Chapter Text
Gemini duduk diam di ruang tamu, cahaya sore menyoroti debu-debu halus yang melayang di udara. Ujung jarinya mengetuk lututnya dalam irama yang tak sabar, ketukan kecil yang nyaris tenggelam dalam suara berat ayahnya yang memenuhi ruangan.
"Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan reputasi perusahaan. Empat dari tujuh dewan direksi bilang mereka akan mundur kalau skandalmu muncul lagi. Titicharoenrak Group membangun gedung-gedung pencakar langit, tapi fondasinya goyah sejak pewarisnya lebih dikenal di klub malam daripada ruang rapat.”
Gemini tidak benar-benar mendengarkan.
Dia tahu namanya sudah hancur. Skandal, pesta, ciuman di sudut-sudut kelab dengan orang-orang yang tidak ia ingat namanya, tangan-tangan yang mencengkram lengannya di bawah cahaya neon. Foto-foto yang bocor ke publik, komentar sinis yang menyertainya. Dia tahu semua itu.
Tapi yang tidak dia mengerti adalah—mengapa dia harus menikah dengan seseorang yang bahkan tidak dia kenal?
"Dia anak yang baik," ibunya berkata dengan nada sehalus sutra. "Orang-orang akan lebih mudah percaya kalau kalian menikah karena cinta. Itu yang kita butuhkan sekarang, bukan?"
"Namanya Fourth," ayahnya menambahkan, meletakkan berkas di atas meja.
Gemini menarik napas, membiarkan matanya jatuh ke atas foto yang tertera di sana.
Wajah asing.
Mata lembut, senyum tipis yang terlalu tenang untuk seseorang yang akan menikahi pria seperti dirinya.
"Jangan khawatir," ibunya menambahkan, senyumnya seperti bayangan samar di cermin yang berembun. "Kami sudah memastikan dia setuju."
Gemini menyeringai miring. "Oh? Jadi dia memang ingin menikahi orang sepertiku?"
Ayahnya mendesah. "Jangan buat ini lebih sulit dari yang seharusnya, Gemini. Kamu hanya perlu menyetujui pernikahan ini. Dia akan menjadi citra bersih yang kita butuhkan."
Gemini mendongak, menatap langsung ke mata ayahnya. Ada sesuatu yang aneh dalam semua ini.
Mengapa Fourth tidak menolak?
Mengapa dia setuju?
Tapi dia tidak bertanya.
Karena bagi Gemini, itu tidak penting.
Ini hanya pernikahan bisnis. Itu saja.
.
Gemini tidak pernah membayangkan dirinya menikah seperti ini.
Di bawah cahaya lampu yang terlalu terang, kilat kamera yang berkedip seperti bintang-bintang palsu, dan suara tawa yang terdengar lebih seperti skrip yang dihafal daripada kebahagiaan yang sungguh.
Aula besar itu penuh dengan bunga putih berlebihan, gaun dan jas yang dirancang untuk menyempurnakan kebohongan ini—seolah mereka benar-benar dua jiwa yang saling melengkapi.
Dan di sampingnya, seseorang yang baru ia temui hari ini.
"Coba kita lihat pasangan barunya!" Suara MC menggema di dalam aula. "Gemini dan Fourth, bisa saling menatap sebentar?"
Gemini menoleh, bertemu dengan mata Fourth untuk pertama kalinya hari itu.
Dan anehnya, Fourth tidak tampak gugup.
Tidak ada kecanggungan, tidak ada ketegangan di sudut bibirnya. Hanya senyum tipis, seolah dia telah mempersiapkan diri untuk momen ini sepanjang hidupnya.
Senyum yang terlalu luwes untuk seseorang yang baru saja menikahi pria sepertinya.
"Kalian ini pasangan yang serasi sekali," MC kembali berbicara, suaranya penuh semangat. "Bagaimana rasanya akhirnya menikah?"
Gemini membuka mulut, tapi sebelum dia sempat menjawab, Fourth sudah lebih dulu menyandarkan kepalanya ke bahunya.
"Aku masih gak percaya," Fourth berbisik, cukup dekat hingga mikrofon menangkapnya. "Rasanya seperti mimpi."
Ruangan meledak dalam gemuruh suara. Tepuk tangan, sorak-sorai, tawa kecil yang terdengar seperti bagian dari naskah.
Gemini menatap Fourth, separuh dirinya ingin menjawab dengan sarkasme, ingin mengatakan sesuatu yang sinis hanya untuk membalas permainan ini.
Tapi Fourth menatapnya dengan sorot mata yang terlalu jernih, terlalu percaya diri.
Gemini tertawa kecil.
"Ya… aku juga masih gak percaya," katanya, separuh jujur, separuh main-main. "Tapi katanya cinta itu datang di saat yang tidak terduga, kan?"
Gemuruh semakin besar. Kamera semakin banyak mengarah ke mereka.
Dan Fourth?
Fourth tersenyum sedikit lebih lebar, sedikit lebih puas, seolah dia sudah tahu Gemini akan menjawab seperti itu.
.
Mereka menari di tengah aula, langkah-langkah mereka sehalus gelombang yang merayap ke tepian pantai.
Gemini bisa merasakan mata-mata yang mengikuti setiap gerakan mereka, penilaian yang menggantung di udara seperti debu halus yang tak terlihat.
Dan Fourth tahu itu.
Saat Gemini hendak melangkah mundur, Fourth justru menariknya sedikit lebih dekat.
Lembut, tapi cukup kuat untuk memastikan Gemini tidak bisa menjauh.
"Jangan buru-buru," Fourth berbisik, nyaris seperti desiran napas di atas kulit. "Kita masih harus membuat mereka percaya, kan?"
Gemini tertawa kecil. "Memang kamu tahu caranya?"
Fourth mengangkat bahu, matanya tenang. "Aku bisa pura-pura mencintaimu lebih baik dari siapa pun."
Gemini tidak tahu kenapa, tapi kata-kata itu terasa… aneh.
Bukan dalam cara yang buruk.
Tapi seperti sesuatu yang memiliki makna lebih dari yang seharusnya.
Seperti kebohongan yang terlalu sering diulang hingga hampir menjadi kebenaran.
Dan saat lagu berakhir, Fourth menatapnya dengan mata berbinar, dan tangan mereka masih saling menggenggam.
Gemini berpikir—jika ini hanya permainan, maka Fourth memainkannya dengan sangat baik.
Mungkin terlalu baik.
.
Gemini terbiasa sendirian.
Bahkan di antara orang-orang, dia selalu punya jarak yang tidak bisa dijembatani. Sebuah ruang kosong yang tidak pernah benar-benar bisa diisi oleh siapa pun.
Tapi Fourth… Fourth tidak mencoba untuk mengisi ruang itu.
Dia hanya ada.
Malam pertama mereka di rumah baru, Gemini berdiri di ambang pintu ruang tamu. Fourth sedang menyusun buku, jarinya menyusuri punggung buku seperti sedang membaca dengan sentuhan.
"Kenapa diam?" Fourth bertanya tanpa menoleh.
Gemini mengangkat bahu, padahal dia tahu Fourth tidak melihat. “Sedang berpikir."
Fourth tertawa pelan, suaranya ringan. "Jangan terlalu keras. Kamu bisa pusing sendiri."
Gemini mendengus, tapi untuk pertama kalinya, dia tidak merasa ingin membalas dengan sarkasme.
Dia hanya memperhatikan Fourth menutup buku terakhir, lalu berbalik dengan ekspresi santai seolah mereka sudah tinggal bersama selama bertahun-tahun.
Itu aneh.
Tapi untuk malam itu, Gemini membiarkan dirinya tidak terlalu banyak berpikir.
.
Pernikahan mereka terlalu mudah.
Gemini sudah mendengar banyak cerita dari temannya yang menikah—tentang bagaimana pasangan bisa bertengkar hanya karena cara melipat handuk, atau bagaimana ada ribuan kebiasaan kecil yang baru terlihat setelah berbagi rumah dengan seseorang.
Tapi dengan Fourth? Tidak ada masalah. Tidak ada bentrokan.
Fourth tahu di mana dia meletakkan barang-barangnya. Fourth tahu bagaimana dia suka tehnya, bagaimana dia suka suhu kamarnya, bagaimana dia suka sentuhan di antara mereka—tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menghangatkan udara di sekitar mereka.
Dan Gemini tahu... harusnya ia bertanya.
Kenapa Fourth tahu semua itu?
Tapi dia malah merasa… ini nyaman.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia berpikir bahwa mungkin memang begini seharusnya pernikahan itu.
Mungkin Fourth bukan sekadar seseorang yang berbagi atap dengannya.
Mungkin Fourth bukan sekadar aktor yang mahir dalam kebohongan.
Mungkin, hanya mungkin—Fourth memang seharusnya ada di sini sejak awal.
.
Gemini pulang lebih lambat hari itu. Hari yang panjang, penuh rapat, penuh tuntutan dari ayahnya.
Saat dia melangkah masuk, rumah sudah tenang. Lampu ruang tamu menyala temaram—cahaya hangat yang mengambang pelan di udara, membungkus dinding dan sudut-sudut dalam semacam rasa nyaman yang terlalu rapi untuk benar-benar tulus.
Fourth duduk di sofa, punggungnya sedikit membungkuk, sweater longgar yang ia kenakan jatuh di bahunya seperti ia lupa tubuhnya punya bentuk. Laptop masih menyala di pangkuannya, jari-jarinya diam di atas keyboard, tapi tak satu pun huruf ditulisnya.
Setelah menikah, Fourth memilih bekerja dari rumah.
Bukan karena dia malas, bukan juga karena tidak mampu.
Tapi karena dia lelah—lelah untuk membuktikan apa pun kepada dunia yang tak pernah melihatnya benar-benar.
Dia tidak lagi ingin meroketkan kariernya, tidak lagi ingin menanjak terlalu tinggi.
Toh, suaminya sudah cukup tinggi untuk mereka berdua.
Calon pewaris perusahaan.
Anak dari keluarga besar.
Gemini.
Dan di tengah semua itu, Fourth memilih diam. Memilih ruang sunyi di antara dinding putih dan layar laptop.
Tidak ada suara selain dengung mesin yang nyaris mati.
Dan napas pelan yang terasa seperti sisa dari hari yang terlalu panjang.
Dia menoleh begitu mendengar pintu terbuka. "Dari tadi belum makan, ya?"
Gemini menggumam. Melempar jas ke sofa, lalu duduk di sebelah Fourth. Kepalanya jatuh ke bahu pria itu. Tanpa berpikir. Tanpa basa-basi.
Fourth tidak bergerak.
Tidak kaku. Tidak terkejut.
Seolah… ini memang tempatnya.
Gemini menghela napas, membiarkan kepalanya tetap di sana. Fourth selalu tahu kapan dia butuh diam. Kapan dia hanya butuh kehadiran seseorang tanpa kata-kata.
"Dua menit aja," gumamnya.
Fourth tidak menjawab.
Tapi dia juga tidak bergerak sedikit pun.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Gemini membiarkan dirinya diam dalam kehadiran orang lain—tanpa merasa harus mempertahankan apa-apa..
.
Gemini berjalan menuju kamar mandi, menyalakan keran tanpa berpikir. Jemarinya menyentuh air yang sudah menggenang di bathub, dan saat itu juga, langkahnya terhenti.
Hangat.
Tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin.
Pas.
Gemini mengernyit, mengangkat wajahnya, seolah mencari jawaban dari ubin kamar mandi yang mengilat.
Dia selalu berpikir dirinya sulit dipahami. Terlalu spesifik dalam kebiasaan-kebiasaannya, terlalu perfeksionis untuk urusan kecil seperti seberapa panas kopi harus disajikan, atau bagaimana suhu air harus terasa saat menyentuh kulitnya. Tidak ada yang pernah benar-benar bisa menebaknya dengan tepat.
Tapi Fourth bisa.
Seolah itu hal yang mudah.
Gemini menarik napas pelan, mengusir pikirannya sendiri. Tidak penting.
Dia duduk di bathtub, airnya pas. Seperti selalu. Seperti sudah lama tahu tubuhnya. Dan entah kenapa, itu membuatnya ingin bertanya, tapi tak tahu kepada siapa.
.
Udara malam masih menyisakan sedikit kelembaban di jendela, sisa dari hari yang terlalu penuh. Kamar tidur terasa lebih sunyi dibanding ruangan lain di rumah, seolah menjadi tempat di mana semua hal yang ribut diredam menjadi diam.
Gemini menarik selimutnya, melirik ke samping.
Fourth sudah ada di sana.
Awalnya, mereka tidur di sisi masing-masing. Ada garis tak kasatmata yang mengukuhkan bahwa meskipun mereka berbagi tempat tidur, mereka tetap dua orang asing.
Tapi seiring waktu, batas itu mulai kabur.
Fourth selalu tertidur menghadapnya, meski jaraknya tetap ada.
Fourth selalu bangun lebih pagi, tapi entah kenapa, dia tidak pernah meninggalkan tempat tidur sebelum Gemini lebih dulu terjaga.
Fourth selalu tahu kapan Gemini terlalu lelah untuk bicara sebelum tidur, kapan dia hanya menginginkan keheningan, kapan yang dia butuhkan lebih dari sekadar keberadaan seseorang di ruangan yang sama.
Dan malam ini, Gemini tidak bisa tidur.
Dia berguling, menatap Fourth yang sudah terlelap.
Lampu tidur memancarkan cahaya keemasan, membentuk bayangan lembut di sepanjang garis wajah Fourth. Napasnya teratur, matanya tertutup rapat, seolah tak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa mengganggunya.
Gemini mengamati detil-detil kecil yang biasanya tidak ia pedulikan.
Cara rambut Fourth jatuh sedikit berantakan di dahinya. Cara jemarinya menggenggam ujung selimut, seolah mencari sesuatu yang bisa dipegang dalam tidurnya. Cara napasnya yang tenang terasa lebih dekat daripada yang seharusnya.
Ada sesuatu tentang Fourth yang terasa… terlalu pas.
Terlalu cocok
Terlalu familiar dalam hidupnya.
Seharusnya tidak seperti ini.
Tapi Gemini tidak berpikir panjang.9
Dia hanya menarik selimutnya lebih tinggi, bergeser sedikit lebih dekat, membiarkan jarak yang dulu ada perlahan menghilang.
Matanya perlahan terpejam.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama—Gemini tertidur tanpa mimpi.
.
Gemini mulai memperhatikan sesuatu.
Bagaimana Fourth tahu ia suka buku ditata berdasarkan warna, bukan genre. Bagaimana Fourth selalu tahu kapan Gemini ingin bicara, dan kapan hanya ingin ditemani diam.
Bahkan cara Fourth tahu dia mengetuk meja tiga kali setiap kali berpikir.
Itu bukan hal-hal yang bisa ditebak.
Bukan hal-hal yang bahkan Gemini sadari tentang dirinya sendiri... sampai orang lain menunjukkannya.
Gemini mulai mencuri pandang lebih sering. Bukan karena tertarik secara romantis.
Tapi karena penasaran.
Siapa sebenarnya Fourth?
Tapi setiap kali Gemini mencoba bertanya balik, mencoba membuka celah untuk mengenal Fourth lebih jauh, dia selalu dihadang oleh sesuatu yang hampir tak terlihat.
Bukan karena Fourth pendiam. Tidak.
Fourth bisa berbicara panjang lebar tentang apa saja—politik, film yang baru saja ia tonton, berita terbaru yang sedang ramai dibicarakan orang.
Tapi ketika pertanyaannya lebih personal?
Jawabannya selalu mengambang.
Dan semakin lama, semakin Gemini menyadari pola itu.
.
Malam itu, mereka makan malam di rumah keluarga Gemini.
Fourth terlihat begitu mudah berbaur. Membantu ibu Gemini menyiapkan meja, menanggapi obrolan ringan dengan para kerabatnya, tersenyum sopan seperti seseorang yang sudah lama menjadi bagian dari rumah ini.
Gemini duduk di meja, memperhatikan dari kejauhan.
Dia sudah terbiasa melihat Fourth berbicara dengan begitu nyaman, seolah tidak ada hal yang bisa membuatnya goyah.
Tapi kali ini, dia mencoba melihat lebih dalam.
"Jadi, Fourth," suara seorang kerabat terdengar di sela-sela makan malam. "Kamu gak cerita banyak soal keluargamu. Mereka tinggal di mana sekarang?"
Fourth berhenti sesaat—tidak lama, nyaris tak terlihat.
Lalu, dengan tenang, ia tersenyum kecil, menyesap air putih sebelum menjawab, "Mereka sudah lama gak bareng aku."
Gemini mengerjap.
Jawaban itu terdengar… akrab.
Karena Fourth selalu mengatakannya setiap kali seseorang bertanya tentang keluarganya.
Tidak ada nama.
Tidak ada detail.
Hanya sepotong kalimat yang cukup sopan untuk tidak menimbulkan pertanyaan lebih lanjut.
Dan untuk pertama kalinya, Gemini merasa itu aneh.
Saat semua orang selesai dengan makannya, saat suara tawa perlahan meredup dan piring-piring kosong mulai ditumpuk seadanya oleh para asisten rumah tangga, yang tersisa hanya mereka.
Duduk berdampingan di ujung meja makan yang panjangnya seperti meja billiard—dingin, kosong, terlalu luas untuk dua orang yang pernah begitu dekat tapi kini tak tahu harus saling menyapa dari mana.
Lampu gantung di atas kepala mereka menggantung rendah, cahayanya jatuh lembut di atas sisa makanan dan garis rahang yang tegang.
Fourth duduk tegak tapi tidak tenang. Untuk pertama kalinya, dia tampak gugup—dan bukan karena takut, bukan karena marah. Tapi karena ada sesuatu dalam udara malam ini yang terasa berbeda. Terlalu dekat. Terlalu personal.
Jarinya sibuk memilin ujung kain serbet, menggulungnya pelan hingga membentuk spiral kecil yang tak pernah selesai.
Matanya menatap ke depan, tapi jelas tidak melihat apa-apa.
Kepalanya dipenuhi dengan sesuatu yang berat dan mengambang.
Kenangan, mungkin. Atau hanya keheningan yang terlalu padat.
Gemini menelan sisa makanannya perlahan. Ada jeda.
Lalu, dia berdehem pelan—nyaris ragu, nyaris seperti ingin menarik suaranya kembali. Tapi dia tetap menatap Fourth.
Bukan tatapan dingin, tapi juga bukan hangat.
Seperti seseorang yang masih mencari letak luka, takut menyentuhnya, tapi ingin tahu seberapa dalam.
"Dulu kamu kuliah di mana?"
Pertanyaannya terlontar begitu saja, ringan seperti kapas.
Fourth menoleh, sedikit mengangkat alis. "Kenapa tiba-tiba tanya?"
Gemini mengangkat bahu. "Baru sadar aku gak tahu banyak soal kamu."
Fourth tertawa kecil, nada suaranya ringan. "Baru sadar sekarang?"
Gemini menatapnya, menunggu.
Fourth meletakkan sumpitnya, menatap balik dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Kenapa ingin tahu?"
"Karena kamu tahu banyak tentang aku," jawab Gemini santai.
Fourth tersenyum tipis. Ada sesuatu yang samar dalam matanya, seperti seseorang yang menyembunyikan sesuatu di balik tirai yang terlalu rapi.
Perlahan, ia mengambil serbet yang tadi dipilinnya, mengelap tangannya dengan gerakan yang hampir terlalu tenang.
"Mungkin karena aku lebih suka mendengar daripada bicara."
Dan Gemini—Gemini tidak bisa menyangkalnya.
Karena jawaban itu terlalu mulus, terlalu halus untuk bisa diperdebatkan.
Sepulang dari rumah orang tua Gemini, mereka duduk di sofa, TV menyala tanpa benar-benar ditonton.
Fourth bersandar dengan santai, jemarinya memegang remote, membolak-balik saluran dengan malas.
Gemini melirik sekilas.
"Kenapa kamu setuju menikah denganku?"
Fourth tidak langsung menjawab.
Gemini menoleh, mencoba membaca ekspresinya.
"Apa kamu butuh uang? Atau ada alasan lain?"
Fourth tertawa kecil, suara itu terdengar ringan, tapi tidak sepenuhnya main-main. "Aku gak bilang aku butuh uang. Tapi menikah dengan seseorang sepertimu jelas bukan keputusan yang buruk, kan?"
Gemini menyipitkan mata.
Jawaban yang terlalu… diplomatis.
"Kamu tahu banyak tentang keluargaku. Tapi aku gak tahu apa-apa soal kamu," katanya pelan. "Gimana kalau ternyata kamu punya motif lain?"
Fourth menghela napas, menaruh remote di pangkuannya.
"Kalau aku punya niat buruk, bukannya seharusnya udah kelihatan dari awal?"
Gemini terdiam.
Fourth ada benarnya. Jika ia memang memiliki rencana lain, seharusnya sudah ada sesuatu yang berantakan sejak lama.
Tapi tetap saja.
Ada sesuatu tentang Fourth yang tidak sepenuhnya bisa ia pahami.
Dan semakin lama, semakin ia menyadari bahwa rasa penasarannya tumbuh lebih besar daripada yang seharusnya.
Gemini mulai mencoba mengamati Fourth lebih dekat.
Bukan dengan cara yang mencolok—dia bukan tipe orang yang akan bertanya langsung. Tapi setiap kali Fourth berbicara, dia mulai mendengarkan lebih dalam, mencari celah dalam kata-kata yang biasanya terlalu mulus untuk bisa dipertanyakan.
"Lagu favoritmu apa?"
Pertanyaannya muncul begitu saja saat mereka duduk di ruang tamu, masing-masing dengan segelas teh di tangan.
Fourth mengangkat alis, lalu mengangkat bahu. "Aku suka banyak lagu."
Jawaban yang sangat Fourth. Tidak menjawab, tapi juga tidak bisa disanggah.
Gemini mendengus. "Tapi kalau harus pilih satu?"
Fourth berpikir sebentar, lalu tersenyum tipis. "Mungkin sesuatu yang tidak terlalu banyak orang tahu."
Gemini tidak membalas.
Tapi malam itu, saat dia mencari tahu lebih banyak tentang Fourth, tidak ada satu pun jejak online tentangnya.
Itu aneh.
Dan itu membuat Gemini semakin ingin tahu.
