Chapter Text
“AMPUUNNNI HAMBBAA!!”
“AAAAAAAAA PANASSSSS!! PANASSSS!!!”
“SAAAAKITTTTTT!!!”
George mengembuskan napasnya, dia membenarkaan posisi irisan ketimun merah di atas kelopak matanya. Iblis cantik ini lagi menikmati me time setelah seminggu lalu berhasil menjebloskan segunung koruptor ke jahanam.
Alhasil dia bebas dari tugas menggoda manusia.
Si Cantik lagi tiduran manja sambil maskeran lava cair varian ‘Penyesalan Masa Lalu’—favoritnya karena ada efek cooling sensation dari air mata para pendosa. Di tangan kanannya bertengger cangkir isi darah segar hangat hasil perasan orang-orang yang hobi main judi.
Ahhh mantap banget, kan?
KRRINGGGGG
Baru juga mau merem, panggilan interkom dari ruang paling atas berbunyi.
“George, Arvid, ke ruangan saya. SE-KA-RANG.”
BRAK!
George meletakkan cangkirnya kasar, minumannya sampe tumpeh-tumpeh.
“Apaan sih, elah! Ganggu orang lagi maskeran aja, hmmmph!” gerutu George sambil berdiri dan merapatkan bathrobenya. Meski mulutnya ngedumel tanpa henti, kakinya tetap melangkah ke lift dan menuju ke lantai paling atas.
Setiap langkahnya dihentakkkan kesal dan ekor lancip miliknya menyabet dinding lift ke kanan dan ke kiri menandakan kalau mood-nya hancur total.
🏁🏁🏁
BRAKK!
“Apa sih pak?! Gak tau saya lagi cuti?!” George dateng-dateng ngegas.
Bos neraka mereka, alias Nico Hulkenberg—atau biasa dipanggil Pak Hulk sama seluruh penghuni neraka—cuma cengengesan doang di balik meja kerjanya seolah dia gak merasa abis membangunkan macan tidur.
“Tuh liat sendiri kan, Vid,” katanya santai sambil menunjuk George. “Seniormu yang satu ini, ekornya gak pernah bohong.”
Arvid, si iblis yang baru menetas sekitar seminggu yang lalu—entah waktu akhirat atau waktu bumi—hanya tersenyum kikuk.
“hahaha iya, Pak…”
“Duduk dulu dong, cantikku. Jangan ditekuk gitu mukanya. Nanti aset neraka paling berharga malah lecek, terus gak bisa ngajak orang-orang di Bumi maksiat lagi, rugi bandar kita nanti,” goda Pak Hulk sambil ngedipin sebelah matanya.
George bergidik ngeri, lalu duduk di sebelah Arvid.
“Ck. Udah cepetan ah pak! Masker saya keburu retak. Susah bilasnya nanti!” George berdecak kesal, ekornya masih bergoyang kanan-kiri. Sementara kedua tangannya sibuk memastikan masker wajahnya gak keburu pecah.
Sementara itu Arvid sebagai iblis yang masih anget-anget kuku di neraka, menggeser bokongnya beberapa senti. Lebih baik menjaga jarak.
Awalnya Arvid mengira bakal digantung terbalik, dicambuk pakkai rantai api, atau direbus di kuali neraka. Nyatanya? Dia malah dikasih seragam, ID card sama disuruh absen sidik jari setiap pagi lalu ditempatkan di Divisi Sales Maksiat.
Neraka…ternyata aneh juga, ya…
Tapi yang lebih aneh lagi, Arvid sama sekali gak punya ingatan sedikit pun soal masa lalunya. Kenapa dia bisa berakhir di tempat gersang dan penuh api ini? Dosa apa yang pernah dia lakukan semasa hidup?
Gak ada yang bisa menjawab.
Kepalanya kosong melompong.
Bukan cuma Arvid, bahkan Senior George juga mengalami hal yang sama. Saat pertama kali menetas di neraka, semua ingatannya lenyap begitu aja. Tapi dia bilang jangan pernah ambil pusing soal masa lalu.
“Gak usah dipikirin, gak penting mungkin makanya dihapus,” begitu kata Seniornya seminggu lalu.
Masa lalu biarlah masa lalu.
Bahkan buku panduan iblis yang selalu jadi pegangan Arvid, cuma mencantumkan bahwa:
“Setiap iblis yang menetas di sini adalah insan putus asa yang pernah mempertanyakan eksistensi Tuhan.”
Tapi ya sudahlah. Itu urusan belakangan. Soalnya sekarang Arvid lagi sibuk takut setengah mati ini.
Soalnya semakin semangat Pak Bos menggoda, semakin besar pula keinginan si iblis senior cantik buat melempar beliau ke luar jendela pakai ekornya.
Entah mana yang bakal kejadian duluan.
Beliau puas godain atau beliau dilempar ke luar jendela.
“Bos gue emang hobi nyari mati, ya…”
Eh?
Kan kita semua udah mati anjay!
“I-izin, Pak Hulk… ini kita berdua dipanggil ke sini karena ada tugas apa ya, Pak?” cicit Arvid takut-takut.
Suaranya kecil banget, matanya melirik ke George melulu, takut tiba-tiba diterkam atau ditempong pake masker lava miliknya yang baunya kayak belerang campur boncabe.
Pak Hulk membenarkan posisi duduknya, dia berdeham keras.
“Ohh iya, ekhem. Jadi kenapa saya panggil kalian berdua ke sini, karena saya tuh gak suka ya alam sebelah makin banyak pengikutnya. Cih! marketing kita belakangan ini kurang gacor.”
George mengernyit lalu memutar bola matanya.
Ah. Surga maksudnya.
“Target kita kurang variatif, monoton banget! Masa tiap hari isinya cuma koruptor, penjudi, penipu, pemabok? Bosen saya liatnya!” keluh Pak Hulk menepuk mejanya lebay.
George meniup poninya biar gak kena masker di jidatnya, sementara kedua tangannya dilipat di depan dadanya. “Ya terus? Hubungannya sama saya apa, Pak? Cepetan deh, to the point aja.”
“Kita mesti berinovasi kayak Jerman ngembangin mesin!” Pak Hulk berdiri dari kursinya, matanya berbinar-binar penuh ambisi jahat.
George menghela napasnya panjang.
“Saya mau kalian berdua turun ke Bumi.” Pak Hulk menunjuk mereka bergantian. “Godain yang namanya so-called pastor-pastor ‘suci tanpa dosa’ di sana. Buat iman mereka goyah sampe ke akar-akarnya!”
Ekor George menegang sesaat.
Dadanya terasa sesak sebentar lalu menghilang begitu saja.
Pastor.
Aneh…
Seolah dia pernah mendengar kata itu berkali-kali.
Tapi… dari mana?
“Hah?! Pastor? Yang bener aja Pak. Saya baru seminggu netes di sini udah dikasih proyek kelas kakap begini.” seru Arvid heboh.
Suaranya berhasil membuyarkan lamunan George.
“Ini saya udah punya target yang pas buat kalian. Gampang banget ini mah, wong gender kedua mereka bertolak belakang sama kalian. Pas lah buat mancing-mancing sedap,” kata Pak Hulk seenak jidatnya yang jenong, seolah-olah tugas ini segampang membalikkan telapak tangan.
Wush! Wush!
Pak Hulk melayangkan dua bundel map berwarna putih bersih. Map-map itu meluncur mulus di atas meja dan berhenti tepat di hadapan George dan Arvid. Dari sana samar-samar tercium bau dupa suci yang bikin hidung sang senior langsung berkerut gak suka.
“Huwekk!” George hampir aja muntah.
“Anjer! Ini wangi apaan dah?! Awhh PANAS!” sang senior menjerit heboh begitu tangannya tidak sengaja menyenggol ujung map itu sedikit.
Cessss!
Ujung jarinya mengeluarkan asap tipis, menyisakakn bekas luka bakar kecil berwarna kemerahan. Ekor George dengan refleks menusuk map SIALAN itu kemudian menjauhkannya sejauh mungkin. Muka cantiknya langsung masam, ekspresinya prengat-prengut.
“Bisa-bisanya Bapak ngasih ginian ke saya?! Ini namanya kekerasan di tempat kerja! Liat nih tangan mulus saya jadi korban! Bau dupa suci alam sebelah, iyuuuuhh najis banget, cih!” omel George panjang kali lebar sama dengan volume.
Dia meniup-niup jarinya yang masih perih sementara matanya melotot tajam ke arah Pak Hulk.
Sementara itu Arvid di sebelahnya ikutan panik. Ya gimana gak panik? Seniornya aja kebakar abis menyentuh map suci itu.
Apa kabar dia yang baru seminggu jadi Iblis?
Bisa-bisa jarinya buntung lagi nanti. Belom siap dia.
Pak Hulk malah ketawa ngakak, gak ada bersalah sama sekali. “Makanya Ge, itu tandanya iman target kalian kuat banget. Baru megang profilnya aja udah kebakar, gimana nanti pas kalian berhasil hancurin imannya? Pikirin bonusnya, wahai iblis tercantik seneraka…”
“Emangnya gue bisa dapetin apa dari misi ini?”
Walau wajahnya masih masam, namun jelas banget di mata birunya ada kilatan tertarik kalau sudah menyangkut bonus.
“Seminggu… paid vacation.”
George hanya berdecak, seminggu doang mah kecil banget. “Ck.”
“Ehh belum selesai saya ngomongnya, sayang. Seminggu… paid vacation, waktu neraka.”
George mengangkat sebelah alisnya. “Yang bener?”
Pak Hulk mengangguk santai, jarinya dijentik-jentikkan.
“Tujuh ribu tahun cuti dari Bumi. Gaji tetep jalan.”
Mendengar omongan bosnya, ekor George yang masih menusuk map putih sialan itu bergoyang pelan.
“Terus?”
Pak Hulk hanya terkekeh.
“Apapun varian masker yang kamu mau, cantikku…”
Seringai di wajah bosnya makin lebar.
“Free flow.”
Dua kata itu cukup untuk membuat mata si cantik berubah dari biru menjadi merah bebinar serakah. Satu bungkus masker lava rasa ‘Penyesalan Masa Lalu’ harganya mahal banget. Harus ditukar pake seratus jiwa remaja yang hobinya tawuran baru bisa dapet.
“Free flow beneran ya, pak. Awas aja kalau bohong, saya sumpahin mesin kopi di ruangan bapak isinya berubah jadi air suci semua,” ancam George, masih gengsi tapi keliatan banget kalo dia udah tergiur dan terlena masker gratis.
Akhirnya, dengan sangat amat terpaksa, George menarik ekornya mendekat. Dia menelan ludah, lalu membuka lembaran pertamanya dengan sangat hati-hati. Cuma pakai ujung kuku kelingkingnya yang paling panjang.
Cess… Cesss…
Ada suara desisan tipis tiap kali jari sang senior menyentuh kertas beraroma dupa surga itu. Tapi semua George tahan demi skincare gratisan.
Matanya fokus membaca baris demi baris profil target ambis yang dikasih Pak Hulk.
Arvid cuma bisa menatap seniornya dengan pandangan takjub sekaligus ngeri, makin gak paham dia sama sistem kerja di neraka. Ternyata motivasinya beda-beda, kebetulan seniornya ternyata didorong oleh movitasi kosmetik gratisan.
“Nah gitu dongg, baru namanya George Russell of Asmodeus! Aset terbaik emang gak pernah mengecewakan kalau udah diiming-imingi barang gratis,” ucap Nico bangga banget, sampai menepuk-nepuk dadanya sendiri ala bos-bos sukses setelah dapat sales gede.
George mendengus malas, dia masih sibuk menahan perih di ujung kukunya.
Nico kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Arvid yang daritadi cuma diem kayak kambing congek.
“Arvid, dibuka juga dong itu map kamu. Jangan dipandangin doang kayak liat gebetan. Kita mau bahas dulu satu-satu, biar strategi marketing kita mantap pas turun ke Bumi.”
Arvid gelagapan, dia melirik map miliknya yang sedari tadi memancarkan aura ‘suci’. Jujur bulu kuduknya merinding.
“I-iya, Pak…” cicit Arvid pasrah.
Dengan hati-hati dan tangan yang gemeteran, Arvid mencoba meniru trik George. Tapi dia gak berani pakai tangan kosong, kukunya juga gak sepanjang seniornya. Akhirnya dia celingukan nyari benda tajam, lalu memutuskan untuk pakai pulpen dari tulang jari manusia buat nyungkil lembar pertamanya.
Cessss…
Asap tipis keluar begitu mapnya terbuka, Arvid refleks mundur sampai kursinya bunyi berdecit nyaring. George yang di sebelahnya berdecak.
“Ck elah. Lemah amat sih lu bocah. Baru kena asep dupa aja udah kek mau mati dua kali.”
“Panas loh, Kak! Jariku nanti hilang melepuh.”
End of Chapter 1
Written by a human in Ellipsus.
