Actions

Work Header

Ten-minute Slice of Turbulence

Summary:

Dalam sepuluh menit dapat terjadi lima hal sekaligus.

Dalam sepuluh menit dapat terasa lima perasaan sekaligus.

Namun, sepuluh menit yang terjadi tiga hal sekaligus akan sulit diproses oleh Harris.

Dunia menjadi gelap tanpa memburam, dan pada saat itu Harris tidak mengira bahwa perbuatannya akan memanggil sesuatu yang belum pernah menghampiri dirinya.

Notes:

Hi! This is my second work on AO3, so forgive me untuk segala kesalahan yang terjadi dalam karya ini. Please be wise, read the tags, or not, idc. Read by your own risks.

Taesan as Harris
Jaehyun as Mardika
Same age (19)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Rasanya kosong. Sedih tak terasa segitunya, pula senang nampaknya dipalsukan oleh otak. Usai lima bulan penuh Harris berada di episode depresi, jiwanya mungkin kewalahan. Maka mereka memutuskan untuk 'mematikan' Harris sementara. Tapi, Harris tidak suka dengan perasaan kosong ini. Ia tidak suka bila apa yang sudah lama ada pada dirinya dihilangkan tanpa ada persetujuan sebelumnya. Ini menjadi alasan mengapa ia berhenti mengonsumsi antidepresan dan antipsikotiknya pada awal bulan Februari tahun kemarin. Sejak kecil, ia sudah hidup bersama hiruk-pikuk di dalam kepalanya. Ketika hilang sebab obat-obatan yang ia konsumsi, ia merasa menjadi orang lain. Dunianya terasa diatur oleh orang lain. Harris tidak peduli dengan tenang, teratur, dan kelancarannya untuk berpikir. Apa yang hilang dari dirinya lebih penting daripada kesempatan untuk mengerjakan tugas selama dua jam saja.

Setelah tiga hari ia jalani tanpa merasakan apa-apa, Harris mulai mencari cara agar ia merasakan setidaknya sesuatu yang tak dihalangi oleh apapun di hari keempat. Ia diajak bermalam di rumah seorang teman dan Harris mengiyakan. Sayang, setelah dua hari menginap, belum ada perasaan apapun yang ia rasakan. Segalanya masih terasa biasa, hari-harinya terasa sangat hampa. Percuma energinya kini cepat terisi bila tak mampu membantu Harris dapat merasakan sesuatu. Ia hanya mampu menyalurkan rasa lelah fisik.

Malam di hari keenam usai menginap, ia memutuskan untuk tidur pagi. Malam hari ia habiskan dengan melakukan segala hal yang ingin ia lakukan. Selama tujuh jam ia tertidur, mulai dari pukul enam pagi hingga satu siang, berharap ketika bangun ia merasakan sesak yang biasa ia rasakan ketika begadang saat masih di episode depresi, namun usahanya nihil. Apa yang ia rasa terasa seperti di dorong masuk kembali, membuat Harris tetap merasa kosong. Sisa hari ia habiskan dengan membalas pesan yang ia dapat dan bermanja dengan kasur.

Pagi di hari kedelapan tak ramah dengan Harris. Keinginan untuk melukai diri muncul setengah jam setelah ia terbangun penuh. Ia memandangi serpihan kaca di atas meja lipatnya. Serpihan itu bersemayam dengan tenang di dalam plastik zip lock bening yang biasa digunakan untuk obat. Sepuluh menit ia pandangi, rasa malas lah yang menang. Ia bangkit untuk ke kamar mandi, setelahnya menuju kulkas untuk meminum susu putih rendah lemak, kemudian duduk di teras rumahnya. Rutinitas pagi ini sudah dijalankan Harris selama tiga bulan semenjak Ayahnya hanya terlihat di rumah setidaknya tiga kali dalam sebulan.

Hingga sore hari tidak ada hal menarik yang terjadi. Ia mengulangi kegiatan tidur - menonton video - bermain game - menggulir beranda media sosial - minum susu - dan seperti itu terus sampai jam lima sore tiba. Tidak ada agenda makan sebab persediaan makanan sudah habis. Ayahnya belum mau membalas pesan. Harris berpikir ia terlalu sibuk bersenggama dengan pacar barunya, dan Harris ingin mempercayainya seperti itu.

Pukul tujuh malam, Mardika, teman dekat Harris datang membawakan dua loyang pizza untuk mereka makan. Harris biasa menolak inisiatif baik dari Mardika, kali ini ia biarkan Mardika melakukan apa yang ia mau. Pizza itu ditaruh di meja makan dengan Harris yang memperhatikan Mardika dari kursi meja makan. Harris sangat lemas, Mardika tak melakukan apa-apa terkait itu sebab ini adalah pemandangan yang sangat ia kenali dari Harris.

"Gue mau ke rumah dulu, belum mandi. Jam delapanan gue balik lagi. Kalau mau makan duluan, makan aja, ya?" Harris mengangguk kecil. Ia duduk di sana sampai Mardika pergi dari rumahnya, kemudian kembali masuk ke kamarnya.

Kini, pandangannya kembali pada serpihan kaca yang ia temukan di dapur rumahnya dua minggu lalu. Sebab jarak terakhir ia melukai dirinya adalah enam bulan, keraguan menguasai Harris. Ia tidak betul-betul ingin melakukannya, namun ia rasa ini adalah satu-satunya jalan agar ia akhirnya bisa merasakan sesuatu, setidaknya rasa sakit. Ia meraih, melihat, menaruh kembali, meraih lagi hingga waktu sudah termakan sebanyak lima belas menit. Di menit keenam belas, ia melakukan tes ketajaman dengan menggunakan kertas dan tisu. Tak butuh banyak sobekan untuk Harris memprediksi seberapa banyak darah yang akan keluar dengan serpihan kaca itu.

Should I do it?

Should I do it?

Should I do it?

I should do it. I need to feel something.

Percobaan awal hanya menimbulkan goresan tipis sebab Harris tak menaruh energi. Ia masih takut dan ragu. Setelah rasa tidak puas menghampiri, ia mulai berani untuk memberi dorongan pada serpihan kacanya. Darah segar berhasil lolos pada tiga sayatan di tangan kiri, membuat Harris mengeluarkan suara untuk menahan perih. Sialnya, Mardika sudah kembali.

”Woi, Ris!" panggil Mardika dari meja makan sebagai tanda kehadirannya. Harris tidak menggubris, ia juga langsung memberhentikan kegiatannya sebab munculnya mual setelah melihat darah. Tidak muncul rasa panik atau takut. Harris memang mudah terpicu ketika melihat darah dan ini sudah sering terjadi. Ia hanya perlu mengambil jeda agar mual yang dirasa dapat mereda.

"Ayo makan," sambung Mardika.

"Iya, bentar," sahut Harris yang tengah berusaha menahan mual.

Haruskah Harris lanjutkan kegiatannya? Atau pergi makan saja? Tapi, Harris perlu merasakan sesuatu. Ia perlu kembali menjadi 'manusia'.

Keputusan akhirnya ada pada menambahkan beberapa sayatan, lalu muncul satu sayatan yang mengalirkan darah di luar prediksi Harris. Darah tersebut mengalir menyentuh siku Harris. Buru-buru Harris bersihkan bercak dan darah yang masih mengalir dengan tisu, kemudian ia duduk terdiam. Kepalanya sangat pusing, mual yang dirasa tak kunjung membaik, malah makin parah seolah ia habis mengonsumsi minuman basi. Harris pikir ini akan sama saja dengan mual sebelum-sebelumnya, maka Harris keluar kamar menghampiri Mardika di ruang depan, dengan handuk terbalut pada bagian atas tubuhnya untuk menutupi luka-luka yang baru ia buat. Harris ambil satu potong pizza, berjalan menuju meja makan untuk menikmati pizza di sana. Mardika mengikuti di belakang untuk mengambil air minum di dapur.

Saking parahnya pusing dan mual yang dirasa Harris, Harris mengunyah pizzanya seraya menundukkan kepala hingga sedikit bersentuhan dengan lututnya. Mardika kembali, ia berhenti di depan Harris, meneguk air seraya memperhatikan Harris. Harris yang sadar atas kehadiran Mardika segera membenarkan posisi duduknya.

"Enak?"

Harris membalas dengan anggukan, padahal pizza itu hanya menambah mual pada Harris. Yang ia rasa seolah tengah mengonsumsi suatu makanan penuh busa. Lidahnya menolak rasa lezat pizza keju penuh daging tebal. Sangat disayangkan ia merasa tidak dapat lanjut ke gigitan kedua. Ia raih tisu yang ada di meja makan, menaruh pizzanya, dan memutuskan untuk mengambil minum.

Mardika kembali ke ruang depan, sedangkan Harris ke dapur untuk mengisi botol minumnya sebelum beristirahat. Selama mengisi botol minum, ia hanya mampu menunduk dan menekan perutnya dengan kedua tangannya untuk meminimalisir rasa mual yang makin menyiksa. Usai penuh, Harris kembali ke kamar dengan memeluk botol minum yang tutupnya tertinggal di dalam kamar. Belum sempat pintu tertutup dengan rapat, Harris sudah lebih dulu tak sadarkan diri. Badannya terbanting pada pintu kamar hingga jatuh ke dalam posisi meringkuk dengan kepala hampir menyentuh lantai sebab terhalang oleh tumpuan tangan kanannya, tangan kiri masih melekat pada perut Harris; botol minumnya jatuh, air tumpah membasahi Harris dan lantai kamarnya hingga mengalir ke luar kamar, barang-barang yang berada dekat dengan tempat jatuhnya botol Harris menjadi basah kuyup. Botol satu liter itu tidak ragu mengeluarkan segala isinya.

Rumah Harris kecil, hanya sepetak dengan dua kamar kecil. Dari ruang depan, Mardika bisa mendengar suara tubrukan yang sudah jelas asalnya dari Harris. Ia tengah asyik menonton sebuah film, segera menoleh ke arah suara itu berasal, masih sambil mengunyah pelan pizza. Tak ada reaksi lain dari Mardika. Ia kembali pada kegiatan awalnya, berusaha berpikir positif meski sebenarnya degup jantung sudah tak setenang tadi.

Selang empat menit, Harris mulai merasa nyawanya kembali masuk perlahan. Dengan sekuat tenaga kepalanya menggeleng keras dengan sendirinya, seolah sang kepala berusaha untuk menyadarkan sekujur tubuh dan jiwa Harris dari pingsan yang tak dipikir akan terjadi. Menuju menit kelima, Harris sudah sadarkan diri. Matanya terbuka lebar, ia mendongak, setetes dua tetes air jatuh dari rambut Harris. Perlahan ia bangkit untuk duduk dengan benar, lalu menarik diri naik ke kasur tanpa menyadari apa yang ada di sekitarnya. Rambut basahnya belum cukup bisa menyadari Harris bahwa airnya tumpah. Ia baru disadarkan oleh celana pendeknya yang basah dan memberi sensasi dingin pada kaki Harris. Harris masih terlalu terkejut untuk melakukan apapun terkait hal itu. Maka, ia tidak pedulikan, lebih memilih untuk merebahkan diri dan mengatur pernapasan. Jantung Harris berdegup dengan kencang tak beraturan. Kejadian tadi benar-benar membuat Harris bingung. Ia butuh waktu lama untuk memproses semua hal yang terjadi selama sepuluh menit tadi.

Tak sekelibat pikiran dari Harris bahwa ia akan pingsan, atau kemungkinan lebih buruk ia mati. Mual yang dirasa mencuri perhatiannya, membuat Harris sibuk berpikir harus dengan cara apa agar mual ini cepat hilang. Usai ia kira pintu kamar telah tertutup secara sempurna, segalanya langsung gelap tanpa proses memburam. Sama sekali tak ingat bagaimana ia berakhir pada posisi terjatuh lemah dikelilingi tumpahan air minum.

Mardika di ruang depan merasa resah sebab sejak suara tubrukan yang ia dengar tadi, Harris belum menunjukkan eksistensinya walau sekadar suara batuk. Ia memanggil nama Harris sebanyak tiga kali, tak ada satu pun panggilan yang disahuti. Mardika makin resah, merasa ada hal buruk yang terjadi. Ia bangkit dan berjalan menuju kamar Harris. Pintu kamar Harris sedikit terbuka, namun air yang mengalir dari kamar Harris lebih menarik perhatian Mardika. Mardika mengetuk pintu kamar Harris tanpa mengintip ke dalam.

"Harris? Lu lagi apa?"

Harris masih sibuk menenangkan detak jantungnya sehingga tak ada yang dilakukan Harris sebagai jawaban atas pertanyaan Mardika. Sebagai teman, Mardika sudah sangat tidak tenang. Ia pun membuka pintu kamar Harris dan sedikit masuk agar dapat melihat kondisi Harris secara penuh. Kaki Mardika menginjak air yang masih tergenang di lantai kamar, tapi kondisi Harris saat ini lebih penting bagi Mardika. Harris hanya menatap Mardika sambil bernapas secara tidak teratur. Suara napasnya dapat didengar oleh Mardika. Tangan kiri masih tertutup dengan handuk. Mardika menyadari apa yang ada pada kaki Harris: penuh lecet, lebam-lebam biru di paha, dan beberapa luka kecil. Harris belum menyadari kehadiran luka-luka tersebut. Ia belum merasakan sakit pada kakinya.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Mardika segera mengambil obat luka dan plester luka. Segala lecet, lebam, dan luka kecil ditangani oleh Mardika. Pada saat ini lah Harris baru mengetahui eksistensi tiga hal yang ada di kakinya. Harris terduduk, memperhatikan Mardika secara lembut mengobati segala yang ada di kaki Harris. Harris tahu Mardika akan bertanya sebentar lagi. Ia siapkan diri agar bisa menjawab Mardika dengan jelas.

"Lu tadi jatoh?"

"Iya."

"Kenapa bisa jatoh? Kepeleset?"

Harris mengambil jeda beberapa detik untuk menjawab. Mardika pun tidak memaksa Harris menjawab.

"Gue pingsan."

Mardika menatap Harris. Ia terkejut dan khawatir sebab selama 19 tahun mereka hidup, tak ada satu di antara mereka yang pernah mengalami pingsan. Ini adalah pengalaman baru bagi mereka berdua.

"Kok bisa? Gimana ceritanya?"

Yang ditanya belum mau menjawab. Keheningan menyelimuti mereka sampai Mardika selesai mengobati luka-luka pada kakinya dan bersuara, "sini tangan kiri lu."

Mardika adalah teman yang lancang. Tidak perlu Harris memberi respon, ia sudah lebih dulu meraih handuk yang masih ada pada Harris dan menaruhnya di lantai kamar yang digenangi air.

"Lu nggak bisa bohongi gue, Ris. Cara lu pake handuk kalau mau mandi, tuh, nggak kayak tadi. Ini juga bukan pertama kalinya gue liat lu pake handuk kayak tadi tapi bukan karena mau mandi." Hal itu Mardika ungkapkan seraya mengobati luka sayat pada tangan kiri Harris. Ia juga memeriksa tangan kanannya untuk memastikan ada luka atau tidak.

Seluruh luka Harris yang terlihat sudah selesai diobati. Meski begitu, kepala Harris masih sedikit pusing, napasnya masih belum cukup teratur, degup jantungnya belum juga tenang, dan dapat ia pastikan ia tidak akan berjalan dengan betul. Mardika kembali ke ruang depan untuk mematikan televisi dan mengambil pizza loyang pertama yang tadi mereka konsumsi. Mereka menghabiskan pizza di dalam kamar Harris. Kegiatan makan diisi dengan Harris menceritakan secara detail apa yang terjadi dan ia rasakan saat pingsan tadi. Raut Mardika penuh kekhawatiran, sedang yang bercerita sibuk menyisipkan tawa pada ceritanya. Bagi Harris, kejadian tadi adalah hal lucu. Segalanya terjadi secara tak beraturan dan ini adalah pengalaman pingsan pertamanya.

"Jadi gue menyimpulkan, walau gue ngerasa lagi nggak depresi kayak kemaren-kemaren, sebenarnya kondisi diri gue masih sama—masih lemah dan gampang kesenggol kayak waktu gue depresi. Makanya gue semual itu pas ngeliat darah. Padahal dibandingkan sama cutting yang sebelumnya, kali ini lukanya nggak sebanyak itu."

Dengan khawatir Mardika membalas, "tapi darah yang keluar, kan, lebih banyak yang sekarang?"

"Iya, sih. Kayaknya karena yang keluar banyak, jadi tubuh gue langsung lemes gini."

Rasa bersalah sebenarnya menumpuk dalam diri Harris. Ia sangat takut teman lamanya merasa muak dan lelah dengan Harris. Tapi, Mardika merasakan hal yang berbeda. Ia memandang Harris sebagai orang yang kuat dan butuh ditemani. Kondisinya yang jauh lebih baik dari Harris membuat Mardika merasa ia adalah orang yang tepat untuk berada di sisi Harris. Segala upaya Harris untuk menyalurkan perasaannya tak pernah dipermasalahkan oleh Mardika. Ia yakin tanpa Mardika suruh, perlahan Harris bisa lepas dari cara yang memicu kerugian untuk dirinya sendiri. Mardika hanya perlu selalu ada di sisi Harris, dan Harris merasa kehadiran Mardika membawa kestabilan pada dunia Harris yang sejak awal tak pernah stabil. Tenang yang ia rasa ketika bersama Harris menjadi satu-satunya perubahan dalam diri Harris yang ia harap selamanya ada di sana.

Malam itu tak dihabiskan bersama sampai tengah malam. Harris butuh istirahat. Meski diyakini bahwa ia tak apa-apa, Mardika ingin Harris sepenuhnya merasa lebih baik. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menuruti Mardika, Harris segera merebahkan tubuhnya dan membaluti diri dengan selimut. Rasa khawatir yang masih menguasai diri Mardika membuat ia memilih untuk bermalam di rumah Harris. Ia melanjutkan kegiatan menonton filmnya tadi seraya memakan satu loyang pizza yang belum disentuh sama sekali sejak ia taruh di meja makan.

Esok hari disambut dengan Mardika membawakan bubur untuk mereka sarapan. Kondisi Harris sudah lebih baik, namun belum sepenuhnya membaik—setidaknya pusing dan mual sudah hilang dari diri Harris. Selain itu, Harris merasa secara perlahan mulai bisa memproses apa yang ia rasakan. Ia kenal dengan rasa bahagia yang muncul ketika melihat Mardika menyodorkan mangkuk berisi bubur. Mungkin Harris masih perlu melakukan hal lain untuk benar-benar kembali pada dirinya. Ini akan jadi perjalanan yang cukup berliku, tapi Harris sudah siap dan ia pastikan tidak sampai memicu kekhawatiran lagi.

"Ngomong-ngomong, soal lu pingsan kemaren, ya, Ris. Gue ngerasa itu gara-gara beban lu udah terlalu numpuk, terus lu ketrigger ngeliat darah dan itu bikin diri lu jadi udah nggak terkendali lagi. Akhirnya, tubuh lu milih cara pingsan buat ngeluarin itu semua. Paham nggak maksud gue? Jadi tubuh lu kayak udah nggak bisa kontrol semua yang lu terima saat ini, akhirnya lu meltdown? Breakdown? Ya, pokoknya semacam itu lah."

Harris mencoba memproses kata demi kata yang Mardika keluarkan seraya mengunyah kerupuk. Kemudian, ia menjawab dengan: "masuk akal, masuk akal," dan Mardika tertawa mendengarnya

Ungkapannya akan selalu terdengar masuk akal oleh Harris. Itu karena Mardika senang berpikir dan berusaha mengaitkannya dengan hal-hal yang sudah nyata adanya. Begitu pula dengan Harris. Mereka hanya dua manusia yang tak banyak tahu tentang cara kerja dunia dan teori sains dibaliknya. Cara otak mereka bekerja merupakan hasil pemikiran mereka berdua atas pencarian jawaban dari setiap peristiwa yang terjadi di depan mereka, sebab sumber ilmu yang didapat tidak sebanyak orang-orang yang lebih berilmu dari mereka.

Kejadian kemarin menjadi peristiwa yang akan terus menghantui keduanya. Sukses membuat Harris ingin berusaha untuk lebih seimbang agar tidak meledak di waktu yang tidak diinginkan, dan Mardika untuk lebih mendengar dan percaya dengan apa yang hatinya katakan.

Notes:

Terima kasih sudah membaca!

#muchmuchlove, unjujin.