Work Text:
Junghwan menggelengkan kepala ketika melihat adik tingkatnya masuk dengan kaki yang seperti dipaksa dia gerakkan dan bahu yang turun.
"Masih hidup lu?"
"Mati gue, bang," jawabnya sambil menghela nafas berat lalu melemparkan diri di sofa ruang tengah di unit apartemen Junghwan. "Jangan ganggu gue selama lima jam ke depan," lanjutnya, lalu mengambil bantal sofa dan memeluk bantal tersebut.
Junghwan hanya membiarkan temannya itu. Dia kembali melanjutkan kerjaannya di ruang kerjanya. Tetapi sebelum dia masuk ke ruang kerjanya, dia melepaskan jaket yang dipakai Dohoon, lalu merebahkan Dohoon dan menyelimuti Dohoon.
Dohoon bangun belum genap di lima jam kedepan yang tadi dia bilang, dia terbangun karena perutnya membutuhkan asupan. Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali dia makan karena masih banyak yang harus dia kerjakan di kampus. Bahkan jam tidurnya menjadi tidak teratur karena harus mengurus ini dan itu untuk organisasinya. Dohoon kemudian berjalan ke dapur, dia melihat pintu dua kulkas milik Junghwan terbuka dan dia melihat kepala bulat dengan rambut yang diwarnai oren terang sehingga benar-benar membangunkan dirinya.
"Bikinin gue makanan dong, bocil."
Yang dipanggil bocil menoleh ke arah suara. Mulutnya penuh dengan sosis siap saji, yang Dohoon tebak rasa keju, dan tangan kirinya memegang satu kaleng olatte warna pink. "Bwikin swyendiri."
"Telen dulu. Gue enggak denger lo."
"Katanya bikin sendiri." Junghwan di belakangnya datang, kemudian mengambil kaleng olatte pink dari tangan si kepala bulat oren.
"Gue laper." Dohoon mengadu, entah pada siapa karena Dohoon kini seperti debu yang diabaikan. Dua sejoli di depannya sedang bercandaーflirting norakーyang bikin darah di dalam diri Dohoon tiba-tiba mendidih.
Sebelum Dohoon meledak, Junghwan memfokuskan dirinya pada Dohoon, karena dia tau bagaimana Dohoon jika sedang lapar. "Pesen aja lewat online." Junghwan memberikan handphonenya pada Dohoon. "Pesen yang agak banyakan, gue sama Kyungmin belum makan juga," lanjut Junghwan sebelum kembali ke ruang kerjanya.
Kyungmin melingkarkan tangannya di pundak Dohoon, melihat dari belakang pundak Dohoon ke arah handphone pacarnya yang kini menampilkan salah satu restoran yang ingin Dohoon pesan.
"Gue mau bebek, cil. Lo mau apa?"
"Bebek juga. Kak Junghwan ayam bakar. Aku bebeknya dada, ya. Kak Junghwan paha."
"Minumnya mau apa? Eh, tapi ada nasi?"
"Belum dimasak, habis ini dimasak selagi nunggu delivery dateng. Minuman di sini banyak."
"Okay." Setelah memesan makanan, Dohoon kembali merebahkan dirinya pada sofa.
Setelah memasak nasi, Kyungmin kemudian bergabung dengan Dohoon, tetapi dia memilih untuk duduk di bawah dan menyandarkan badannya di sofa. "Udah berapa hari enggak tidur?" tanya Kyungmin. "Bang Dohoon jelek banget, hahaha. Kantong mata abang sampe jatuh ke pipi." Mulutnya memberikan ledekan pada Dohoon, tetapi tangannya mengulurkan pocky rasa matcha ke arah Dohoon. Dohoon menyambar pocky tersebut, lalu memakannya dalam keadaan tiduran.
"Kacau banget, dah. Lo tau enggak, sih? Proker yang udah disiapin mateng-mateng, udah di-acc, tinggal eksekusi aja, malah hancur semua karena orang tua wali murid yang enggak setuju. Langsung bilang ke kaprodi, jadinya kami dikumpulin dan dimarahin. Anjing. Brengsek." Dohoon memaki. Kyungmin hanya mendengarkan sambil memakan pockynya dengan tenang. Dia juga tidak ada niatan untuk memotong atau mengomentari cerita Dohoon, karena dia tau Dohoon pasti butuh teman cerita. "Khawatir anaknya bakal kenapa-kenapa. Bajingan. Anak lo udah gede bukan bayi lagi yang harus dijaga atau digantiin popoknya. Ya, gue juga paham rasa kekhawatiran itu, tapi maksud gue, tuh, ini cuma proker pengabdian masyarakat yang enggak bakal tiba-tiba atraksi debus, bangsat. Tim gue juga udah research tempat, enggak bakal ada apa-apa." Dohoon mengambil paksa semua pocky yang ada di tangan Kyungmin, dalam keadaan sekarang yang sudah duduk, dia memakan pocky tersebut dengan kesal. "Jadinya postponed. Entah sampe kapan."
"Ada juga kasus sebelumnya kayak gitu?"
Dohoon terdiam, memikirkan pertanyaan dari Kyungmin. "Seinget gue, enggak ada cerita dari senior, sih. Emang alay aja itu ortu."
Kyungmin hanya mengangguk-angguk, karena tidak tahu juga harus membalas apa. Sebenarnya Kyungmin hanya tidak ingin berdebat dengan Dohoon, Dohoon yang sekarang hanya membutuhkan teman untuk didengar dan menyetujui apa yang Dohoon katakan. Kyungmin juga tau, bukan hanya karena organisasi saja Dohoon seperti mayat hidup, tetapi tempat magangnya. Tempat magangnya sangat tidak intern friendly alias jobdesk yang di luar kerjaannya dibagikan ke dirinya. Brengsek, bayaran enggak seberapa, tapi ngelakuin kerjaan yang harusnya untuk orang udah 2 tahun berpengalaman.
Dohoon tiba-tiba menggeram dan berteriak. Pemandangan yang biasa Kyungmin liat ketika kakak beda 2 tahun itu sedang capek.
"Makanannya udah dateng?" Junghwan tiba-tiba duduk di ujung sofa sambil memijit pilipisnya. "Gue pusing banget. Klien bangsat, revisi kagak selesai-selesai."
"Belum dateng." Kyungmin menjawab. "Bang Dohoon udah kasih note unit 3/18, 'kan?"
"Udah, cil."
"Kyungmin." Junghwan memanggil pacarnya. Menepuk-nepuk pahanya, mengisyaratkan untuk Kyungmin duduk di pahanya. Ketika Kyungmin sudah duduk dan menyamankan dirinya di paha Junghwan, Junghwan langsung melingkarkan tangannya pada perut Kyungmin dan menenggelamkan wajahnya pada pundak Kyungmin.
Dohoon kemudian mendekatkan dirinya ke arah Junghwan dan Kyungmin, punggungnya dia sandarkan pada Junghwan dan Kyungmin. Kyungmin melirik ke arah Dohoon. "Kita lucu banget."
"Pacaran bertiga kayaknya seru."
"Ogah," sangkal Junghwan dengan cepat perkataan asal Dohoon walaupun wajahnya masih dibenamkan di pundak Kyungmin.
"Posesif banget. Kayak enggak inget aja gue mantan crushnya Kyungmin." Dohoon menaruh api pada bara. Dohoon terkekeh ketika merasakan dorongan di punggungnya, seperti peringatan untuknya atau pelampiasan marah dari Junghwan.
"Mau minum, deh." Junghwan tiba-tiba bergumam.
"Lo punya banyak macam air di kulkas, bang."
"Maksudnya mabok." Kyungmin membuka suara.
Dohoon percaya kalau jodoh emang cerminan diri sendiri. Karena ketika melihat Junghwan dan Kyungmin, mereka seperti mempunyai dunia dan bahasa sendiri yang hanya dimengerti oleh keduanya. Karena kadang-kadang Dohoon tidak mengerti apa yang dikatakan dari salah satu dari mereka, lalu satunya yang akan mengartikan maksudnya.
"Udah lama enggak ke bar Mas Minhyun."
"Lo yang bayar, bang."
"Gas, dah. Gue udah puyeng banget."
"Padahal ada Kyungmin."
"Kalau enggak ada lo, dia udah gue makan."
Kyungmin yang mendengar perkataan Junghwan merasakan darahnya perlahan naik ke wajah dan telinganya.
"Jam 9 kita cabut, gue masih harus ladenin klien." Junghwan beranjak dari duduknya, masih dengan Kyungmin yang menempel pada Junghwan. Kyungmin dengan refleks melingkarkan tangannya di leher Junghwan, Junghwan juga dengan tangan kanannya menahan bokong Kyungmin, sedangkan tangan kirinya menahan pinggang Kyungmin agar tidak jatuh. Kakinya kembali menuju ke ruang kerjanya.
※
Dohoon memilih duduk tepat di depan panggung kecil yang ada di bar, dia butuh hiburan, maka dia ingin menikmati hiburan yang akan ditampilkan di bar itu. Sedangkan Junghwan dan Kyungmin memilih untuk duduk di depan meja island, lebih memilih hiburan memperhatikan bartender yang membuat minuman. Lagi pula, Junghwan sendiri sudah mempunyai hiburan.
"Sendirian?"
Dohoon menoleh ke arah suara. Di depannya berdiri wanita cantik dengan memakai baju off-shoulder berwarna merah yang memperlihatkan tulang selangkanya, leher jenjangnya dihiasi oleh kalung dengan liontin kecil berbentuk seperti tetesan air mata, dan celana panjang jeans berwarna hitam. Di pergelangan tangannya terlihat jam tangan kecil, ditambah dengan gelang yang sedikit kebesaran berwarna emas. Tangan kanan wanita itu memegang segelas cocktail.
"Enggak sendirian, sama teman ke sini. Tapi kalau sekarang, emang sendirian."
Wanita itu tersenyum ketika mendengar jawaban dari Dohoon. "May I?" Tatapan wanita itu tertuju pada kursi kosong di sebelah kiri seberang kursi Dohoon.
Dohoon mengangguk.
Wanita itu mengambil kursi kosong tersebut, menaruh minumannya di atas meja. "Hari ini yang bakal tampil band jazz favorit saya dan pemilik bar."
"Oh, iya?"
"Iya. Vokalisnya cowok manis yang punya suara honey voice yang bikin kamu jatuh cinta dan bikin kamu pengen terus denger dia nyanyi. Bawaan bandnya juga enak. Arrangement dari lagu-lagu yang dibawain juga mantep. Denger-denger si vokalis yang mengaransemen lagunya."
Dohoon mendengarkan wanita itu dengan seksama. Wanita itu seperti paham sekali dengan band jazz itu.
"Do I look like a freak?"
Dohoon cepat menggeleng, "Enggak. Sama sekali enggak. Glad to see you really into to this band."
Wanita itu tersenyum. "Saya jatuh cinta sama suara vokalisnya, makanya saya selalu datang setiap band ini manggung. Sayang banget mereka enggak punya channel atau platform musik untuk didengar. Jadi saya anggap suara dan band ini bener-bener mewah."
Dohoon bukan tipe orang yang peduli pada sesuatu. Maksudnya, jika dia memang tidak tertarik, dia hanya akan menikmatinya saja, tidak sampai ingin mengikuti atau terlalu dalam ingin tahu. Tetapi, saat mendengar wanita di sebelahnya terus bercerita tentang band jazz yang hari ini akan tampil, dia jadi penasaran. Dia juga tipe yang menerima segala jenis genre, jadi dia sangat menantikan hiburan pada malam itu.
※
Wanita itu tidak bohong. Vokalisnya benar-benar laki-laki manis yang mempunyai suara yang manis seperti madu. Yang semakin menjadi perhatian Dohoon adalah postur tubuh si vokalis. Bentuk tubuhnya seperti segitiga terbalik dengan pinggang yang kecil, bisa dilihat dari vest yang memeluk tubuhnya sehingga memperlihatkan bentuk tubuh atasnya. Sialan. Ditambah dengan lengan panjang kemeja putih yang digulung hingga siku, sehingga menunjukkan aura elegan. Kakinya juga panjang. Rambut sang vokalis ditata ke atas sehingga menunjukkan kening. Menambah aura mahal juga elegan. Seperti datang dari dunia lain. Dohoon seketika merasakan insecure, dia melihat pada diri dia sendiri yang hanya memakai swaeter berwarna biru tua yang membalut baju lengan pendek putihnya dan celana jeans berwarna biru muda.
Fuck.
"Kami masih menerima request dari para pengunjung yang terhormat. Jika memang ada lagu yang ingin kami bawakan, bisa maju ke depan dan tulis lagu pada kertas yang ada di meja kecil di sebelah kiri saya, lalu kalian masukkan kertas tersebut pada kotak di sebelahnya. Kami akan bawakan dua lagu dari lagu yang kalian request dan satu lagu penutupan dari kami." Sang vokalis tersenyum. Dohoon terpana pada senyum itu.
Dohoon melangkahkan tungkainya mendekati meja kecil dan menulis lagu yang ingin dia dengarkan dari suara manis vokalis itu. Dohoon ingat lagu yang sering nenek dan kakeknya putar setiap dia datang ke rumah mereka. Lagu itu sangat berarti bagi Dohoon, karena ketika nenek dan kakeknya memainkan lagu itu, mereka mulai mendekat ke arah satu sama lain, dan mulai berdansa. Dohoon merasakan perasaan hangat dan haru ketika melihat nenek dan kakeknya menikmati dansa. Dohoon tiba-tiba jadi merasakan nostalgia, maka Dohoon mulai menulis dan menaruh kertas yang sudah dia lipat di kotak. Dia kembali ke kursinya dan menunggu lagunya dibawakan.
Ternyata yang mengajukan request lagu hanya Dohoon saja. Jadi lagu milik Dohoon yang menjadi penutup dari sesi request lagu malam itu. Entah kenapa Dohoon menjadi sedih dan tidak rela ketika mendengar bahwa lagu dia menjadi lagu terakhir sebelum band tersebut membawakan lagu penutup. Ada rasa ingin terus mendengar suara dari vokalis tersebut. Dohoon menoleh ke arah wanita di sebelah kirinya. Mata wanita itu berbinar, senyumnya tidak luntur, dan beberapa kali menutup matanya ketika mendengar si vokalis bernyanyi. Jadi ini, kah, cinta pada pandangan pertama pada suara?
Dohoon menoleh cepat ketika mendengar piano dimainkan dari lagu yang Dohoon benar-benar hafal di luar kepalanya. Dia menutup mata ketika mendengar vokalis tersebut menyanyikan bait verse pertama dari lagu yang dia request. Dalam pejaman matanya, dia bisa melihat nenek dan kakeknya sedang menatap satu sama lain sambil tersenyum, dan berdansa romantis memutari ruang tengah rumah mereka. Dohoon duduk di atas sofa, melihat dengan saksama nenek dan kakeknya yang mengayunkan badan dan menggerakkan tungkai mereka dengan seirama. Pada saat itu, Dohoon percaya bahwa cinta memang indah.
Dada Dohoon berdetak tidak karuan. Entah karena ingatan tentang nenek dan kakeknya yang berdansa dengan romantis atau karena mendengar suara dari orang yang berdiri di depannya dengan lampu sorot bagaikan hanya ada vokalis itu yang berdiri di tengah panggung. Dohoon membuka matanya. Dia merasakan matanya basah. Satu butiran air mata jatuh pada mata kirinya, dia segera menghapus air mata tersebut dan kembali fokus pada vokalis di depannya.
Dohoon seketika menahan nafas ketika matanya bertemu dengan mata vokalis tersebut yang juga terlihat matanya basah dan yang membuat dada Dohoon semakin berdetak cepat adalah vokalis itu sedang menatap Dohoon. Dohoon tidak tahu arti dari tatapan itu, tapi Dohoon merasakan kalau tatapan itu sama seperti dirinya. Rindu.
※
Shin Junghwan bajingan.
Junghwan dan Kyungmin pulang terlebih dahulu, meninggalkan Dohoon sendirian di bar. Dohoon memaki Junghwan lewat telepon karena telah meninggalkan dirinya sendiri. Dan semakin mengeluarkan kata kasar ketika dia mendengar rintihan di seberang sana. "Bangsat, lo malah enak-enak sedangkan gue di sini ditinggal sendirian."
"Makanya cari pacar biar enggak sendirian."
Anak anjing.
"Gue liat lo lagi asik banget nontonin vokalis manis itu. Karena gue dan Kyungmin temen yang baik, jadi gue biarin lo bersenang-senang. Liat muka lo kayak mayat hidup, jadi enjoy aja di sana. Jangan ganggu gue sama Kyungmin. Nanti bayaran balik lo gue ganti. Janji." Kemudian telepon ditutup sepihak oleh Junghwan, membuat Dohoon semakin mengeluarkan makiannya.
"Hai."
Dohoon menoleh ke arah suara. Dohoon tiba-tiba gugup, orang yang menjadi pemeran utama di atas panggung kecil di bar Mas Minhyun menyapa Dohoon dengan senyuman manisnya. Vest yang tadi dipakai oleh si vokalis sudah dilepas, Dohoon bisa lihat dari bayangan pinggang kecil kemeja putih itu, dan lengan bajunya masih digulung sampai siku.
"Hai." Dohoon balas menyapa dengan canggung. Handphonenya dia cepat masukkan ke dalam kantong.
"Lo yang request I Left My Heart in San Francisco, 'kan?" Ternyata suara keseharian dari vokalis tersebut lumayan dalam. Ternyata wajah si vokalis lebih manis ketika melihat wajah si vokalis dari dekat. Dohoon jadi salah tingkah.
"Iya, gue." Suaranya seperti kaset rusak. Tenggorokannya kering dan dipaksa mengeluarkan suara ketika dia belum siap. Dohoon buru-buru berdeham. "Iya, gue yang request." Dohoon mengulang. Memperbaiki citra dirinya di depan si vokalis manis.
"Thanks udah request lagu itu."
Dohoon hanya tersenyum mengangguk sebagai jawaban, dia tidak tahu harus membalas apa, ditambah lagi dia sedang salah tingkah.
"Karena udah mengingatkan gue sama mantan," tambah si penyanyi.
Entah kenapa bahu Dohoon merosot setelah mendengar tuturan dari orang di depannya. Kemudian Dohoon teringat dengan tatapan si vokalis yang menatap dirinya dengan mata yang berkaca-kaca. "Oh," jawab Dohoon. Suaranya kini berubah dingin.
Dohoon dengar suara tawa dari orang di depannya. Dohoon seketika terpaku, entah karena ofensif dari respon si vokalis atau karena terpana melihat tawa dari orang di depannya. Dohoon tidak tahu.
Tawanya mengudara. Dohoon semakin memperhatikan si vokalis. Giginya gigi kelinci. Dua gigi depan orang itu besar juga lucu. Matanya yang jernih dan besar itu menjadi sipit karena terdorong kedua pipinya. Pipinya tampilkan warna merah alami, menambah nilai cantik dan manis pada tawanya.
Oh my God.
"I'm just kidding. Eh, enggak, deh. Gue enggak bercanda. Emang mengingatkan gue sama mantan, sih. Tapi jangan salah paham, ya. Gue udah move on, cuma... Kayak apa, ya... Gue enggak expect dapet request I Left My Heart in San Francisco."
"Kenapa?"
"Apa, ya... Udah lama banget enggak denger request lagu itu dari orang. Especially, from a young guy like you. Biasanya orang-orang paruh baya yang request lagu itu. Jadi, gue berterima kasih sama lo karena udah minta untuk bawain lagu itu." Cowok itu tersenyum, di mata Dohoon, senyum itu tulus.
"Lo mau minum?" tawar Dohoon.
"Enggak usah. I don't drink alcohol."
"Sayang, di sini bukan cuma ada alkohol aja." Bang Mingyu yang berada di balik meja bar tiba-tiba menimpali sembari dia membuat minuman.
"Betul." Setuju Dohoon. "Gue yang bayar."
"Hooo. Tuh, sayang, bakal dibayarin sama cowok ganteng. Jarang-jarang kamu mau ngobrol sama tamu, loh." Bang Mingyu mengedipkan matanya ke arah sang vokalis.
Si vokalis seperti menimbang. "Strawberry jus aja, bang."
"Cemen. Alkohol, dong! Alkohol buatan gue, 'kan, enak. Iya enggak?" Kini Bang Mingyu fokus ke Dohoon. Dohoon jawab dengan anggukan.
"Gue enggak minum alkohol, bang."
"Iya, iya, gue tahu. Sebentar, ya, gue bikinin dulu pesenan lo." Lalu Bang Mingyu menghilang dari pandangan Dohoon dan si vokalis.
Dohoon menoleh ke arah si vokalis, kemudian membuka suaranya. "It hurts you, isn't? Mengenang mantan." Dohoon mengambil mojito di depannya.
Cowok itu balas tertawa. "No. It doesn't hurt that much. Kami putus baik-baik, kok. That song was introduced by him, dia yang memperkenalkan gue ke jazz. Jadi, lagu itu bakal selalu menghantui gue tentang dia." Sang vokalis menatap Dohoon dengan senyumnya yang manis; seakan menenangkan Dohoon agar tidak merasa bersalah. "Sama kayak lo atau orang lain yang punya kenangan sesuatu; entah barang atau tempat, dengan orang yang pernah atau sedang lo sayangi dan itu membekas di diri lo. Jadi, it is special for me. Also, don't worry, I'm clearly moving on. You don't have to be feel that bad."
Rasa bersalah yang Dohoon rasakan perlahan menghilang. "Oh, baguslah. Tapi baik-baik aja seharusnya enggak putus." Dohoon tersentak dengan apa yang diucapnya. "Sorry, enggak seharusnya gue kepo."
"Bukan masalah, kok. Kami beda pandangan aja, jadi berhenti sebelum kami berdua tersakiti semakin dalam." Si vokalis kemudian berterima kasih kepada Bang Mingyu yang menaruh minuman yang dia pesan di depannya.
"Oh. Is it okay? Maksudnya lo banyak omong."
"Oh, am I bothering you?"
"No, not at all. Cuma... Emang lo enggak masalah sharing ke stranger?"
"Stranger?"
Dohoon mengangguk. "Iya, gue, 'kan, stranger. Kita baru aja ketemu pertama kali. Tapi, you don't have to worry. Karena rahasia lo tersimpan sama gue." Dohoon mengangkat jari kelingkingnya, seperti merapalkan janji.
Lagi-lagi penyanyi jazz itu tertawa. "Yaudah gini, deh. Biar enggak jadi stranger, dan gue juga mau tau lebih banyak tentang lo. Gue masih penasaran sama kenapa lo milih lagu itu dari banyaknya lagu yang ada."
Dohoon seketika menegang, otaknya tiba-tiba berhenti berfungsi, desiran darah di dalam tubuhnya tiba-tiba bekerja dengan keras sehingga membuat seluruh tubuhnya panas.
Oh my God!
"Also, why you cried. Pengen denger cerita dari lo. Boleh?"
Dohoon salah tingkah, lidahnya kelu tidak tahu harus mengeluarkan kata apa. Yang dia tebak dengan pasti, wajahnya memerah hingga telinga. Fuck!
"Nama gue Dohoon."
"Nama gue Youngjae. Jadi, Dohoon, tell me your story."
