Chapter Text
Ulang tahun Gong Yuanzhi yang kesepuluh datang tanpa hujan, tanpa tanda apa pun yang aneh.
Pagi itu biasa saja.
Ia bangun sebelum alarm, duduk sebentar di tepi ranjang sambil menatap kalender kecil yang ditempel di dinding. Angka tanggal hari itu ia lingkari dengan spidol merah sejak seminggu lalu. Lingkarannya tidak rapi, sedikit miring, tapi ia menyukainya.
Di dapur, ibunya sedang merebus air. Bau teh melati menyebar pelan.
"Bangun lebih cepat dari biasanya, anak ibu sudah tidak sabar pergi ke taman bermain yaa..." kata ibunya sambil tersenyum.
Yuanzhi mengangguk. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi menahannya. Ia takut kalau ia bicara terlalu cepat, hari ini akan berjalan terlalu cepat juga.
Ayahnya muncul dengan jaket di tangan.
"Nanti siang kita berangkat," katanya santai. "Jangan lupa bawa topi."
Yuanzhi tersenyum lebar. Ia mengangguk lagi.
Berbagai rencana sudah terlintas di pikirannya.
Kakak-kakaknya keluar kamar satu per satu.
Zishang membawa tas sekolah, wajahnya lelah.
Sangjue mengikat sepatu sambil mengecek ponsel.
Ziyu berdiri di ambang pintu, rambutnya masih sedikit berantakan.
"Kalian tidak ikut?" tanya Yuanzhi, suaranya hati-hati.
"Lain kali ya, deadline tugas kelompokku besok," jawab Zishang sambil menepuk kepala Yuanzhi.
Sangjue hanya mengangkat bola basketnya. "Turnamen sebentar lagi."
Ziyu tersenyum tipis. "Bawa pulang foto dan oleh-oleh, ingat!"
Yuanzhi mengangguk. Ia sudah menduga.
Ia tidak kecewa. Banyak rencana cadangan yang ia siapkan untuk menghabiskan waktu di taman bermain.
Perjalanan menuju taman bermain memakan waktu cukup lama.
Yuanzhi duduk di kursi belakang, memandangi jalan yang bergerak mundur. Ia menghitung terowongan yang mereka lewati, lalu berhenti di angka empat karena lupa selanjutnya.
Ibunya menoleh ke belakang.
"Bosan?"
"Tidak, apa masih jauh?," jawab Yuanzhi cepat.
"Hampir sampai, sepuluh menit lagi."
Ayahnya memutar radio pelan. Lagu lama yang pernah sering diputar di rumah terdengar samar. Yuanzhi bersandar ke kursi, menutup mata sebentar.
Ia merasa aman.
Benturan itu tidak datang tiba-tiba.
Ia datang sebagai suara keras yang tidak bisa ia pahami, disusul oleh rasa berat yang menekan dadanya. Dunia berputar. Udara terasa menipis.
Ia tidak ingat teriak.
Ia tidak ingat menangis.
Yang ia ingat hanyalah memanggil,
"Ayah?"
Lalu gelap.
Yuanzhi membuka mata dalam cahaya putih yang terlalu terang.
Ada suara mesin berdetak teratur. Bau obat memenuhi hidungnya. Tubuhnya terasa ringan, seperti tidak sepenuhnya miliknya.
Ia menoleh pelan.
Di samping ranjang berdiri Zishang.
Tampilannya berantakan dan terlihat... kosong.
"Di mana Ibu?" tanya Yuanzhi pelan.
"Dan Ayah?"
Zishang menatapnya lama. Terlalu lama.
Lalu ia menggeleng.
Itu saja.
Tidak ada kata.
Dan entah kenapa, Yuanzhi langsung mengerti.
Waktu setelahnya terasa kabur.
Banyak orang datang. Banyak suara pelan. Banyak tatapan yang terlalu lama tertuju padanya.
"Syukurlah anaknya selamat."
"Kasihan sekali."
"Pasti trauma."
Yuanzhi duduk diam. Ia mendengar semuanya.
Dan tanpa ada yang mengatakannya secara langsung, sebuah pikiran tumbuh di kepalanya, singkat tapi bergema amat keras:
Kalau saja aku tidak minta pergi kesana...
Pemakaman berlangsung tenang.
Yuanzhi berdiri di depan, mengenakan pakaian yang kebesaran sedikit. Angin bertiup pelan, membuat ujung bajunya bergerak.
Ia menoleh ke samping.
Ziyu berdiri agak jauh, wajahnya kaku.
Sangjue menatap tanah.
Zishang berdiri paling depan, bahunya tegang.
Tidak ada yang menggenggam tangan Yuanzhi.
Malam pertama di rumah setelah semuanya selesai, Yuanzhi duduk di meja makan lebih lama dari yang lain.
Kursi orang tuanya masih ada.
Ia menatap piring kosong di hadapannya, lalu berdiri dan membereskannya tanpa suara.
Di kamarnya, ia berbaring sambil menatap langit-langit.
Untuk pertama kalinya, ulang tahunnya terasa seperti sesuatu yang belum selesai.
Seperti hari itu tidak pernah benar-benar berakhir.
Dan tanpa ia sadari,
itulah hari ketika ia mulai perlahan tersingkir—
bukan karena siapa pun mengusirnya,
melainkan karena semua orang kehilangan cara untuk menatapnya tanpa rasa sakit.
