Actions

Work Header

Alesan vest Dohoon lepas.

Summary:

Akhir-akhir ini penggemar boygroup TWS mencurigai bahwa dua anggotanya ada yang sedang berantem, yakni Kim Dohoon dan Choi Youngjae. Banyak yang khawatir tentang bagaimana hubungan mereka renggang di konser beberapa waktu lalu di mana mereka tak mengobrol dan berinteraksi—meski biasanya juga begitu, namun dalam dua hari itu, sungguh seperti sedang ada 2 perang dingin yang terjadi di antara keduanya. Namun, benarkah itu perang dingin? 

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Jadwal terakhir mereka menuju ke jepang untuk promosi suatu brand, jadwal itu telah selesai. Mereka akan kembali ke korea dalam waktu dekat. Jeda yang diberikan untuk mereka beristirahat sejenak ada di antara waktu untuk berangkat ke bandara, saat itu mereka hanya duduk-duduk bermain dengan ponsel masing-masing. Ke limanya dalam ruangan yang sama, ada satu yang tak ada presensinya—Choi Youngjae. Ntah dimana si pemilik rambut coklat itu hilangnya kemana, yang jelas Dohoon terheran-heran. Ia ingat bagaimana ekspresi Youngjae saat panik untuk pergi sesaat. Yang ia ingat, rautnya terlihat panik—nyaris merah, keringetan. Tak paham juga, padahal ruangan itu dingin, sangat dingin. Dohoon tidak begitu menghiraukan dan kembali fokus ke ponselnya dan tepat saat ia menyalakan ponselnya, notif dari Youngjae tertera di atas. Dengan pesan… 

 

“Dohoon, tolongin gue. Kamar mandi pojok, cepet.”

 

Dohoon menyerngit, pesan macam apa ini tanpa konteks yang jelas. Hanya berupa perintah yang terkesan… urgent? Sejujurnya Dohoon tidak begitu suka disuruh-suruh tanpa alasan jelas, jadi ia tanyakan kembali ke si pemilik pesan.

 

“Ngapain? Coba yang jelas.” Dan pesan kembali masuk, dengan cepat, namun itu bukan yang Dohoon ekspektasikan. Berupa foto dengan pencahayaan dan kualitas yang buruk, sepertinya dipotret dengan buru-buru. Dohoon tahu betul apa isi foto itu dan dirinya hanya bisa tersenyum manis sebelum membalas pesan Youngjae.

 

“Oke, tunggu sebentar.”

 

Begitu sampai, Dohoon langsung menuju bilik pojok—belum masuk saja Dohoon sudah mendengar lenguhan-lenguhan tertahan yang terdengar terlalu menggoda untuk diabaikan. Ia mendorong pintu, yang bahkan tak terkunci—Youngjae sangat berbahaya.

 

“Hai—”

 

“Udah ah jangan pake sapaan segala, bantuin gue…” Dohoon memberikan senyuman sembari ia memindai bagaimana Youngjae terduduk di atas kloset dengan celana jins serta boxernya yang sudah turun sampai mata kakinya, tidak lupa dengan si bintang film yang berada di antara kedua pahanya yang mulus—miliknya sudah berdiri tegak, terlihat mengkilap pada ujungnya dan sepertinya kalau saja Dohoon tidak sadar ia sudah begitu lama menatap ia akan ngiler di tempat. Belum diapa-apakan saja Youngjae terlihat berantakan dengan napasnya yang memburu, wajah berpeluh, dan tangan yang terlihat frustasi menunggu Dohoon akan berlutut dan melakukan aksinya.

 

Namun Dohoon tak kunjung melakukan apapun selain menatap Youngjae yang kini menahan malu setengah mati, ia tidak bisa berpikir lurus—yang ia tahu, ia ingin menggunakan mulut kecil milik Dohoon itu, ia ingin keluar di dalam mulut Dohoon. Ia ingin, Dohoon untuk menelan cairan miliknya dengan bulat. Membayangkannya saja Youngjae frustasi dan ingin cepat-cepat sampai ke putihnya. Melihat Youngjae yang sepertinya hampir menangis dibuatnya, Dohoon segera berlutut di antara kedua kakinya yang terbuka lebar. Ia ludahi milik Youngjae sebelum mengulumnya dengan pelan. Desahan berhasil lolos dari mulut Youngjae yang ia tahan-tahan sebelumnya—mulut Dohoon betul-betul hangat, apalagi dengan bagaimana cara Dohoon mengulumnya yang terlampau jago itu membuat Youngjae sekali lagi mendesahkan nama Dohoon. Youngjae sangat amat menikmati pemandangan ini. Belum lagi saat dirinya mencoba membalas tatapan Dohoon yang di bawah sana memaju mundurkan kepalanya dengan tatapannya yang lurus ke Youngjae yang di atas sana. Lidah Dohoon bermain-main di kepala kontolnya, tangannya Dohoon pun tak tinggal diam, ia meremas-remas pelan kedua bolanya sembari Dohoon menunggu reaksi dari si cantik yang terlalu sibuk mendesahkan namanya—jangan bego ah, kalo ada orang lain di kamar mandi ini habislah karir kita. Namun siapa sih yang sibuk memikirkan karir saat kontol yang di dalam mulutnya mulai berdenyut, detik selanjutnya Dohoon merasakan cairan manis muncrat ke dalam mulutnya. Jumlahnya tak banyak namun cukup untuk meleleh keluar di antara sela bibirnya yang masih mengulum milik Youngjae. Si cantik dibuat keenakan, kepalanya sedikit membentur tembok kala putihnya sampai, kepalanya berdenyut dan kosong melompong setelah Dohoon menyepongnya. Dohoon jago, Dohoon mainnya enak.

 

Youngjae akhirnya kembali sadar dan akhirnya sedikit mendorong pundak Dohoon agar kontolnya terlepas, begitu bunyi plop terdengar, Dohoon menelan sisa-sisa cairan yang hinggap di mulutnya. Manis, selalu manis. Cairan lainnya yang jatuh dari mulut Dohoon tak sengaja mengenai vest yang ia kenakan, sehingga jejak-jejaknya cukup terlihat untuk diabaikan. Namun Dohoon tidak menyinggung hal itu dan menunggu Youngjae untuk mengumpulkan kesadarannya kembali.

 

“Ah-hng makasih—” 

 

“Dengan senang hati.” Dohoon baru ingin meninggalkan bilik itu namun Youngjae menahan lengannya. Kontol Dohoon yang besar itu terlihat tegang di balik celana jins miliknya membentuk gundukan yang besar, terlalu jelas untuk diabaikan. Bagaimana bisa Youngjae membiarkan Dohoon meninggalkannya tanpa servis yang sama?

 

“Kenapa?”

 

“Lo ngaceng, masa nggak mau gue bantuin?”

 

“Ah kan lu nggak suka punya gue, katanya pait.” Sialan. Youngjae mengumpat sebelum mencubit kecil perut Dohoon yang membentuk pahatan bak patung dewa yunani. Youngjae memang jarang menelan milik Dohoon, karena kebiasaan Dohoon yang suka merokok itu menghasilkan rasa pahit dan tidak begitu menyenangkan.

 

“Ya makanya jangan ngerokok.”

 

“Kalo lo cinta gue nggak bakal tuh rokok jadi masalah.”

 

“Bacot banget sih lu, pergi ah. Udah males gue bantunya.” Youngjae kini mendorong tubuh Dohoon untuk segera keluar dari bilik kamar mandi. Duh makanya komunikasi yang bener!

Notes:

Authornya nggak pandai nulis bokep, apalagi sepong menyepong tapi karena authornya gila jadi ini lah yang dihasilkan—nggak dibaca ulang karena gue malu. Btw ini beneran nyimeng dan ngawur, elemen Dohoon ngerokok tuh murni pikiran gue aja karena menurut gue begitu ^_____^