nya ….
Untuk hari ini, biarkan Athena tidur.
