Work Text:
Mimpi-mimpi Phainon tersebar di antara biji-biji barli yang ranum, padang luasnya yang terhampar hingga bertemu langit biru di cakrawala, bulu-bulu halusnya yang menggelitik ketika mereka berlari di jalurnya.
Cyrene sering bercerita padanya tentang banyak hal di luar Thermon. Sebagai putri seorang pendeta kuil, ada banyak orang yang bertamu ke rumahnya dan Cyrene senang sekali menguping. Mengutip cerita-cerita itu untuk Phainon, berandai-andai tentang apa saja yang bisa mereka temukan di luar sana.
“Tapi, di sini sudah menyenangkan,” Phainon memetik satu tangkai barli dan menggulungnya di antara telunjuk dan ibu jarinya. Kemudian, dia menggigitnya di sudut bibirnya. “Kenapa kita harus mencari-cari kesenangan yang jauh?”
“Kenapa Phainon senang berada di sini saja? Para pertapa dan cendekia itu telah berjalan begitu jauh, dan mereka mengatakan bahwa petualangan itu indah.”
“Tapi itu menyenangkan untuk mereka. Aku sudah senang di sini. Ada Cyrene!”
Cyrene kemudian tertawa, lantas memetik barli dan menyelipkannya di belakang telinganya. Phainon membetulkan letaknya ketika barli tersebut merunduk. “Berarti Phainon janji, ya. Phainon jangan ke mana-mana!”
“Tentu saja! Janji!”
Mereka masih muda, masih mudah untuk mengikat janji. Masih memandang dunia sesederhana padang barli dan horizon di depan sana yang hanya menjanjikan hari esok yang sama. Di sekitar kuil Dewa Matahari, mereka bisa melihat gunung-gunung yang memagari Aetolia dengan kokoh, menjadi dinding dunia mereka yang aman. Padang barli itu akan memberi mereka makan hingga bergenerasi-generasi. Bukan sebuah kota besar yang tersohor seperti kota-kota besar di selatan, tetapi setidaknya mereka punya tanah mereka sendiri yang luas dan cukup untuk menghidupi kelompok mereka sendiri.
Mereka akan berada di padang barli itu sampai waktunya Phainon pulang untuk membantu mengolah kebun di pekarangan rumahnya, dan Cyrene harus kembali ke rumah untuk membantu menyiapkan makanan atau menyuguhkan hidangan untuk tamu-tamu di kuil. Sore, mereka akan kembali menyelam di padang barli, menceritakan hari sambil menunggu bintang pertama muncul di senja hari, lalu pulang lagi untuk berpamitan meski jarak tak seberapa.
Konon, kota mereka tercipta ketika jari-jari sinar matahari yang diarahkan Apollo menunjuk tempat tersebut. Titik pertama yang disentuh oleh sinar mentari hari itulah yang menjadi kuil untuk Apollo tersebut, dan barli-barli yang keemasan adalah padang pertama tempat Apollo beristirahat setelah dia berjalan-jalan di sekeliling padang dan bukit. Sejarah barangkali belum jauh terkubur, di antara akar-akar serabut barli atau di bawah batu pertama kuil, tetapi tak ada satupun yang mencoba untuk menggalinya. Mereka sudah puas dengan masa kini, dan kehangatan yang selalu menyapa mereka di permulaan tahun. Tidak ada rasa penasaran yang lebih jauh daripada garis terakhir padang barli yang bertemu dengan cakrawala atau titik tertinggi bukit.
Namun, rasa penasaran yang lebih luas dan kompleks ada di kepala keduanya—yang telah beranjak remaja dan cukup besar untuk memutuskan keinginan mereka sendiri. Bagaimana dengan dunia di luar sana, apakah mereka berperang karena tidak mempersembahkan berkat pada dewa-dewa—Cyrene baru saja menguping kabar seorang pengembara yang bersinggah di kuil dan dijamu oleh keluarganya. Bagaimana kalau kita tidak memikirkannya, dan lebih memikirkan mengapa Apollo memilih tempat ini untuk beristirahat? —Phainon memandang lebih dekat, tidak sejauh bentang padang Cyrene, tetapi dia tetap memiliki rasa penasaran yang dalam akan apapun yang ada di sekitarnya. Saat itu, cahaya matahari menimpa sisi kanan wajah Phainon dan Cyrene berhenti memikirkan dunia di luar Aetolia untuk sesaat.
Mungkin karena Apollo tahu Phainon akan lahir di sini, jawabnya. Benar saja, pemuda itu tampak begitu hangat ketika jari-jemari matahari menyentuhnya. Dia berkilauan, matanya menjadi keemasan dan lebih indah daripada padang barli tempat Cyrene menerbangkan impian-impiannya.
Mungkin juga Apollo tahu kalau Cyrene akan lebih cantik kalau terkena sinar matahari dari padang ini, balas Phainon, dan mereka pun tertawa bersama sambil saling menggelitik hidung satu sama lain dengan batang barli muda yang ranum.
Rasa penasaran itu berganti-ganti setiap hari. Sebelumnya, mengapa Apollo bersinggah di Aetolia. Dulu, kenapa kota-kota kecil di sekeliling Aetolia kecil-kecil dan para suku dan keluarga-keluarga belum mau bersekutu seperti di selatan. Hari ini, mengapa manusia bisa hidup bersama? Berkeluarga lalu bersuku-suku, bekerja sama mengolah ladang yang sama, kemudian membangun kota-kota?
Mungkin karena mereka senang menghabiskan waktu bersama? Cyrene menjawabnya dengan pertanyaan lagi. Retorika yang membuatnya mendongak dan memikirkan lagi kebenaran jawabannya. Langit hari ini kurang bagus, dan sepertinya mereka tidak akan melihat bintang pertama di waktu senja.
Benar saja, beberapa saat kemudian hujan rintik-rintik pun turun. Phainon segera menarik tangan Cyrene dan membawanya ke gubuk terdekat untuk berteduh. Gubuk yang terlalu kecil dan rapuh untuk berdua, kecuali mereka berimpitan dan bersembunyi di sudut, berbagi kehangatan dan ledakan-ledakan perasaan yang ternyata tidak biasa. Phainon mulai menyadari bahwa Cyrene tidak lagi semungil dulu, bagian-bagian tubuhnya tumbuh seperti selayaknya wanita. Ketika mereka bersentuhan, Phainon merasa Cyrene empuk. Dan sebaliknya, di mata Cyrene, Phainon terlihat lebih tegang.
“Benar. Pantas saja manusia senang menghabiskan waktu bersama,” Cyrene mengutip kalimatnya sendiri lagi. “Hangat, ya?” ia mengerling ke arah Phainon.
Phainon tersenyum gugup, tetapi dia meraih tangan Cyrene. “Iya, hangat.”
Derai hujan mendera semakin tanpa ampun. Cyrene mengeratkan genggamannya pada Phainon, dan Phainon semakin merapatkan dirinya pada Cyrene.
“Bagaimana cara orang-orang melakukannya?” tanya Cyrene, berbisik pada Phainon. “Kau tahu, Phainon?”
“A-apa?” Phainon mengejar tatapan Cyrene, dan setelah berulang kali menunduk malu karena segan atas pertanyaannya yang barangkali tak pantas, Cyrene mau menatapnya. “Melakukan apa?”
“Bagaimana … bagaimana orang-orang bisa punya keluarga?”
Phainon tergugu, berusaha mengatakan sesuatu, tetapi rahangnya hanya menggantung tak berguna. Dia melepaskan tangan Cyrene, tetapi tangannya menyentuh bagian tubuh Cyrene yang lain. “A-aku pernah melihat orang melakukan … ini?”
Cyrene dengan takut-takut meraih tangan Phainon, mengarahkannya ke bagian yang lain. “Aku pernah … melihat patung di kuil kecil …,” ia memandang dengan mata terbuka lebar pada tangan Phainon yang masuk lebih jauh di balik tuniknya, “seperti ini ….”
Rasa penasaran demi rasa penasaran tumbuh menjadi keisengan kecil yang tersembunyi dari dunia. Mereka petualang dengan pikiran dan pertanyaan mereka sendiri, menjelajah padang barli dan perbukitan yang memunggungi kuil untuk melihat permukiman menghuni lembah-lembah dan membentuk kota kecil mereka sendiri. Mereka berdua membangun kehidupan mereka sendiri, secuil bagian dari kota yang membagi kebahagiaan pada satu sama lain.
Jangka hidup manusia terlalu singkat dibandingkan dengan sebuah kota. Kota itu telah tumbuh dan berdiri sebagaimana kemegahannya sejak mereka baru mengenal dunia—dan masih seperti apa adanya hingga saat ini. Baguslah, Phainon berpikir ketika mendapat penyadaran tersebut. Dia bisa punya lebih banyak waktu bersama Cyrene, dan itu berarti dia tidak perlu ke mana-mana, meninggalkan Cyrene, dan akan tetap membersamainya hingga waktu mereka berakhir dan kota ini akan menyaksikan bagaimana mereka menutup mata.
Mereka sudah tumbuh. Tidak lagi dapat menghabiskan waktu di padang barli dan menunggu bintang pertama terbit. Cyrene mengurus rumahnya dan Phainon diserahi kewajiban mengolah ladang milik keluarga mereka beserta ternaknya. Mereka hanya bisa mencuri waktu di balik pekarangan masing-masing, memandang sendu pada padang barli yang melambai-lambai merindukan mereka. Sudah tiba kewajiban-kewajiban lain, dan keluarga mereka melihat bahwa tidak ada pilihan lain. Keluarga menikahkan mereka di dekat kuil tempat Cyrene mengabdi, dan Phainon menanam mimpi-mimpi sejauh padang barli: bahwa dia akan merawat Aetolia sekuat yang dia mampu agar anak-anaknya kelak bisa menikmati keindahan yang sama seperti saat dia mulai mencintai Cyrene. Sementara Cyrene menabur harapan setinggi bukit yang lebih tinggi dari kuil, bahwa anak-anak mereka akan menemukan jalan mereka di antara lembah-lembah dan melihat kota-kota yang lebih indah di luar sana.
Cyrene sedang mengandung anak pertama mereka ketika tiba-tiba saja sekawanan prajurit memasuki dataran Aetolia dan tiba di sekitar lembah untuk merekrut para pria. Tetangga kita dalam bahaya, paksa mereka, jika mereka sampai ke balik bukit ini, habis semua yang ada di sini. Mana pemuda-pemuda kalian, biarkan mereka mempertahankan tanah mereka sendiri.
“Tidak apa-apa, berangkatlah.” Cyrene yang menyiapkan perbekalannya meskipun Phainon ingin sekali bersembunyi dan menghindari tanggung jawabnya. “Kau bisa melihat kota-kota di luar sana dalam perjalananmu.”
“Tapi harus meninggalkanmu? Cyrene, kau—” Phainon menggeleng-geleng putus asa. Siapa yang mengangkatkan kendi untuk Cyrene? Siapa yang akan mengolah ladang mereka? Siapa yang akan memetikkan barli untuk dibuat mahkota kecil cantik untuk anak mereka, karena Cyrene sudah tidak bisa lagi membungkuk untuk mengambil barang-barang yang rendah?
“Kau ingin melindungi kota ini, kan? Dan masa depannya,” Cyrene mengusap perutnya yang membulat di balik tunik putihnya. Tangannya yang lain mengusap pipi Phainon dan membuat pria itu gemetaran. “Ceritakan dunia luar untukku nanti, ya.”
Terlalu banyakkah dia meminta—dia hanya ingin berada di sini, tenang dan damai, sampai waktunya tiba seperti barli-barli tua yang mulai merunduk dan kemudian menyerah pada semesta yang membesarkannya.
“Seandainya saja bisa ditukar,” kelakar Cyrene pada malam terakhir sebelum keberangkatan Phainon. “Aku yang akan pergi berperang, Phainon. Bertualang, tidakkah itu menyenangkan?”
Phainon mengubur wajahnya di ceruk leher Cyrene, memeluknya seerat yang dia bisa dan merengkuh anak mereka di dalam rangkulan itu. Mimpi-mimpi Cyrene untuk pergi keluar dari Aetolia masih sama seperti mereka waktu kecil, dan Phainon takut dia tidak akan bisa memenuhi harapan Cyrene. Dongeng-dongeng Cyrene untuk anak mereka kelak akan tetap sama tanpa ada cerita kesaksian yang sesungguhnya, dan ketakutan bahwa dia tidak akan bisa turut serta mendengarkan dongeng itu lagi mencekik lehernya.
“Kau akan pulang nanti, Phainon, karena Apollo menakdirkan kau berada di sini.”
Kota-kota lain dalam ekspedisi itu mirip seperti dongeng-dongeng Cyrene: padang barli dan gandum, lembah-lembah yang diawasi kuil-kuil, dan orang-orang yang berbicara dengan dialek asing. Terkadang padang bunga merah oleh darah, pepohonan menghitam karena hangus terbakar, dan pintu-pintu terbuka di rumah-rumah yang ditinggalkan penghuninya.
Phainon melihat padang barli yang rusak dan pohon zaitun yang hanya menyisakan satu buah—dan dia bertarung mati-matian meski tangannya hanya terlatih untuk mengolah ladang bukan untuk mencabut nyawa, dia melebas sekuat tenaga meski biasanya dia hanya melakukannya untuk menggemburkan tanah.
Dia memimpikan malam yang damai bersama bintang-bintang yang bisa dia hitung bersama Cyrene, bukannya kegelapan yang tiba-tiba menyergapnya ketika hanya tertinggal satu musuh yang harus dihabisinya.
Mimpi-mimpi Phainon terhampar di antara bintang-bintang yang menerangi Aetolia, menghambur di angkasa seperti biji-biji barli yang ranum.
Mimpi-mimpi Cyrene terhampar luas di kota-kota yang bukan miliknya, menyembunyikan misteri yang lebih gelap daripada malam-malam mendung yang ia habiskan tanpa Phainon.
Kedua mimpi itu harus bertemu: Phainon harus pulang. Dia merangkak dengan sisa kekuatan yang dia miliki, berbalik untuk menghantam, menghabisi musuh yang tersisa.
Dia harus pulang ke kotanya. Dia harus pulang ke dunianya.
Dari bukit yang menjadi gerbang untuk memasuki Thermon, kota terlihat seperti kumpulan awan putih kecil yang mengumpul di lembah. Hunian-hunian kecil saling merapat, memberi ruang-ruang kecil untuk kisah para manusia.
Phainon tidak sabar untuk melangkah menuju lembah.
Di padang barli, langkah-langkah kecil itu menyeruak di antara tangkai-tangkai yang ranum. Phainon menuntunnya, menunjuk pada cakrawala yang biru. “Di sebelah sana, ada padang iris yang indah. Mereka pasti sudah berbunga kembali.”
“Apa mereka tidak berbunga saat Ayah di sana?”
Phainon tidak ingin menceritakan tentang batang iris yang terinjak-injak dan bunga yang berubah warna menjadi merah. Dia berjongkok, menyamakan tinggi dengan sang putra. “Belum. Mereka belum berbunga. Mereka menunggumu.”
Dua pasang langkah yang lebih kecil menyusul. Tersembunyi di antara padang barli, mereka masih terlalu kecil untuk menyeruak di antaranya. Mereka masih terlalu kecil untuk bertanya tentang pohon zaitun yang menjadi saksi harapan terakhir ayah mereka di luar sana, dan pembelaan diri terakhir yang dilakukan ayah mereka untuk mencari jalan pulang. Mereka berpegangan tangan, si kembar yang hanya cukup besar untuk menunjuk bintang pertama yang terbit sebagai pertanda mereka harus pulang.
“Di luar sana, ada padang barli yang indah.” Phainon merangkul ketiganya. Dia menunggu Cyrene yang melangkah lambat untuk menikmati waktu dan semilir angin serta anak keempat yang bergerak-gerak tak sabar di dalam perutnya untuk mendengarkan dongeng sang ayah. “Tetapi, tidak ada yang seindah di rumah.”
