Work Text:
"Bisa main, nggak?!"
Bukan hal langka untuk dapati Juhoon—Si Kapten Basket, memarahi Martin di depan rekan setim yang lain. Lapangan yang awalnya riuh itu mendadak hening oleh gelagar amuk Juhoon yang sudah sigap menarik kerah seragam Martin. Wajah manis itu nyatanya lebih mencekam saat berhubungan dengan basket, Juhoon tak pernah menganggap basket hanya sekadar permainan belaka.
"Sorry, Jju, gue beneran udah berusaha tangkep bolanya—"
"Kalo lo lebih fokus, rebound kayak tadi gak mungkin lepas. Emang dasar tolol lo!"
Seonghyeon datang menengahi, "udah, Jju, kita break dulu, ya, biar pada adem."
Juhoon mendorong tangannya agar cengkeraman pada kerah Martin lepas. Tubuh tinggi itu sedikit terhentak ke belakang karena tenaga kapten ini tidak main-main.
"Muak gue, Eom. Satu set latihan dan dia tiga kali gagal tangkep bola, dia ini Center, loh! Pertandingan tinggal dua minggu lagi!" Juhoon masih menggerutu meluapkan kekesalan sejak tadi, anggota tim yang lain tampaknya setuju saja, sebab mereka berharap banyak pada kesuksesan pertandingan yang akan datang dan kesal jika melihat bagaimana permainan Martin tadi tidak membaik juga.
"Iya, mungkin butuh waktu lagi, nanti biar Martin latihan ekstra, ya." Seonghyeon masih berusaha menengahi.
"Kita break 10 menit!" seru Juhoon pada anggota tim yang lain. "Dan buat lo, Martin, selesai latihan hari ini, lo punya kewajiban ngelatih rebound lo lagi!" final Juhoon memberi perintah sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Martin. Juhoon masih dengan wajah kesalnya berbalik, tetapi satu perkataan Martin cukup membuat emosinya meledak lagi.
"Iya, deh, bawel banget," gerutu Martin yang tiba-tiba sudah dihadiahi pukulan di pipinya. Seonghyeon menahan tangan Juhoon yang kapan saja bisa melayangkan pukulan kedua.
"Bangsat! Dipikir gue nggak tahu intensi lo masuk ke tim basket, ha?! Niat lo masuk sini cuma pengen dilihat dan pamer ke cewek-cewek di kampus kita, kan? Itu semua ..." Juhoon menunjuk sekeliling area tribun yang penuh oleh gadis-gadis yang penasaran dengan drama yang terjadi di lapangan, "cewek-cewek itu semua kan yang bikin lo tertarik gabung? Lo cuma pengen perhatian, lo cuma pengen popularitas!"
"Sekali lagi lo main gak becus dan gampang ke-distract sama cewek-cewek itu, gue saranin lo ajuin pengunduran diri."
Kali ini Seonghyeon tidak mau membela atau menengahi, dia tahu dan orang-orang dalam tim juga tahu jika selama ini Martin sibuk membuka panggung popularitas tanpa benar-benar berlatih hal yang dia butuhkan. Memang sudah saatnya Juhoon memuntahkan segala keresahan yang selama ini dirasakan oleh tim, tapi Seonghyeon tidak menyangka Juhoon akan semudah ini melayangkan pukulan.
Martin masih tertunduk. Surainya masih menjuntai berantakan dan dia tidak berniat merapikannya, sebab di baliknya ada sepasang mata yang menaruh dendam pada setiap langkah Juhoon menjauhinya. Tangan yang masih bertengger di atas pipinya yang memerah bukan menahan sakitnya, dia lebih menahan harga diri yang sudah diinjak-injak dan dijatuhkan sedalam mungkin di depan belasan pasang mata gadis-gadis di atas tribun sana.
Memangnya kenapa? Kenapa jika niat Martin ikut menjadi bagian tim basket ini hanya untuk mencari perhatian dari gadis-gadis di kampus?
Martin menggeram marah, matanya tak sarat kebencian bahkan sampai bayangan Juhoon menghilang dari balik pintu.
"Bangsat, seumur hidup gue gak pernah dipermalukan sehina ini!" desis Martin merapalkan tiap hina dina di belakang nama Juhoon sebagai pelampiasan amarah dan kebencian.
Dari sinilah, perubahan sikap Juhoon menjadi misteri yang hanya diketahui oleh Martin seorang.
Pukul sebelas malam dan Juhoon masih berkutat dengan tayangan ulang dari pertandingan tim lawan yang akan mereka hadapi di dua minggu ke depan. Juhoon telaten mempelajari setiap strategi dan defensif yang tim itu gunakan. Sedikit resah mulai merambah, ketepatan serangan dan blokade itu benar-benar menciutkan segala persiapan yang timnya kerjakan.
Juhoon masih termenung bahkan saat tanpa sadar lampu-lampu di dalam kamarnya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya mati total. Juhoon segera mungkin beradaptasi dengan cahaya dari laptopnya, matanya berkelana untuk dapati seisi ruangan gelap gulita.
Gemerisik angin tiba-tiba jadi ikut heboh juga, jendela yang seingat Juhoon sudah ditutup rapat ikuta terbuka blak-blakan dan membiarkan hempasan angin meniupkan tirainya.
Juhoon sigap berdiri dan menutup kembali jendela itu. Tapi sebelum tertutup rapat, matanya sempat mengedar untuk mengabsahkan dugaan mati listrik di kompleksnya. Dan memang benar saja, di area itu gelap gulita, hanya pendar bulan yang menurutnya aneh sekali malam ini, bulat penuh dan berwarna merah.
Juhoon tidak terlalu memikirkannya. Setelah menutup jendela, dia memutuskan menutup juga laptop itu dan memilih tidur. Pikirnya kembali memutar drama konyol yang terjadi siang tadi, Juhoon akui perlakuannya pada Martin memang agak berlebihan, seharusnya ia tidak boleh melayangkan pukulan itu di tengah tsunami emosinya. Tetapi, jika tidak seperti ini, dia tidak yakin bisa menyelamatkan reputasi tim yang akan menjumpai pertandingan dengan tim lawan sehebat itu.
Dengan berpikir seperti itu, rasanya Juhoon tidak terlalu dibebani rasa bersalah.
"Kayaknya gue bakal minta maaf secara personal sehabis pertandingan nanti kelar," gumamnya pada diri sendiri dan terlelap.
Lelap itu rasanya baru beberapa saat kala Juhoon jumpai kehadiran asing di atas ranjang tidurnya. Rasa itu aneh sekali, kadang mengusap lembut wajahnya, kadang bermain-main di area dadanya. Juhoon tidak tahu harus bereaksi seperti apa, badannya tidak bisa digerakkan sama sekali.
Ajaibnya, belaian itu seperti menelanjanginya. Mengekspos bagian-bagian tabu yang kemudian digigiti, diciumi, dan dihisap kuat-kuat. Juhoon meraung dalam tidur, rasanya benar-benar baru untuknya. Kadang ia ingin melenguh nikmat, tetapi kadang ia ingin berteriak karena lonjakan rasa sakit.
Daerah lehernya basah oleh likuid yang Juhoon sendiri tidak tahu asalnya. Putingnya sudah beberapa kali jadi tempat bermain bagi hisapan dan jemari yang siaga memelintirnya atau menggosoknya dengan putaran intens. Wajahnya serasa dikecupi, pusarnya digelitik, dan puncaknya adalah kemaluannya digerayangi naik turun tanpa ampun.
Juhoon dilanda ketakutan, takut akan entitas yang tidak bisa ia lihat, takut dengan hal yang terasa hampir nyata ini, dan takut jika sebenarnya gairah terpendam itu diam-diam menyukai perlakuan ini.
Napas Juhoon sudah tidak teratur lagi, terengah dan berat. Jemari kakinya senantiasa bergulung mencari pertahanan dari rasa nikmat yang kurang ajar. Gerakan pada penisnya benar-benar makin meliar dan Juhoon tidak sadar sudah meloloskan lenguhan.
"Nghh ... ahh, mm." Juhoon menggigit bibir bawahnya. "Tolong ... nghh mau, mau keluar!"
Gerakan pada penis itu malah berhenti, Juhoon mendadak linglung dan malah mengayunkan pinggulnya untuk mencari letak kenikmatan yang tertunda. Juhoon merasa gusar dan frustasi hebat. Hingga suatu sentuhan pada muka bibirnya membuat Juhoon menghentikan gerakan heboh itu, dirinya yang sudah dipenuhi nafsu tidak memikirkan lagi rasa takut atas hadirnya entitas asing yang berusaha mengawininya. Juhoon dengan gerakan pelan dan sensual, membuka bibirnya dan membiarkan benda asing masuk ke dalam mulutnya. Panas, besar, dan berurat. Aroma khas yang tercium ketika benda itu menumbuk hingga ujung, makin membakar berahi Juhoon. Gerakan keluar masuk itu awalnya menyakitkan bagi bibirnya yang terpaksa dibuka lebar dan menyesuaikan ukuran, tetapi ketika dia terbiasa, Juhoon jadi dibuat makin menggila. Awalnya lidah itu hanya pasif saja, kemudian mencoba untuk mengimbangi dengan menari di dalam sana sambil menyambut urat-urat yang menyembul pada benda asing itu. Tak disangka, entitas yang hanya diam saja itu tiba-tiba mengerang tak tahan dengan godaan yang Juhoon ciptakan, ledakan itu sepertinya akan terlontar saat gerakan makin cepat dan brutal. Juhoon meringis, tetapi nafsunya juga ikut bermain dan klimaksnya juga hampir sampai saat kedua putingnya ditarik kuat, suatu likuid meledak dalam mulutnya, dan erangan pelepasan membuat Juhoon juga ikut meramaikan persenggamaan dari penisnya yang sudah memuntahkan laharnya.
Baik Juhoon dan entitas itu sama-sama terengah, yang Juhoon ingat, dia mulai bisa membuka pelan-pelan matanya dan sekilas ia dapati wajah Martin tepat di depannya. Wajah memuakkan itu tersenyum remeh dan mengecupi dirinya.
"Selamat tidur, Cantik!" Hanya itu yang samar Juhoon dengar sebelum akhirnya dirinya benar-benar merasa pulas. Entahlah, dia biarkan hari esok untuk memikirkan mimpi aneh malam ini.
Juhoon duduk di kelas dengan pandangan kosong, Keonho yang seperti biasa melemparkan kejahilan kali ini memilih diam sebab Juhoon memarahinya. Pikiran Juhoon melayang pada kejadian tadi malam, rasanya seperti mimpi, tetapi tadi pagi kasurnya berantakan sekali. Baru kali ini logikanya tidak bisa berjalan normal, dia bingung untuk mempercayai apa.
Tiba-tiba saja Martin masuk ke dalam kelas dan tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Badan Juhoon menegang hebat, sepertinya karena efek mimpi semalam yang Juhoon lihat secara kabur bahwa Martin menindihnya. Tatapan mata itu tidak lama, tetapi entah kenapa tubuh Juhoon bergetar dan memberi sinyal-sinyal menggelitik di sekujur permukaan kulitnya.
Martin duduk tepat di sisi pukul sepuluh barisan depan Juhoon. Tidak ada kata sapa, tidak ada percakapan santai yang dilontarkan. Lelaki tinggi itu sibuk membuka ponselnya dan membalas pesan-pesan yang Juhoon sendiri tidak bisa lihat dengan jelas.
"Tegang banget, Jju?" Keonho sepertinya menyadari ada yang salah dengan temannya, Juhoon hanya menjawab dengan gelengan.
"Lo sakit?" tanya Keonho lagi karena khawatir, niatnya ingin menyentuh kening untuk mengabsahkan dugaannya, tetapi Juhoon menampik tangan itu. Dia menolak sentuhan yang entah mengapa menjadi aneh sejak mimpi semalam.
"Udah aman." Juhoon meyakinkan dan Keonho tidak memperhitungkannya lagi. Tetapi Martin berbeda, dia sesekali sengaja berbincang dengan teman sebelahnya dan membiarkan wajah itu terpampang jelas di depan mata Juhoon.
Selamat, Martin, kini Juhoon tidak habisnya menahan diri untuk tidak membayangkan bagaimana jika mulut itu yang semalam menciuminya, bagaimana jika jemari kekar itu yang semalam bergerilya menggaulinya, dan bagaimana jika gundukan di balik celana itu yang semalam mengisi mulutnya. Juhoon tanpa sadar mematenkan pandangan ke arah gundukan di celana Martin dan menelan ludahnya sendiri. Pandangannya merangkak naik ke atas dan sial! Tatapan mereka bertemu dan terkunci.
"Fuck!" umpat Juhoon dalam hati sambil mengalihkan pandangannya. Martin hanya menampilkan seringai yang tidak dapat terbaca seluk-beluknya.
Hampir seharian ini Juhoon menahan diri agar tidak berpapasan dengan Martin, atau untuk tidak memandang ke arah Martin, atau bahkan untuk tidak berada di dekat Martin. Karena sangat sulit baginya untuk tidak memikirkan mimpi semalam saat Martin tampil di netra matanya. Sudah sekeras apapun usaha Juhoon menjauhkan diri, tetap saja takdir punya cara lain untuk mempermainkannya. Lagi-lagi dia bertemu Martin di kantin, di toilet, di ruang dosen, di lorong kelas, dan sialnya sore ini mereka ada latihan bersama.
Juhoon sudah mempersiapkan mentalnya kuat-kuat. Sudah merapal berbagai mantra untuk meyakinkan dirinya bahwa logikanya lah yang harus bermain saat ini.
Awalnya di ruang ganti semua berjalan normal, Juhoon tidak lagi memikirkan semalam, tetapi dia ceroboh dan tidak melihat sekitar ketika di dalam sana hanya tersisa dirinya dan Martin. Martin mengikis jarak, mendekati Juhoon yang masih sibuk mengikat sepatunya.
Martin berjongkok dan menangkup tangan Juhoon, jangan tanyakan keadaan Juhoon saat ini. Tubuhnya mendadak tersengat gelora yang sama seperti tadi malam. Badannya panas dingin dan menegang.
"Jju ...." Suara berat Martin berdengung dan memainkan memori erangan tadi malam. Juhoon seketika menutup pahanya rapat-rapat.
"Ngh?" Suara Juhoon serak, dia bahkan tidak bisa menimpali dengan baik.
"Gue ... mau ngomong sesuatu," ucap Martin dibuat selamban mungkin, ditambah gerakan jemari Martin yang mulai mengusap-usap permukaan tangan Juhoon.
Entah kenapa Juhoon dibuat tidak berdaya, usapan itu menghantuinya, bagaimana tangan besar itu memberikannya kenikmatan semalam. Mengusap penisnya, mencubit putingnya, dan membelai bibirnya erotis. Juhoon makin meremang, entah dari mana asalnya gelora nafsu itu timbul hanya dengan usapan tangan saja. Juhoon yang masih bisa dikendalikan logika segera menarik tangannya.
"A—apa?" jawabnya gagap.
"Semalam gue mimpi, lo sama gue ...." Martin sengaja menggantung kalimat itu di udara, pandangannya lamban mengarah kepada Juhoon. Tatapan itu membuat Juhoon panik, dia langsung berdiri.
"Udah waktunya latihan," ucapnya memotong apa yang akan diucapkan Martin, Juhoon takut, tetapi dia rasa berhasil menyembunyikannya dibalik wajah seriusnya itu.
"Oke, Capt!" Martin memberi seringai lagi sambil berdiri dan menyusul Juhoon menuju lapangan.
Latihan hari ini berjalan sangat lambat dan berat bagi Juhoon, setiap kali Martin dengan sengaja bersentuhan dengannya, sekujur tubuh Juhoon akan langsung meremang dan hilang fokus. Seonghyeon dan Keonho saling melempar tanya akan kondisi kaptennya hari ini, sudah beberapa kali tembakan tetapi bola selalu tidak memasuki ring.
Puncaknya adalah saat kesadaran Juhoon mulai bertengkar dengan nafsu yang kadang ingin meledak, ia paksakan beradu rebut bola basket dengan timnya yang lain. Dan Martin dengan kesengajaan yang dibuat, malah merengkuh pinggang Juhoon yang sebenarnya adalah hal biasa, tetapi aliran nafsu yang sudah tidak bisa ditahan itu malah membuatnya tersengal dan roboh begitu saja. Semua orang panik melihat kondisi Juhoon, Martin sigap merengkuh Juhoon dalam gendongan, dan James sebagai pelatih memberi intruksi untuk istirahat sejenak.
Sepanjang perjalanan ke klinik mahasiswa, Juhoon berusaha menutup mata rapat-rapat dan menutup pahanya erat-erat. Entah kenapa Martin menyangka semua itu, dengan nakal dia malah memainkan jemari-jemarinya untuk mengelus paha Si Kapten dan memberinya friksi-friksi aneh. Juhoon merapatkan bibirnya sebab tak tahan ingin mengerang.
Elusan sensual itu semakin berani menjamah makin dalam, Juhoon tak kuasa melepaskan lenguhannya.
"Aahnn."
Dirinya terkejut kala lenguhan itu keluar dan menyadari mereka sudah sampai di klinik dan disaksikan oleh petugas resepsionis.
"Maaf, teman saya jatuh saat latihan tadi." Martin memberi alasan. Mereka diminta masuk ke ruang penanganan untuk mengetahui sejauh mana sakit yang Juhoon derita.
Martin merebahkan Juhoon sehalus mungkin, gerakan itu malah memicu deru napas yang menerpa langsung wajah Juhoon dan tanpa sadar bibir Martin menggesek telinga Juhoon. Lagi-lagi friksi aneh itu tak terelakkan, Juhoon memejamkan mata dan merasa sangat basah di bawah sana. Cepat-cepat ia menarik selimut agar dokter tidak menyadari jika dia sedang berahi.
Dokter hanya memberi kesimpulan jika Juhoon kurang istirahat. Martin menyodorkan suapan makan dan air hangat agar Juhoon bisa meminum obat dan istirahat sejenak. Mati-matian Juhoon menerima perlakuan itu sambil menahan nafsu yang terus-menerus timbul meski hanya sepandang mata tatapan mereka bertemu.
Sebelum klinik di tutup, Juhoon didampingi Martin kembali ke lapangan. Juhoon menolak tawaran Martin untuk menggendongnya lagi.
"Gak! Gue masih punya kaki."
Martin malah terkekeh sambil berbisik, "yakin? Padahal tadi sange banget gue gendong doang."
Juhoon melayangkan pandangan tak suka karena omongan Martin yang tidak senonoh, tetapi dia tidak bisa mengelak sepenuhnya. Juhoon memilih berjalan cepat mendahului Martin yang lagi-lagi hanya menyeringai mengingat rencananya berjalan mulus.
Mereka tiba di lapangan dan mendapati jika Juhoon melupakan agenda malam ini. Diam-diam dia merutuki diri karena lupa jika harusnya malam ini mereka akan berkumpul di rumah Coach James untuk merayakan keberhasilan James dalam mendapatkan lisensi internasional dan lolos sertifikasi untuk pelatihan tim nasional. Juhoon tertawa getir karena sibuk mengingat mimpi semalam daripada mempersiapkan hadiah apa yang mereka bawa ke agenda malam ini.
"Beli vodka aja," usul Keonho yang langsung dijitak Seonghyeon.
"Mabok terus isi kepala lo!"
"Ya lagian pada bingung." Keonho masih membela diri.
"Kita siapin barbekuan aja," usul Martin yang disambut setuju anak-anak yang lain.
"Gue bawa alatnya, ya, di rumah ada. Keonho, lo bantu gue!" Seonghyeon memberi arahan.
"Kok gue?!" Keonho hampir saja kena jitak lagi.
"Ya lo kan ada mobil! Dan kosan lo yang paling deket dari gue, samper bentar kenapa sih!" protes Seonghyeon yang dibalas tawa canggung Keonho.
"Jju, Martin ... kalian yang beli bahan, ya, soalnya kan yang pegang uangnya Jju," lanjut Seonghyeon yang hampir dibalas protes oleh Juhoon.
"Oke, aman, gue nyetir malem ini," jawaban Martin membuat protes Juhoon teredam.
Gawat, berduaan dengan Martin di dalam mobil akan jadi bencana baginya!
Martin dan Juhoon tidak banyak berbincang selama di dalam mobil ataupun ketika berkeliling supermarket. Juhoon sebisa mungkin menghindari tatapan dengan Martin, pun sentuhan-sentuhan antar kulit tangan mereka yang tidak sengaja bertemu. Juhoon rasa dia bisa aman malam ini, tetapi di area parkir basemen yang sepi, Martin sengaja menggenggam tangan Juhoon. Orang lihat seperti membantu temannya membawa belanjaan, sialnya aliran nafsu itu kembali menguasainya. Tangan Juhoon bertumpu pada sisi mobil dan Martin sigap mengambil alih plastik belanja yang Juhoon gengam.
Martin kembali sengaja merengkuh pundak Juhoon yang badannya mulai melemas, sisa kesadaran membuatnya menepis tangan itu. Dia masuk mobil dengan terengah dan Martin menyusul masuk ke kursi kemudi. Semua seperti normal saja, hingga tanpa apa-apa Martin membawa tangannya mengelus lembut tangan Juhoon, bermain sebentar, kemudian turun ke paha yang hanya memakai celana selutut. Juhoon membekap mulutnya dengan sebelah tangan untuk menghindari erangan yang akan keluar. Martin dengan nakal mulai merayap menuju perut Juhoon dan kemudian turun ke penisnya. Juhoon sudah tidak bisa menolak lagi, dirinya membayangkan bagaimana tangan besar itu mampu mengantarkannya lagi pada puncak kenikmatan. Bagaimana tangan itu bisa mengurut penisnya dengan liar, memainkan lubang kencingnya, atau menuntunya ke arah mulutnya yang hangat.
Juhoon sudah benar-benar dikuasai nafsu dan bayangan erotisme yang datang entah dari mana. Martin menarik wajah Juhoon agar mendekat, tatapan mereka sangat lekat dan Juhoon tahu, dia benar-benar menginginkan bibir pria tinggi di kursi kemudi ini. Sebuah pertemuan yang pelan berubah menjadi tuntutan, Juhoon dan Martin sama-sama memejamkan mata dan mencari pelepasan nafsu yang seharian penuh di tahan-tahan. Juhoon tak memikirkan untuk meraup udara, dia benar-benar membiarkan bibir dan lidah Martin menggaulinya dengan intim.
Tangan Martin tidak hanya diam, dia mengelus lembut wajah Juhoon, kadang jemarinya memainkan daun telinga, lalu turun ke ceruk leher, dan berhenti untuk menyingkap kaos yang dikenakan Juhoon untuk menemukan puting keras dan menggoda.
Lenguhan sudah tidak bisa ditahan lagi, Juhoon di ambang batas untuk mendamba. Kecipak basah pergulatan lidah mereka ditambah remasan dan cubitan pada putingnya membuat nafsunya dipuncak.
"Nghh ... mhhh, Mart," panggil Juhoon di sela ledakan berahi.
Martin tahu Juhoon akan mencapai puncak, tetapi dia tidak sebaik itu untuk membuatnya mendapat kenikmatan instan. Martin memutus cumbuan, membereskan apa yang berantakan dari penampilannya, dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Juhoon di ambang putus asa, dia dibuat meminta pelepasan, tetapi di sisi lain logikanya terus berputar untuknya kembali seperti semula. Dan mereka pun meluncur menuju rumah James dalam diam.
Acara barbekuan berjalan santai dan hangat, tetapi berbeda dengan Juhoon yang banyak diam dan menyesap soda. Dia lebih banyak duduk di sofa teras belakang sambil mengamati Martin, Keonho, dan Seonghyeon yang berebut panggangan.
"Lo aman, Jju?" James mendekati Juhoon dan ikut duduk di sebelahnya.
"Aman, Bang," sahut Juhoon.
"Gue rasa lo lagi banyak pikiran." James mencoba menebak, Juhoon tidak bisa menyangkal. "Udah nggak usah terlalu dipikirin, menang nggak menang bukan penentu tim kita nggak unggul, chill!"
Mereka berdua terkekeh, James mengeluarkan ponsel dan merengkuh pundak Juhoon agar makin mendekat. Mereka saling berbagi tawa dari entah apa yang James tunjukkan pada Juhoon, intinya Martin melihat itu semua dan jauh di dalam hatinya dia marah.
Tapi ... di sini Martin kembali meyakinkan diri jika dia tidak cemburu, dia masih suka wanita, dia hanya kesal kenapa Juhoon tidak pernah tertawa selepas itu di depannya. Jika di depan Martin, Juhoon hanya meluncurkan amarah dan wajah serius itu, tetapi ... sepertinya dibanding James, Martin menang soal wajah berahi Juhoon yang hanya Martin seorang yang bisa melihatnya.
Martin melihat Juhoon beranjak dari sofa, sepertinya akan pergi ke kamar mandi. Martin beralasan pada Seonghyeon dan Keonho jika dia akan ke dapur dulu untuk mencari lada. Martin menguntit di belakang Juhoon, dan tepat saat Juhoon akan menutup pintu kamar mandi, Martin sigap masuk ke dalam dan menguncinya. Martin merengkuh pinggang Juhoon dan menahan anak itu berteriak.
Juhoon dibuat kaget bukan kepalang dan lemas tiba-tiba. Entah permainan apa yang akan Martin lakukan, yang pasti saat ini mereka kembali bertukar cumbuan liar dan Juhoon menerimanya tanpa paksaan. Kali ini sentuhannya terasa terburu-buru, bahkan tanpa sadar Martin sudah melucuti resleting celana mereka berdua dan mempertemukan dua penis dalam genggaman. Juhoon mengalungkan tangannya pada pundak Martin untuk menahan dirinya tumbang. Mulut mereka masih beradu dan Martin memperdalam lumatan untuk meredam erangan Juhoon.
"Mmm ...." Juhoon sudah tidak tahan lagi.
"Tahan, Sayang, nanti yang di luar pada denger," bisik Martin sensual.
Juhoon menahan setengah mati lenguhan yang akan keluar dibarengi klimaksnya.
"Mau ... mau phi, pipis," tutur Juhoon terbata, Martin langsung membalikkan badan Juhoon dalam sekali entakan, mengurut penis Juhoon dengan intensitas cepat.
Kepala Juhoon sudah menggelepar menahan nikmat, wajahnya mencari ceruk leher Martin untuk meredam erangan.
"Nghh, mmmau, ke—keluar!" Penis itu mengencingi lubang kloset dengan deras, saking derasnya sampai menciprat dan membuat kacau seisi kamar mandi.
Martin tidak berhenti, dia membalikkan lagi Juhoon yang mulai terkapar lemas dan menopang badannya dengan sisa tenaga. Martin kembali mencari ciuman bergairah dan memaksa dua penis itu bertumbuk lagi. Juhoon sudah kacau, dia benar-benar kehilangan kesadaraan dan dilanda nafsu yang tiada henti ingin dipuaskan oleh Martin.
"Nghh nggak khuat, geli."
Martin tidak memedulikan, "tapi lo suka kan gue mainin kontolnya? Apa lo bayangin tangan James?" Ada kecemburuan pada bisikan Martin tadi, tapi entah kenapa dia jadi lega saat Juhoon menggeleng hebat.
"Nggak bayangin tapi tadi nempel-nempel, pengen banget disodok kontol James?" Tapi entah kenapa Martin masih melancarkan aksi posesifnya.
"Ngh nhggak."
Martin mempercepat kocokan pada kedua penis di tangannya, kemudian pelan-pelan dia berbisik, "apa lo bayangin kontol gue yang nyodok lubang lo itu?"
Juhoon membelakak, lubang di bawah sana tiba-tiba menjadi gatal dan berkedut hebat. Martin menyadari ini dan mulai liar memainkan lubang kencing Juhoon, sengatan-sengatan itu mengantarkan Martin pada pelepasan pertamanya dan Juhoon pada pelepasan kedua. Juhoon lunglai dalam dekapan Martin seusainya.
Ketika kesadaran tiba-tiba menghantamnya, Juhoon tiba-tiba menangis dalam diam. Dia buru-buru membersihkan kekacauannya dan merapikan bajunya. Martin sedikit panik melihat Juhoon jadi seperti ini, saat mencoba merengkuh bahunya, Juhoon melayangkan tamparan keras dan dia keluar dari kamar mandi tanpa mengucap sepatah kata pun.
Martin diam sejenak untuk memproses semuanya, kemudian dia keluar dan mendapati Juhoon sudah tidak ada.
"Lama banget lo ambil ladanya!" protes Keonho.
"Sorry, gue ke kamar mandi dulu tadi."
"Keburu Jju ngambek, deh."
"Ke mana dia?" Martin mengedarkan pandangan dan berharap Juhoon ada di sekitar sana.
"Nggak tahu, pamit duluan tadi."
Malam itu dihabiskan tanpa Juhoon dan orang-orang tidak menaruh curiga kenapa Juhoon pamit tiba-tiba.
Sudah dua hari ini Juhoon absen. Tidak masuk kelas dan tidak ikut latihan. Dari yang Martin dengar dari Keonho, Juhoon demam, sedang pesan dari Martin tidak pernah Juhoon balas walau hanya menanyakan kabar.
Martin tidak berharap banyak, tetapi entah kenapa malam ini dia yakin akan bertemu dengan Juhoon?
Pintu rumah Martin diketok beberapa kali, pelan tapi sepertinya tamu itu sabar menunggu. Martin memunculkan diri untuk menemukan Juhoon datang memakai hoodie hitam dan celana piyamanya. Martin mempersilakan masuk dan memperhatikan bagaimana Juhoon gugup dan enggan memandang matanya.
Juhoon duduk di sofa sebelah Martin, sebelum sempat Martin menawari minuman atau bertanya kenapa bertamu malam-malam, Juhoon lebih dulu melontarkan pertanyaan.
"Lo ... sendirian di rumah?" tanyanya dengan nada rendah. Martin hampir saja tidak mendengar pertanyaan itu.
"Iya, nyokap bokap gue masih di Bali." Juhoon mengangguk.
"Kenapa?" Martin hanya bertanya retoris, karena sebenarnya dia sudah menduga kehadiran Juhoon di sini.
"Sepi ... di rumah," jawab Juhoon.
"Hmm?"
"Dingin," lanjut Juhoon.
"Lo sakit?" Martin segera memosisikan telapak tangannya pada kening Juhoon. Wajahnya sayu dan memerah. Juhoon menggeleng, tetapi tidak menolak tangan Martin yang menyentuh wajahnya.
"Pengen," cicit Juhoon yang kini menatap Martin dengan sayu.
Martin tersenyum, kemudian jemarinya mengusap bibir Juhoon, mengantarkan jempolnya dan disambut sesapan erotis. Martin mabuk kepayang dan Juhoon yang dipenuhi nafsu-nafsu yang sebelumnya tidak ada.
"Coba ngomong yang jelas pengen apa?" goda Martin.
"Pengen main ... sama Martin," aku Juhoon tidak ditutup-tutupi lagi.
"Lo kangen kan ciuman sama gue? Lo kangen gue mainin pentilnya? Atau udah gatel juga yang bawah sana pengen disodok?" Martin mulai melancarkan omongan-omongan frontal itu. Juhoon memejamkan matanya dan mengangguk.
"Iy ... iya, mmau semua."
Martin segera menyingkap hoodie Juhoon, melempar asal. Ciuman terjadi secara brutal karena keduanya tidak sabaran untuk saling menyesap. Pergulatan basah itu memenuhi ruang tamu yang sepi, suara pekik yang redam dan lenguhan yang ditahan-tahan.
Martin melucuti segala yang ada pada tubuhnya, pun dengan Juhoon yang sudah kepanasan dan entah mengapa sejak dua hari ini dia terus menginginkan bersenggama dengan Martin. Dia sudah tidak berdaya dan memutuskan malam ini untuk menemui Martin yang punya magnet pemikatnya.
Martin menyesap kuat ceruk leher Juhoon, bermain di area daun telinga yang membuat pemuda di bawahnya bergetar hebat.
Tangannya aktif meremas dan memilin putih sensitif yang makin membuat Juhoon bergelinjang. Sesapan itu turun dan menyedot kasar puting yang makin merona merah.
"Mart ... nghhh ahhh!" Tidak bisa lagi erangan absen dari mulut Juhoon. Tangannya erat memegang rambut Martin yang sedang melancarkan aksinya.
Tangan martin mengelus manja pada perut datar Juhoon, sengatan nikmat tak hentinya membuat dia bergelinjang. Ditambah kini, tangan besar itu mulai turun dan memainkan penis Juhoon yang sudah basah.
"Gila, udah sebecek ini! Lo pengen banget gue kontolin, ya?" Martin tersenyum menang, tetapi tidak bisa menyangkal juga jika dirinya tidak ada bedanya. Dia sangat bernafsu untuk menggagahi Juhoon saat itu juga.
"Mm mau," cicit Juhoon. Martin terkekeh, tanpa aba-aba, dia langsung melahap penis Juhoon dalam mulutnya.
Juhoon sudah tidak kuasa, permainan lidah Martin pada penisnya, pergerakan tangan Martin yang keluar masuk memainkan titik sensitif di bagian dalam analnya. Jemari panjang itu bergerak menyilang dan menggelitik dinding rektumnya.
"Udah ... Mart, ggak khuat, masuk aja." Juhoon sudah mendamba, bayangannya penuh akan imajinasi penis besar Martin akan menembus dan memerawani analnya. Juhoon sudah tidak tahan untuk membayangkan sodokan itu akan membawanya ke pelepasan kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan.
"Gak sabaran banget, udah gatel ya lubangnya?" Martin masih berkelakar nakal. Juhoon malah menggelengkan kepalanya karena tidak ingin dianggap tidak sabaran.
Tapi lain dari perkataan, Martin sendiri juga sudah tidak bisa menunggu lagi. Dia posisikan penis miliknya, menampar beberapa kali pintu masuknya, sebelum akhirnya menerobos dalam entakan kasar yang membuat keduanya menggelinjang kenikmatan.
"Fuck! Rapet banget!" seru Martin tidak bisa menahan betapa enaknya otot-otot di dalam sana memijat penisnya.
Entakan itu kembali dilancarkan, Juhoon sudah menggigit bantal untuk menahan gelombang kenikmatan yang membuat mulutnya tidak bisa terkatup rapat. Dalam satu kali dorongan kuat, penis besar itu berhasil masuk sepenuhnya. Juhoon terbelalak, matanya bergulir ke atas dengan badan menegang tiba-tiba. Penis mungil itu mengacung ke atas tetapi tidak memuntahkan apapun, sedang anal di bawah sana semakin basah. Juhoon terengah, napasnya semakin berat tetapi Martin tidak memberinya istirahat.
Dia bergerak keluar masuk dengan ritme tetap, sambil menstimulasi pada puting Juhoon atau penisnya.
"Anjing, enak banget!"
Juhoon mendengarnya dengan penuh gairah menggebu, otot rektumnya memijat dengan kuat. Martin kehilangan kontrol diri dan mulai bergerak liar. Mereka berbagi cumbuan dengan beringas. Kecipak basah dari pagutan dan persenggamaan benar-benar pengiring hasrat lebih dahsyat.
"Hmm nghhh, enak, enak." Kewarasan Juhoon benar-benar sudah hilang. Perkataan itu pun membuat gairah Martin makin terbakar.
"Janji ... ngh, janji ngentot terus sama gue," pinta Martin yang tidak dibalas Juhoon karena pemuda di bawahnya ini sepertinya sudah tidak bisa mendengarkan apa yang ia katakan.
Kali ini Martin beralih dari lumatan, ke hisapan pada telinga Juhoon.
"Cuma gue yang boleh kontolin lo, Jju," ucap Martin posesif.
"Mm iya, cuma kontol Martin, nghh gede, nagih, mau terus." Juhoon meracau tidak jelas.
Martin memberi dorongan terakhir yang kuat, beban badannya digunakan untuk menggesek penis Juhoon yang sudah linu. Juhoon mencakar pundak Martin saat keduanya menemu orgasme bersamaan. Juhoon terengah hebat dan Martin tak memberi jeda Juhoon istirahat. Malam ini, mereka akan bereksplorasi sama-sama. Mencoba posisi berbeda, menabur benih cinta tiap sudut rumah, dan menghabiskan malam dengan penyatuan binal seperti binatang.
Jika takdir tidak tertulis untukmu, maka ciptakan sendiri. Padahal empat hari lalu mati-matian Juhoon menahan diri untuk tidak meludahi wajah Martin yang lebih mementingkan tebar pesona daripada berlatih basket, sekarang mereka malah sibuk bertukar saliva dan bersetubuh karena nafsu keduanya tidak bisa dibendung.
Sayangnya, Juhoon tidak tahu, sebatang One Wish Willow sudah patah jadi dua bagian di dalam tempat sampah. Empat hari yang lalu, Martin mematahkan benda itu dan mengucapkan harapan.
"Jadikan Kim Juhoon sebagai sex friend-ku."

hanseoly Sun 05 Jul 2026 09:08PM UTC
Comment Actions
jimIabrador Sun 05 Jul 2026 09:25PM UTC
Comment Actions
Mumurasame Mon 06 Jul 2026 02:38AM UTC
Comment Actions
hyeonkeonist Mon 06 Jul 2026 02:49AM UTC
Comment Actions
bibibi_ri Mon 06 Jul 2026 08:48AM UTC
Comment Actions
lalalawithyou Mon 06 Jul 2026 11:48AM UTC
Comment Actions
Rodrigo09 Mon 06 Jul 2026 05:33PM UTC
Comment Actions
pinkyskies Tue 07 Jul 2026 04:10PM UTC
Comment Actions
Rodrigo09 Wed 08 Jul 2026 03:37PM UTC
Comment Actions
jju (Guest) Thu 09 Jul 2026 05:16PM UTC
Comment Actions
ctsinner Fri 17 Jul 2026 04:25PM UTC
Comment Actions
jaeyongbeingunmyeongz Thu 06 Aug 2026 07:39AM UTC
Comment Actions