Work Text:
Sekarang kehidupan adalah kotak-kotak kelabu yang monoton. Sederet kompartemen yang disekat-sekat di dalam kubus kaku—dia bangun tidur, bergerak seperti robot, berangkat ke kompartemen berikutnya untuk bekerja, mengerjakannya hingga jam yang ditentukan, kemudian pulang, dan kembali lagi ke kompartemen awal bernama tempat tidur. Sepuluh tahun sejak dia mulai bekerja, Blade tahu bahwa dunia orang dewasa hanyalah seperti kota-kota metropolitan yang pernah dia singgahi demi pekerjaan-pekerjaan tersebut. Kubus-kubus yang menawarkan kemewahan dengan kilat peraknya, tetapi bagaimanapun, mereka hanyalah ruang berdinding empat yang mengurung ekspresi manusia, yang bisa saja kemudian akan merembet ke empati dan simpatinya.
Dia mencoba untuk melihat detail-detail kecil dari berbagai hal hanya untuk mendistraksi gambar besar yang akan mengurungnya hingga usia pensiun ini; misalnya dengan membuka diri pada ruang-ruang di dalam kota yang sudah satu tahun ini dia huni. Walaupun mungkin sama membosankannya, karena setelah dilihat-lihat lagi, alun-alun kota di sekeliling Eropa yang pernah dia kunjungi masih satu rupa dan satu nada.
Namun setidaknya, dia bisa mulai menikmati akhir minggunya ketimbang hanya menempelkan hidungnya pada buku di ruang persegi yang terlalu sempat bernama kamar tidur. Dia melihat bagaimana ruang-ruang di antara gedung-gedung Kota Tua Praha mengalirkan penghiburan dan keramaian yang lebih rileks—orang-orang yang berjalan santai tanpa terburu-buru, bukan orang-orang yang mengejar waktu demi uang. Jantung ruang di sini berdenyut lebih lamat-lamat dibandingkan dengan jalan-jalan utama yang dipenuhi adrenalin di sepanjang minggu. Gedung-gedung berfasad kuning, cokelat, disela oleh lagu-lagu merdu dari musisi jalanan yang sendu. Blade pun sekarang sudah bisa melatih dirinya menghitung detik demi detik dengan interval yang nyaris sempurna karena terlalu lama memandangi Jam Astronomi.
Satu, dua, tiga, Blade mengerjap. Empat, lima, enam. Masih dua belas detik lagi menuju jam dua belas tepat. Tujuh—
Musisi jalanan memulai musiknya; senandung hangat lagu pop yang sedang tren tetapi dengan aransemen ulang ala saksofon. Dia tidak sendiri.
Sepuluh. Sebelas. Dua belas. Tepat pukul dua belas.
Sembilan belas detik berlalu, rekan musisi tersebut mulai menggesek senarnya. Mereka berduet dengan harmoni yang sanggup mengalihkan Blade dari Jam Astronomi. Wanita itu menutup matanya, menghayati. Kotak biola di dekat kakinya tertutup, sehingga orang-orang memberikan koin mereka hanya pada si musisi saksofon. Kamera-kamera diarahkan pada mereka berdua, terutama pada wanita tersebut.
Blade mengamati si pemain biola. Rambutnya merah, cerah di antara warna-warna membumi fasad gedung-gedung. Mencolok di antara bukti-bukti sejarah, membuktikan keberadaannya tanpa perlu permainan kata-kata. Hanya sebuah biola kecil dan lagu yang seolah-olah keluar dari jiwanya sendiri.
Wanita itu selalu datang di Sabtu siang, tepat tengah hari. Jika musisi saksofon kebetulan tidak berada di sana, ia akan bermain sendiri tanpa mencari bayaran. Ia hanya memainkan dua-tiga lagu, sisanya ia akan disibukkan oleh orang-orang yang meminta foto dengannya, lalu ia akan menghilang ketika Blade sibuk menghitung waktu menuju jam satu pada Pražský Orloj.
Enam kali, selalu seperti itu, dan Blade tidak sadar dia telah menghitung waktu secara sungguh-sungguh, seteliti dia mengikuti waktu yang bergulir pada Pražský Orloj. Blade bahkan lupa peringatan satu tahun dia mulai bekerja di Praha, tetapi tidak dengan kedatangan wanita itu.
Kali ketujuh, wanita itu membuka matanya saat memainkan lagu, dan tatapan mereka berserobok untuk kali pertama.
Blade menyusup dari satu jalur ke jalur lain. Berusaha menolak godaan kapitalisme yang diumbar di setiap pintu dan etalase yang mentereng, dia hanya berjalan-jalan seperti perekam citra untuk peta. Dia mencoba memahami nadi-nadi yang menghubungkan kota menuju sejarah dan akarnya sendiri, mengalihkan dirinya dari kubus-kubus kelabu ke gambar-gambar kecil yang menyusun kota.
Iklan-iklan dipajang dengan semarak, menarik perhatian dengan penuh warna-warni atau corak lampu yang mengundang rasa ingin tahu, dipasang pada papan besar atau selebaran-selebaran yang menempel di tembok.
Kemudian, sepasang mata menatap dari sebuah poster besar di fasad gedung pentas musik yang setua sejarah, kelopak matanya membuka rendah dengan rona wajah yang menampakkan keanggunan sekaligus keagungan. Ia seakan-akan memanggil Blade, mengingatkannya pada perhatian yang diterimanya siang kemarin di tengah-tengah Alun-Alun.
Blade tidak pernah sekalipun menyaksikan pentas musik, dan dia kebingungan seperti bocah tersesat bahkan setelah memasuki pintu gedung pentas yang benar. Penataan panggung persis seperti di film-film yang dia tonton atas paksaan teman-temannya; pencahayaan yang fokus ke bagian tengah dan tirai berat raksasa yang melatari mengilap seperti beledu mahal. Lantainya cokelat keemasan, yang kemudian kalah bersinar dengan sepatu kaca milik sang musisi. Blade tidak ingin menghabiskan waktu barang sepersekian detik dengan berkedip ketika sang diva memasuki arena panggung, dan seluruh lampu sorot mengarah padanya.
Penghayatan sang musisi tidak berbeda dengan yang dilakukannya di pinggir jalan. Ia seakan-akan terlahir dari simfoni melodi itu sendiri dan mewujud di sosoknya. Ia memakai gaun putih yang membuatnya bak dewi dan membuat rambutnya memberikan pernyataan tegas bahwa inilah aku, diriku, dan laguku. Biola sebening kaca itu hanya alat, lagu itu memang menguar dari dirinya sendiri dan dibawa ke dunia seperti potongan-potongan jiwanya sendiri yang diberikan kepada penonton. Ia hanya mengganti jubah, ia masih sama seperti yang Blade lihat di setiap siang Sabtu yang ramai di Kota Tua.
Jantung kota berdenyut dari sisi tertuanya. Dari sanalah kehidupan mengalir, terus hidup, arus manusia adalah keping-keping darah yang mengalir melalui pembuluh-pembuluh yang menyela gedung demi gedung. Bangunan-bangunan mencuri dengar begitu banyak rahasia yang membentuk sejarah, berita dan cerita, gosip yang menjadi nyata, lagu-lagu yang menopang kehidupan. Musisi jalanan adalah bagian dari keseharian, yang menelusup di antara cerita-cerita, dan Blade tidak pernah menaruh perhatian sebanyak ini sampai seseorang mengubahnya.
Sabtu ini, musisi biola itu tidak datang. Hanya pemain saksofon, dan bagi orang-orang lain, dia sama menariknya.
Blade hampir meninggalkan tempat tersebut pada pukul satu lewat lima belas. Mungkin semesta mencukupkannya bertemu dengan musisi itu di panggung pada Selasa kemarin; dia tidak perlu mencarinya hari ini. Dia menghabiskan tetes terakhir kopi hitam pekatnya sebelum beranjak, tetapi seseorang mengambil tempat di hadapannya.
“Maaf. Meja lain penuh.”
Blade bergeming. Tangannya mengepal di meja. Wanita itu disusul oleh seorang pelayan yang membawakan secangkir kopi hitam. Ia tidak membawa biolanya, blazer hitam tersampir di bahunya dan mengingatkan Blade pada jubah putih lembut yang dipakainya di gedung pertunjukan Selasa kemarin; bak sayap sang dewi harmoni.
“Kau tidak bermain hari ini.” Blade tidak bisa menduga apa yang meluncur dari mulutnya, seakan-akan dia sudah mengenal musisi ini seumur hidupnya untuk bisa bicara seperti itu.
“Pemain saksofon itu baru saja kehilangan neneknya. Dia butuh seluruh perhatian dan kasih sayang dari orang-orang untuk obat hatinya.”
Blade menatap wanita itu, mencari-cari jiwanya. Sorot matanya memancar berani, tak goyah.
“Siapa yang kau sukai?” Perempuan itu menelengkan kepala. “Paganini? Kreisler? Brahms?”
“Aku … tidak tahu siapa-siapa. Atau apa-apa.”
“Kau penikmat umum, rupanya,” wanita itu mengintip melalui bibir cangkir yang menutupi sebagian wajahnya. “Terima kasih sudah menontonku seperti seorang kurator yang tahu cara menilai.”
Blade memasukkan kedua tangannya yang canggung di saku. Dia melihat jari-jari lentik wanita itu yang kuku-kukunya pendek dan mengilap, sesekali mengetuk meja seperti rangkaian irama. Perempuan itu pun menyodorkan tisu kepada Blade. “Kau memakai jubah hitam di musim panas Praha ini, pasti panas sekali.”
Blade menatap tisu itu ragu. Di balik lipatannya yang ganjil, seberkas tinta mengintip, membentuk ujung sebuah angka. Dia meraihnya perlahan, membuka lipatan tersebut seperti seorang anak yang ingin tahu peruntungan di balik lotre kecilnya.
“Aku masih senang bermain musik di Kota Tua,” tambah wanita itu. “Di sini, sejarah seperti abadi. Jam itu telah menyaksikan cerita hampir sebanyak Perpustakaan Klementinum,” ia mengedikkan dagu ke arah Pražský Orloj, sang Jam Astronomi yang berdetik jemu. “Tapi mungkin saja, aku akan pindah tempat, menghayati tempat yang baru.” Ia tersenyum, lagi-lagi tersembunyi di balik bibir cangkirnya. “Kau bisa tahu aku di mana.” Ia memberi isyarat pada tisu yang dipegang erat-erat oleh Blade.
Hari itu, jantung Kota Tua berdenyut seperti biasa. Hangat, sesekali diselingi debaran. Jam Astronomi sudah terlalu banyak memberikan manusia-manusia itu waktu—tetapi selalu ada kesempatan-kesempatan baru yang tercipta di antara detik-detiknya yang terus bergulir.
