Work Text:
Ketika menjalin hubungan dengan Lumine, Ryouta sudah tau bahwa mereka sering dikaitkan sebagai adik-kakak. Entah karena rambut dan matanya mempunyai warna yang sama atau gaya pacaran mereka malah seperti hubungan kakak beradik. Belum lagi mereka sebenarnya masih merahasiakan hubungannya karena belum siap dengan reaksi publik.
Baik Ryouta dan Lumine harus tabah setiap fans mereka secara gamblang mengajaknya untuk pacaran atau ketika rekannya meminta tolong untuk diperkenalkan. Meskipun sebenarnya Ryouta sendiri sudah muak.
"Oi Kise bisakah kamu kenalkan Lumine padaku? Aku ingin mengajaknya berkencan."
"Kise maukah berkencan denganku?"
"Lumine aku menyukaimu! Jadilah pacarku."
"Kise ayo kita pacaran!"
Telinganya panas, omongan mereka bagai jarum yang menusuk-nusuk. Membuatnya suasana hatinya bagai neraka. Tetapi mereka tetap harus memasang wajah bak malaikat. Mengingat profesi mereka sebagai model, salah satu publik figur di dalam kehidupan masyarakat.
Puncaknya saat keduanya berkencan, Ryouta dan Lumine sedang menikmati secangkir coklat panas dan tea early grey serta kudapan soft cookies dan tiramisu. Ryouta tidak mau lagi mengalah pada keadaan.
"Bukankah itu Kise Ryouta dan Lumine Viatrix?" Rungu si pria pirang itu menangkap bahwa mereka sedang dibicarakan. Here we go again, akan muncul opini sampah itu lagi.
"Ah mereka? Sudah biasa itu. Mereka kan kakak-adean doang."
"Ooh benar kah? Syukurlah mereka lebih cocok jadi kakak beradik daripada pacaran."
Kan. Ryouta sudah menduga omongan itu akan keluar lagi.
Tangannya mengepal kuat dan rahangnya mengeras. Ingin ia segera menghampiri orang tersebut dan mencium kekasihnya didepan sana. Persetan dengan reputasi, ia sudah lelah hanya dianggap kakaknya oleh publik. Lumine sadar bahwa kekasihnya telah menahan amarah. Tangan mungilnya menyentuh tangan kekasihnya. Usaha menenangkan si empunya. Lalu membawanya ke arah pipi putihnya. Berhasil mengejutkan si empunya.
"Ryouta.."
Binar manik madunya menawan. Menatap lawan bicaranya penuh cinta.
"Iya Luminecchi?" Ryouta menatap matanya. Menepis sementara moodnya yang sudah jelek.
"Kamu tau bukan betapa aku mencintaimu?"
Dipancing seperti itu, Ryouta menyeringai. Ia ternyata tidak sendirian dalam hubungan ini yang merasa jengah akan keadaan. Lumine pintar menemukan timingnya.
"Tentu saja! Luminecchi kan pacarku yang paling cantik. Tidak mungkin aku menganggapmu sebagai adikku."
Keduanya kini menjadi pusat perhatian. Menyaksikan sepasang dua sejoli tengah beradu romansa. Tak sedikit dari mereka mulai merekam kejadian langka ini.
"Aku juga tidak mau menganggapmu sebagai kakakku."
"Kita harus menunjukkan pada dunia. Bahwa kita adalah pasangan yang saling mencintai, bukan?" ujar Ryouta membelai pipi kekasihnya yang rupawan itu.
Pengunjung dibuat makin terkejut ketika Ryouta dan Lumine sudah berciuman dengan mesra. Manik topaz si pria melirik sekilas pada orang yang sebelumnya meremehkan hubungannya dengan Lumine. Tersenyum penuh kemenangan sebelum kembali mencium kekasihnya.
Dipastikan portal berita akan segera memberitakan berita tentang tereksposnya hubungan sepasang model yang tengah naik daun. Ryouta dan Lumine siap-siap diintrogasi oleh para managernya.
— fin.
